
ejogja.ID | Di tengah hiruk-pikuk Queens, New York, seorang lelaki berusia tiga puluh empat tahun berdiri di balkon gedung City Hall. Ia menatap cakrawala Manhattan yang penuh kilau lampu, seolah memantulkan mimpi jutaan imigran yang datang mencari hidup lebih baik. Namanya Zohran Kwame Mamdani — anak imigran yang kini menjadi Wali Kota New York (The Guardian, 2025).
Kisahnya tidak bermula dari Wall Street, melainkan di Kampala, Uganda, tempat ia lahir pada 18 Oktober 1991. Di sana, dunia masih sederhana, tapi penuh cerita kolonialisme dan perlawanan yang kelak membentuk cara pandangnya tentang keadilan sosial.
Jangan Lewati: Belajar Kembali pada Buku
Ayahnya, Mahmood Mamdani, terkenal sebagai intelektual dunia asal Uganda keturunan India, penulis Citizen and Subject dan When Victims Become Killers. Ibunya, Mira Nair, sutradara film internasional peraih penghargaan di Venice dan Cannes lewat Monsoon Wedding dan Salaam Bombay! (India Today, 2025). Dari keduanya, Zohran tumbuh dalam rumah yang penuh buku, dialog, dan perdebatan hangat — tempat di mana politik dan seni bertemu dalam satu napas: kemanusiaan.
Anak Imigran di Negeri Superpower
Saat berusia tujuh tahun, Zohran pindah ke New York bersama keluarganya. Di kota yang disebut melting pot of the world, ia merasakan langsung arti menjadi the other. Bahasa, warna kulit, dan nama yang terdengar asing membuatnya cepat belajar: identitas bukan hal yang bisa disembunyikan, tapi harus diperjuangkan.
Ia menempuh pendidikan di Bowdoin College, jurusan Africana Studies, bidang yang menggabungkan sejarah, politik, dan budaya masyarakat kulit hitam Afrika serta diaspora. Pilihan studinya bukan kebetulan. Ia ingin memahami akar ketidakadilan yang selama ini hanya ia dengar dari kisah ayahnya dan film-film ibunya.
Jangan Lewati: Senator Gus Hilmy Desak Presiden Ambil Peran Nyata di Krisis Kemanusiaan Sudan
Usai lulus, Zohran tidak memilih karier bergengsi di perusahaan atau lembaga konsultan. Ia justru terjun menjadi community organizer di Queens, mengorganisir warga untuk menuntut keadilan perumahan, menolak penggusuran, dan memperjuangkan hak-hak pekerja imigran (New York State Assembly, 2022). Di sinilah ia menemukan panggilan sejatinya: politik dari bawah, bukan dari istana.
Dari Aktivisme ke Politik
Pada 2020, di usia 29 tahun, Zohran mencalonkan diri sebagai anggota New York State Assembly untuk Distrik 36 (Astoria, Queens). Ia maju sebagai kandidat Democratic Socialist, melawan petahana yang sudah lama berkuasa. Kampanyenya sederhana tapi kuat: Housing is a human right.
Ia turun dari rumah ke rumah, berbicara dengan warga dalam bahasa Inggris, Arab, dan Spanyol. Tanpa dukungan finansial besar, tapi dengan dukungan komunitas, Zohran menang telak. Sebagai anggota legislatif muda, ia memperjuangkan kebijakan progresif:
- Transportasi publik gratis bagi warga berpenghasilan rendah,
- Perumahan publik tanpa diskriminasi,
- Energi bersih yang adil secara sosial (ABC News, 2025).
Langkah-langkahnya sering menimbulkan resistensi dari elite politik lama, tetapi justru menguatkan posisinya sebagai suara generasi baru. Generasi yang menuntut agar politik tidak lagi hanya tentang kekuasaan, melainkan tentang kesejahteraan.
Wajah Baru City Hall
Empat tahun kemudian, dengan dukungan kaum muda, aktivis iklim, pekerja multibahasa, dan komunitas Muslim, Zohran mengambil langkah besar: mencalonkan diri sebagai Wali Kota New York.
Banyak yang menertawakan langkah itu. Tapi di era media sosial dan politik berbasis komunitas, suara akar rumput jauh lebih kuat dari yang dikira. Dengan kampanye digital yang segar, forum warga yang terbuka, dan visi kota berkeadilan, Zohran berhasil mengalahkan mantan Gubernur Andrew Cuomo dalam pemilu November 2025 (The Guardian, 2025).
Jangan Lewati: Refleksi, Evaluasi, dan Regenerasi: Musyawarah Tahunan LPDP UNS 2024/2025 Tegaskan Semangat Kolektif Awardee
Kemenangannya bukan sekadar politik, tapi sejarah. Ia menjadi Wali Kota Muslim pertama sekaligus orang Asia Selatan pertama yang memimpin kota terbesar di Amerika Serikat (India Today, 2025).
Dalam pidato pelantikannya, ia menegaskan: Kita tidak datang ke sini untuk sekadar dilihat sebagai simbol, tapi untuk memastikan bahwa setiap warga — apa pun asalnya — punya tempat di kota ini. (The National News, 2025)
Politik yang Empatik
Berbeda dari banyak politisi yang berbicara lewat naskah, Zohran sering berbicara dari hati. Ia memakai pakaian sederhana, sesekali naik kereta bawah tanah tanpa pengawal, dan aktif berdialog lewat media sosial dengan gaya santai tapi tajam (ABC News, 2025).
Bagi banyak anak muda New York, Zohran bukan sekadar pemimpin, tapi proof of possibility — bukti bahwa idealisme bisa hidup dalam politik. Ia membawa kesadaran baru: keberagaman bukan beban, melainkan sumber kekuatan.
Kebijakannya tidak selalu populer, tapi selalu berpihak pada kelompok rentan. Ia mendorong redistribusi anggaran untuk pendidikan publik, layanan kesehatan komunitas, dan program perlindungan iklim berbasis warga.
Politik sebagai Ruang Perubahan
Kisah Zohran Mamdani adalah potret generasi baru politik dunia: anak imigran, aktivis, dan pemimpi yang menolak menyerah pada sistem lama. Ia lahir di Afrika, tumbuh di Amerika, dan membawa nilai-nilai universal tentang keadilan sosial ke dalam praktik politik nyata. Dalam dirinya, globalisme menemukan wajah manusiawi — tidak elitis, tidak abstrak, tapi hadir di ruang publik tempat warga biasa berjuang setiap hari.
Jangan Lewati: Sumpah Bergerak
Bagi kita, Zohran adalah contoh bahwa politik bukan hanya untuk yang berkuasa, tapi juga bagi mereka yang mau mendengarkan, bekerja bersama, dan mencipta ruang perubahan. Di dunia yang makin terpolarisasi, ia mengingatkan bahwa keberanian terbesar bukanlah melawan musuh, tapi mendengarkan mereka yang tak pernah didengar.
Dari Kampala ke Queens, dari aktivisme ke City Hall, perjalanan Zohran Mamdani adalah kisah tentang iman terhadap kemungkinan. Bahwa anak imigran pun bisa menulis ulang peta kekuasaan. Bahwa idealisme bisa menjadi alat praktis untuk membangun dunia yang lebih adil. Dan bahwa, pada akhirnya, politik yang paling kuat adalah yang lahir dari empati.
Mau ngiklan di ejogja.ID? Klik: Pasang Iklan



















