Tongkat Musa

Literasi, Serat3638 Dilihat
tongkat musa
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Tongkat —tanpa menafikan ragam fungsinya— di tangan Musa menjelma sebagai penopang, pengarah, bahkan ular. Dari simbol tongkat, kita belajar bahwa manusia tak kuasa hidup sendiri; ia membutuhkan yang lain. Namun pada saat tertentu, relasi itu bisa berubah mengerikan ketika manusia menjelma “ular” bagi sesamanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat bagaimana masyarakat masih berupaya bergotong-royong menghadapi berbagai persoalan. Dari tekanan ekonomi hingga kebijakan pendidikan yang terus berubah. Keriangan tetap diupayakan, meski jarak sosial, ekonomi, dan akses pendidikan makin terasa. Di sinilah tongkat sebagai penopang menemukan maknanya: saling membantu untuk sampai pada tujuan bersama.

Tongkat membantu tuannya berjalan. Tuan merawat tongkatnya agar tetap kokoh. Relasi ini bisa kita analogikan dengan rakyat dan pemerintah. Rakyat sebagai penopang, pemerintah sebagai pengarah. Pertanyaannya: masihkah keduanya saling menguatkan?

Kerap Timpang

Dalam praktiknya, relasi itu kerap timpang. Rakyat dituntut patuh. Manut pada berbagai kebijakan, termasuk dalam dunia pendidikan: kurikulum yang berganti, beban administratif dosen dan guru, hingga ketimpangan akses belajar. Di sisi lain, pemerintah seharusnya hadir sebagai pengelola yang bertanggung jawab, bukan sekadar pengendali. Ia berdiri karena “bertelekan” pada rakyat. Rakyat setia membayar pajak, mempercayakan masa depan anak-anaknya pada sistem pendidikan, dan terus berharap pada keadilan.

Di titik ini, kita bisa mengingat pandangan Thomas Hobbes yang melihat negara sebagai kekuatan besar penjaga ketertiban. Kepatuhan menjadi syarat stabilitas. Namun, ketika kekuasaan terlalu dominan, tongkat berisiko berubah menjadi alat tekan. Bukan telekan.

Sebaliknya, Jean-Jacques Rousseau menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Pemerintah hanyalah pelaksana kehendak umum. Dalam perspektif ini, tongkat sepenuhnya milik tuan dan tuan berhak menentukan arah.

Michel Foucault mengingatkan kita, bahwa kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar atau terlihat. Ia bekerja halus, menyusup melalui sistem, bahasa, bahkan kebijakan pendidikan. Kurikulum, standar evaluasi, hingga beban administratif bukan sekadar teknis, tetapi juga cara kekuasaan mengatur cara berpikir dan bertindak.

Dengan kata lain, tongkat tidak selalu tampak sebagai tongkat. Ia bisa hadir dalam aturan yang dianggap wajar, dalam kepatuhan yang tidak lagi dipertanyakan.

Namun mari kita balik analoginya. Pemerintah adalah tongkat. Rakyat adalah tuan. Rakyat adalah subjek yang akil. Pelaku memiliki nalar dan hak menentukan arah. Pemerintah hanyalah alat, bukan tujuan. Jika tongkat melenceng dari jalan tuannya, maka wajar bila sang tuan mengoreksi, bahkan mengendalikan kembali arah langkahnya. Di sinilah partisipasi publik menjadi penting. Bukan sekadar formalitas, melainkan kontrol nyata.

Masalah muncul ketika tongkat tak lagi menjadi penopang, dan tuan tak lagi merasa memiliki. Ketika keduanya berubah menjadi “ular”.

Ular adalah simbol bahaya. Ia bisa bergerak tanpa kendali, menyimpan bisa, dan menyerang ketika ada celah. Dalam keseharian kita, “ular” bisa menjelma dalam kebijakan yang abai pada realitas pendidikan, atau dalam sikap masyarakat yang apatis dan mudah terpecah. Ketika pemerintah berjalan tanpa mendengar, dan rakyat bersuara tanpa arah, keduanya sama-sama berpotensi menjadi ancaman.

Jika pemerintah menjelma ular, rakyat menjadi korban dari kebijakan yang tak berpihak. Jika rakyat menjelma ular, sistem akan lumpuh oleh ketidakpercayaan dan kegaduhan. Keduanya sama-sama berbahaya. Maka refleksi tongkat ini penting: apakah kita masih menjadi penopang satu sama lain, atau justru saling melukai?

Tongkat seharusnya menuntun tuan menuju jalan yang lurus, menuju kemanusiaan yang adil dan beradab, menuju persatuan, dan keadilan sosial. Dalam hal pendidikan, itu berarti kebijakan yang berpihak pada peserta didik dan pendidik, serta masyarakat yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab.

Pertanyaannya kembali kepada kita: apakah kita masih merawat tongkat, atau malah diam-diam sedang memelihara ular?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan