
ejogja.ID | Jogja – Transformasi digital kini merambah tata kelola masjid Nahdlatul Ulama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Langkah itu ditandai dengan peluncuran Buku Panduan Manajemen Masjid NU, website Data Masjid NU (DAMANU), dan Workshop Crowdfunding Masjid Berbasis Digital. Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (LTMNU DIY) menggelar kegiatan tersebut pada Sabtu (1/8) di Aula DPD RI Perwakilan DIY.
Jangan Lewati: Sebelum Fakta
Sejumlah tokoh hadir dalam peluncuran itu. Di antaranya Wakil Ketua LTM PBNU KH. Munawar Fuad Noeh, Anggota DPD RI DIY KH. Hilmy Muhammad, dan Ketua Tanfidziyah PWNU DIY KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor. Pengurus LTMNU se-DIY, takmir Masjid NU Percontohan, serta perwakilan lembaga PWNU DIY juga memenuhi ruang pertemuan.
Ketua LTMNU DIY KH. Basori Alwi mengatakan peluncuran itu menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat tata kelola masjid. Menurutnya, tantangan zaman menuntut pengelolaan masjid yang lebih profesional. Karena itu, teknologi perlu hadir sebagai bagian dari pelayanan kepada jamaah.
“Kami atas nama LTMNU DIY memiliki harapan agar masjid-masjid NU semakin terkelola dengan baik, memiliki manajemen yang tertata, serta mampu memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah. Kehadiran buku panduan ini menjadi pedoman bersama, sedangkan DAMANU menjadi instrumen penting untuk membangun basis data masjid NU yang lengkap dan terintegrasi,” ujar Kiai Basori.
Jangan Lewati: Di Halaqah RMI PCNU Kota Pekalongan, Gus Hilmy Ajak Ulama Menjawab Krisis Lingkungan
Ia menjelaskan, DAMANU menjadi pintu masuk pendataan seluruh masjid NU di Daerah Istimewa Yogyakarta. Platform berbasis web itu menghimpun profil, potensi, dan kebutuhan setiap masjid. Data tersebut akan menjadi dasar penyusunan program pembinaan dan pengembangan ke depan.
Anggota DPD RI DIY KH. Hilmy Muhammad menyambut baik langkah tersebut. Menurut Gus Hilmy, inovasi itu membuktikan Nahdlatul Ulama mampu bergerak seiring perkembangan teknologi. Namun, NU tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.
“Saya sangat senang dan mengapresiasi terobosan yang dilakukan LTMNU DIY. Masjid harus menjadi pusat peradaban umat, bukan hanya sebagai tempat salat, tetapi juga pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pelayanan sosial. Kehadiran buku panduan dan website DAMANU akan mempermudah pengelolaan masjid secara lebih profesional,” ungkapnya.
Baginya, digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman. Digitalisasi telah menjadi kebutuhan agar organisasi bekerja lebih efektif, transparan, dan akuntabel.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Tanfidziyah PWNU DIY KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor. Ia mengingatkan bahwa sejak masa Rasulullah SAW, masjid selalu menjadi pusat kehidupan umat. Dari masjid lahir pendidikan, musyawarah, pembinaan masyarakat, hingga penguatan ekonomi.
Jangan Lewati: Merawat Nalar
“Tradisi pengelolaan masjid yang baik sudah dicontohkan sejak zaman Rasulullah. Karena itu, pengurus masjid harus terus meningkatkan kapasitasnya agar mampu menghidupkan fungsi-fungsi strategis masjid. Kehadiran buku panduan ini diharapkan menjadi rujukan bersama dalam mengelola masjid-masjid NU secara lebih tertib, profesional, dan berkelanjutan,” tuturnya.
Wakil Ketua LTM PBNU KH. Munawar Fuad Noeh menilai langkah LTMNU DIY layak menjadi contoh nasional. Menurutnya, LTMNU DIY menjadi lembaga takmir masjid pertama yang mengembangkan inovasi digital secara menyeluruh. Inovasi itu mencakup panduan manajemen, sistem pendataan berbasis web, hingga penguatan penggalangan dana digital.
“LTMNU DIY menjadi LTM pertama di Indonesia yang menghadirkan inovasi digital secara komprehensif melalui buku panduan, sistem pendataan berbasis web, hingga penguatan penggalangan dana digital. Ini merupakan langkah yang sangat baik dan layak menjadi inspirasi bagi LTMNU di daerah lain,” ujarnya.
Selain meluncurkan buku panduan dan DAMANU, LTMNU DIY juga menggelar Workshop Crowdfunding Masjid Berbasis Digital. Tim NU Care-LAZISNU DIY membekali peserta dengan strategi menghimpun donasi melalui platform digital. Mereka juga membahas tata kelola donasi yang transparan serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung pemberdayaan masjid.
Jangan Lewati: Tiga Bulan Pertama Jadi Masa Kritis, Sekolah Rakyat Kulon Progo Bentuk Kemandirian Siswa Sejak Hari Pertama
Suasana workshop berlangsung dinamis. Peserta aktif berdiskusi tentang peluang digitalisasi dalam memperkuat kemandirian ekonomi masjid. Narasumber juga mengenalkan berbagai model kampanye penggalangan dana yang efektif dan akuntabel.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, LTMNU DIY menegaskan bahwa transformasi digital tidak berhenti pada penggunaan teknologi. Langkah itu juga menyangkut penguatan tata kelola, pelayanan jamaah, dan kemandirian masjid. Harapannya, masjid-masjid NU di DIY semakin profesional dan mampu menjadi pusat ibadah, pendidikan, dakwah, sekaligus pemberdayaan umat. [jm]




















