Menjadi “Ateis” Islami: Teologi Negatif Ibn ‘Arabī sebagai Sintesa Ateisme dan Tauhid Sunni

Esai, Literasi864 Dilihat
Menjadi "Ateis” Islami: Teologi Negatif Ibn 'Arabī sebagai Sintesa Ateisme dan Tauhid Sunni
Foto: Istimewa

Aldi Hidayat

Pengantar

Iman dan ingkar adalah dua kutub yang berlawanan. Namun, apa jadinya jika mengingkari Tuhan dalam rangka beriman? Bisakah mengimani Tuhan dengan cara mengingkari-Nya? Mengacu pada diskursus ilmu kalam, tentu ini mustahil adanya. Akan tetapi, ini bukan sesuatu yang mustahil. Mengingkari Tuhan dalam rangka beriman adalah kemungkinan yang selama ini dianggap kemustahilan. Ia adalah benar yang didiamkan. Menganggapnya mustahil adalah salah yang dimaklumkan. Bagaimana perihal demikian? Berikut penulis akan mengangkat tokoh Ibn ‘Arabī sebagai lokus perjumpaan antara teologi negatif yang digagasnya dengan ateisme dan tauhid Sunni.

Biografi Spiritual Ibnu ‘Arabi

Ibn ‘Arabī bernama lengkap Muḥammad ibn ‘Alī ibn Muḥammad ibn ‘Arabī al-Ṭā’ī. Ia lahir di Mursin, Andalusia (kini Spanyol) bagian utara, 17 Ramadhan 560 H yang bertepatan dengan 28 Juli 1165 M. Tahun kelahirannya bertepatan dengan tahun wafatnya Syekh ‘Abd al-Qadīr al-Jaylānī, sang raja para wali (sulṭān al-awliyā’) di masanya. Karena itu, ada spekulasi bahwa Ibn ‘Arabī akan menggantikan kewalian al-Jaylānī.

Ibn ‘Arabī lahir dari keluarga bangsawan. Ayahnya, ‘Alī adalah pejabat tinggi istana al-Muwaḥḥidūn yang secara berturut-turut menjadi orang kepercayaan istana, terhitung dari masa Abū Yūsuf Ya’qūb dan al-Mu’min III. Dari pihak ibu, Ibn ‘Arabī punya paman bernama Yaḥyā ibn Yughān al-Ṣanhajī, penguasa Tlemcen.

Meskipun lahir dari keluarga bangsawan, Ibn ‘Arabī memilih jalan sufi; pilihan yang bertolak belakang dengan dunia bangsawan yang identik dengan kemegahan dan kemewahan. Tapak tilas jalan sufinya, khususnya yang berkenaan dengan teologi negatif akan penulis paparkan sebagai berikut.

Jangan Lewati: Blueprint Dekolonialisasi Islam: Preskripsi Cara Kerja General

Pertama, momen pertobatan. Ibn ‘Arabī menceritakan bahwa saat usianya baru 20 tahunan, dia pernah semalam suntuk menari-nari sambil mendengar musik. Usai itu, dia berwudhu’, sebab adzan Subuh sebentar lagi berkumandang. Awalnya, dia ingin shalat di rumahnya saja. Akan tetapi, tiba-tiba ada kemauan keras untuk ke masjid. Dalam pada itu, dia memikirkan dua kemungkinan; apakah di masjid dia akan khusyuk melaksanakan shalat atau kantuk seketika menyergap? Yang terjadi adalah kemungkinan kedua, di mana ia merasa kantuk dan ingin lekas-lekas menuntaskan shalat. Sayangnya, si imam membaca surat yang panjang, yaitu surat al-Ḥasyr dan al-Wāqi’ah. Dia menggerutu dalam hati; mengapa si imam tidak membaca surat-surat pendek saja? Bukankah Nabi Saw menganjurkan demikian? (’Arabī, n.d.-b, pp. 56–57)

Kedua, Ibn ‘Arabi ketika muda sudah mengalami perjumpaan spiritual dengan Tuhan. Perjumpaannya itu kemudian menjadi viral di kalangan masyarakat sekitar. Berita itu pun sampai ke telinga Ibn Rusyd, hakim Andalusia saat itu. Ibn Rusyd, sang filsuf ini adalah sahabat ayah Ibn ‘Arabī. Tak heran, dia kemudian mengundang Ibn ‘Arabī untuk menceritakan pengalaman spiritualnya tersebut. Sesampainya di istana, Ibn Rusyd menyambut Ibn ‘Arabī dengan pelukan. Ibn ‘Arabī langsung bilang, “Ya”. Ibn Rusyd tampak bahagia atas jawaban itu. Tak berselang lama, Ibn ‘Arabī menambahkan, “Tidak”. Ibn Rusyd tampak gusar. Ibn Rusyd lalu bertanya, “Apakah Tuhan yang kau jumpai itu sama dengan Tuhan yang dipersepsikan oleh pemikiran kami yang spekulatif selama ini?” Ibn ‘Arabī menjawab, “Ya dan tidak. Antara ya dan tidak, jiwa meninggalkan jasadnya dan leher terpisah dari badan”. Seketika Ibn Rusyd gemetar lalu berucap lā ḥawla wa quwwata illa billāh (tak ada daya dan upaya kecuali karena Allah) (’Arabī, n.d.-b, p. 69).

Jangan Lewati: Banjir Serakah

Momen kedua ini adalah titik tolak pengalaman batin Ibn ‘Arabī yang kemudian ia tuangkan menjadi wacana ketuhanan yang negatif. Bagaimana wacana ketuhanannya, sehingga berlabel negatif? Sebelum menjawabnya, terlebih dahulu penulis paparkan apa itu teologi negatif.

 

Aldi Hidayat, Dosen Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *