Menyembuhkan Sang Penyembuh: Tenaga Kesehatan Kita Kehilangan Empati 

Literasi, Opini176 Dilihat
Menyembuhkan Sang Penyembuh Ketika Tenaga Kesehatan Kita Kehilangan Empati
Foto: Ilustrasi Menyembuhkan Sang Penyembuh

Apa yang akan terjadi jika seorang dokter berhenti melihat pasiennya sebagai manusia? Bagaimana jika seorang perawat tidak lagi bisa merasakan emosi? Atau seorang dokter gigi yang tidak bisa tersenyum?

Kesehatan mental tenaga kesehatan merupakan isu yang sangat serius. Tuntutan untuk terus hadir bagi pasien, jam kerja yang panjang dan tidak tentu, serta kurangnya penghargaan membentuk suasana kerja terkadang tidak manusiawi. Banyak tenaga kesehatan (nakes) yang nyaris tidak bisa bercengkrama dengan keluarga mereka, bahkan tidak punya cukup tenaga untuk merawat dirinya sendiri. Namun di depan pasien, mereka akan tetap tersenyum, tetap melayani seakan tidak ada yang salah.

Jangan Lewati: Misteri Tubuh Separuh

Dr. Jessi Gold, psikiater dan Kepala Bagian Kesehatan dan Kesejahteraan Sistem Universitas Tennessee, pada sebuah podcast menyampaikan pendapatnya mengenai fenomena depersonalisasi pada nakes. Burnout pada nakes seringkali ditandai dengan depersonalisasi, yaitu kondisi ketika seseorang menjadi berjarak dari emosinya sebagai cara untuk melindungi diri dari trauma dan tekanan yang mereka hadapi setiap hari. 

Dr. Jessi menceritakan mengenai koleganya. Pada suatu makan malam bersama keluarganya, kolega tersebut menceritakan tentang kejadian di tempatnya bekerja, di mana satu keluarga meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Keluarga sang kolega yang sedang makan sontak berhenti makan, bahkan anak-anak yang duduk di meja mulai menangis. Namun kolega dr. Jessi mengatakan bahwa ia tetap melanjutkan makan. Baginya, kematian merupakan hal biasa yang ia temui setiap hari di tempat kerja, sehingga ia berhenti menganggapnya sebagai hal besar. 

Kolega dr. Jessi hanyalah satu dari sekian banyaknya nakes yang terdampak oleh depersonalisasi. Jika dibiarkan, depersonalisasi dapat berubah menjadi disosiasi, yaitu keadaan dimana seseorang tidak lagi terhubung secara emosional dengan lingkungan sekitar. Seorang tenaga kesehatan dapat kehilangan empati pada pasiennya, dan pada dirinya sendiri. 

Jangan Lewati: Cabul Intelektual

Penelitian oleh dr. Padmini Ranasinghe dari Universitas John Hopkins menemukan bahwa gejala-gejala burnout, yaitu kelelahan emosional, depersonalisasi, menurunnya rasa pencapaian diri, serta gejala depresi sudah muncul bahkan sebelum masa kerja. Penelitian dr. Padmini berlangsung selama 4 tahun dan menghasilkan data yang mengkhawatirkan. Terjadi kenaikan gejala burnout sejak seseorang memasuki pendidikan kedokteran, dan gejala-gejala tersebut bertahan bahkan setelah kelulusan. Temuan gejala depresi pada dokter residen (dokter yang menempuh pendidikan spesialis) mencapai 28,8%, yang berarti sekitar  3 dari 10 residen mengalami depresi. Selain itu, 1 dari 2 dokter pada awal kariernya mengalami burnout dan 40% mengalami gejala depresi. 

Tentunya wajar saja jika seseorang mengalami kelelahan ketika menghadapi beban kerja berat dan trauma setiap harinya. Namun yang berbahaya adalah jika burnout mempengaruhi kinerja seorang tenaga kesehatan, sehingga berakibat fatal. Banyak studi menunjukkan bahwa nakes yang mengalami burnout cenderung tidak dapat memberikan pelayanan yang maksimal bagi pasien.

Apakah seorang nakes bisa mendapatkan layanan kesehatan dengan mudah? Jawabannya adalah tidak selalu. Meskipun bekerja di rumah sakit atau klinik, nakes tidak selalu punya waktu untuk berkonsultasi. Terutama untuk kesehatan mental, karena membutuhkan waktu konsultasi yang tidak sebentar. Bukankah miris? Mereka yang selalu melayani dan mengobati, tidak memiliki kesempatan untuk mengobati dirinya sendiri.

Jangan Lewati: Bukan Ijazah Palsu, Nama Besar UGM Tercoreng Skandal Stem Cell Ilegal di Magelang

Tidak seharusnya kita membebankan segalanya pada individu. Perubahan harus dilakukan secara struktural. Daripada mengharuskan nakes untuk berobat, seharusnya diciptakan suasana kerja yang mendukung kesehatan mental dan kinerja mereka. Hanya karena sudah terbiasa, bukan berarti seorang nakes harus terus menerus bekerja dalam kondisi yang tidak optimal. 

Tentunya akan sulit untuk melakukan perubahan secara total. Penelitian dr. Padmini menunjukkan bahwa burnout terjadi semenjak masa kuliah. Mengambil contoh pendidikan dokter, para mahasiswa seperti ditekan untuk belajar secepat mungkin. Selain menyebabkan burnout, hal ini juga menyulitkan mahasiswa untuk benar-benar memahami materi yang diberikan. Para mahasiswa terfokus untuk mengejar waktu, sehingga tidak dapat mendalami materi yang mereka inginkan. Tekanan ini berlanjut ketika koas, internship, bahkan residensi. Tidak jarang pula adanya senioritas dan perundungan yang menyertai masa belajar, memperparah kondisi. 

Situasi kerja di setiap klinik dan rumah sakit tentu berbeda satu dengan lainnya. Namun secara umum, jam kerja yang padat, tuntutan birokrasi dan administrasi, ketidaksesuaian nilai individu dan organisasi, hilangnya makna dalam pekerjaan, serta kurangnya dukungan struktural menjadi alasan utama terjadinya burnout pada tenaga kesehatan. Banyak rumah sakit daerah yang sangat kekurangan staf jika dibandingkan dengan volume pasien per hari, sehingga menuntut staf untuk bekerja lebih.

Jangan Lewati: Dari Warung Soto ke Gerbang UGM: Anyndha Taklukkan Batas dengan Tekad

Sudah sepatutnya para tenaga kesehatan dilindungi, baik secara mental, fisik, maupun finansial. Aturan tegas butuh ditetapkan mengenai batas aman jam kerja nakes dan kewajiban untuk istirahat. Bukan hanya micro break, namun istirahat yang mencukupi. Upah harus distandarkan, supaya nakes tidak butuh bekerja di banyak tempat sekaligus hanya untuk mencukupi kebutuhannya. Jika dua hal tersebut dapat berjalan, maka kondisi kerja para nakes akan jauh lebih layak. Selain itu, dapat pula disediakan layanan kesehatan mental yang khusus untuk nakes. 

Para penyembuh kita juga manusia biasa. Dibalik seragam yang rapi dan aroma antiseptik, adalah seorang pribadi altruistik yang berjuang sekuat tenaganya setiap hari. Mereka juga lelah, juga ingin pulang, ingin bertemu keluarga. Sudah waktunya kita sembuhkan sistem yang sakit ini, sebelum semakin banyak tenaga kesehatan yang patah akibat lelah. 

Intan Veda Adiwena, S.Ked,  Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *