Tiga Bulan Pertama Jadi Masa Kritis, Sekolah Rakyat Kulon Progo Bentuk Kemandirian Siswa Sejak Hari Pertama

Kabar, Kulon Progo455 Dilihat
Tiga Bulan Pertama Jadi Masa Kritis, Sekolah Rakyat Kulon Progo Bentuk Kemandirian Siswa Sejak Hari Pertama
Foto: Suasanan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kulon Progo DIY

ejogja.ID | Kulon Progo – Suasana baru menyelimuti Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kulon Progo, Jumat (31/7/2026). Hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) bukan sekadar menandai dimulainya tahun ajaran baru, tetapi juga menjadi awal kehidupan baru bagi para siswa yang akan tinggal di asrama.

Sejak hari pertama, sekolah mengenalkan ritme kehidupan yang berbeda dari lingkungan rumah. Sekolah membatasi penggunaan gawai, menyusun aktivitas harian secara terjadwal, serta mewajibkan seluruh siswa tinggal di lingkungan sekolah. Melalui masa transisi ini, sekolah berupaya membentuk karakter sekaligus menumbuhkan kemandirian para siswa.

Jangan Lewati: Loker Guru Bimbl Bantul Yogyakarta

Melansir Radar Jogja, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah SR Terintegrasi 1 Kulon Progo, Agus Ristanto, mengatakan tiga bulan pertama menjadi fase yang paling menentukan. Selama MPLS hingga matrikulasi, sekolah memusatkan perhatian pada pembentukan kebiasaan baru bagi seluruh siswa.

“Tiga bulan awal masuk merupakan masa kritis karena siswa masih dalam tahap pembiasaan,” kata Agus.

Menurut Agus, guru pembimbing asrama mendampingi seluruh aktivitas siswa selama tinggal di asrama. Para guru mengatur jadwal harian, mulai dari bangun pagi, mengikuti pembelajaran, hingga waktu beristirahat. Mereka juga melatih siswa memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri, seperti mandi dan mencuci pakaian.

Meski demikian, Agus mengakui proses adaptasi tidak selalu berjalan mulus. Sebagian siswa masih membawa kebiasaan dari rumah sehingga berpotensi melanggar tata tertib. Karena itu, sekolah memberikan pendampingan secara intensif agar siswa mampu menyesuaikan diri secara bertahap.

“Di sekolah ini sudah memiliki banyak SOP, sama seperti Sekolah Rakyat rintisan,” ujarnya.

Sekolah juga melarang siswa meninggalkan kawasan sekolah tanpa izin khusus. Melalui aturan tersebut, sekolah menjaga aktivitas siswa tetap berada dalam pengawasan guru sehingga pergaulan maupun kegiatan mereka di luar sekolah tetap terkendali.

Jangan Lewati: Rebo Pahing Jadi Ikhtiar Bersama, IIQ An Nur Mantapkan Langkah Lewat Doa dan Sarasehan

Meski demikian, Kementerian Sosial tetap menyiapkan mekanisme kepulangan siswa pada waktu tertentu setiap semester.

Sekolah juga membatasi penggunaan telepon genggam. Wali asrama menyimpan handphone milik siswa dan mengizinkan penggunaannya sesuai jadwal, yakni sekali dalam sepekan. Di luar jadwal tersebut, siswa yang ingin menghubungi orang tua dapat meminjam telepon milik wali asrama.

“Kalau siswa ingin mengabari orang tua, bisa meminjam handphone kepada wali asrama,” jelas Agus.

Agus menegaskan, sekolah tidak menerapkan pembatasan penggunaan gawai untuk memutus komunikasi antara anak dan keluarga. Sebaliknya, sekolah tetap membuka kesempatan bagi orang tua untuk menjenguk putra-putrinya tanpa jadwal kunjungan yang kaku.

Di sisi lain, para orang tua mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan baru anak-anak mereka. Tri Mulyani, warga Lendah, mengaku mantap melepas anaknya menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Kulon Progo.

Nikmati: Ada Spasinya

Menurut Tri, keputusan tinggal di asrama bukan persoalan besar karena sang anak sejak awal memang ingin bersekolah di sana. Keyakinannya semakin kuat setelah melihat langsung fasilitas asrama.

“Sudah cek, asramanya bagus,” tuturnya.

Dalam beberapa bulan ke depan, Tri berencana rutin menjenguk anaknya. Ia ingin memastikan kondisi sang anak tetap baik sekaligus memberikan dukungan moral agar mampu menjalani kehidupan asrama yang menuntut disiplin dan kemandirian. [nw]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *