
ejogja.ID | Kulon Progo — Bagi Amalia, makan siang di sekolah kini tak lagi menghadirkan rasa antusias. Setiap kali petugas membagikan kotak Makan Bergizi Gratis (MBG), yang muncul justru ingatan tentang sakit perut hebat dan bolak-balik ke kamar mandi.
Siswi kelas IX SMPN 3 Wates itu mengaku dua kali mengalami gejala yang kemungkinan besar keracunan setelah menyantap menu MBG. Peristiwa pertama ia alami pada Juli 2025, sedangkan kejadian serupa kembali menimpanya pada Juli 2026. Pengalaman itu membuatnya trauma dan enggan lagi menyantap makanan dari program tersebut.
“Ini sudah dua kali. Rasanya sakit perut, lalu diare sampai bolak-balik ke kamar mandi,” ujar Amalia, Selasa (21/7/2026).
Jangan Lewati: Makan Racun
Amalia menceritakan, gejala mulai muncul setelah ia pulang sekolah pada Senin (20/7/2026). Selama berada di sekolah, ia hanya menyantap menu MBG yang terdiri atas nasi, daging ayam, sayur, dan buah anggur.
Setibanya di rumah, ia mulai merasakan nyeri perut. Menjelang malam, nyeri itu berubah menjadi diare yang memaksanya berkali-kali ke kamar mandi. Hingga keesokan paginya, kondisinya belum juga membaik.
Meski sempat berniat tidak masuk sekolah, Amalia akhirnya tetap berangkat. Namun selama mengikuti pelajaran, ia sulit berkonsentrasi karena berkali-kali harus keluar kelas untuk menuju kamar mandi.
Menurut Amalia, bukan hanya dirinya yang mengalami keluhan tersebut. Sejumlah temannya juga merasakan gejala serupa sehingga mereka sempat mengantre di kamar mandi sekolah.
Ia mengaku mulai mencurigai salah satu lauk yang tersaji dalam menu MBG. “Kemarin ada daging ayam yang kurang matang,” katanya.
Jangan Lewati: SPPG Sumberejo Ditutup, Imbas Kasus Keracunan Pelajar di Semin
Selain itu, Amalia menilai makanan yang ia terima sudah dalam kondisi dingin dan rasanya kurang sesuai dengan seleranya. Karena menganggap ayam barbeku itu belum matang sempurna, ia memilih tidak menghabiskan seluruh porsi makanannya.
Pengalaman yang berulang selama dua tahun berturut-turut meninggalkan kesan mendalam bagi Amalia. Baginya, rasa sakit akibat dugaan keracunan jauh lebih membekas daripada manfaat makan siang gratis yang ia terima.
Jika memiliki pilihan, Amalia mengaku lebih setuju apabila pemerintah memberikan nilai bantuan makanan dalam bentuk uang sehingga orang tuanya dapat menyiapkan bekal dari rumah.
“Kalau bisa diuangkan saja. Biar orang tua bisa masak bekal sendiri,” ujarnya.
Sebelumnya, ratusan siswa SMPN 3 Wates mengalami gejala gangguan pencernaan setelah menyantap menu MBG. Sebanyak 27 siswa sempat menjalani perawatan di Puskesmas Wates. Hingga kini, pihak berwenang masih menelusuri penyebab pasti kejadian tersebut. [an]




















