Jogja Berduka: Ustaz Muhammad Jazir ASP, Arsitek Peradaban Masjid, Telah Berpulang

Jogja, Kabar1619 Dilihat
Jogja Berduka: Ustaz Muhammad Jazir ASP, Arsitek Peradaban Masjid, Telah Berpulang
Foto: Istimewa

ejogja.ID | Senin pagi, 22 Desember 2025, udara di sekitar Masjid Jogokariyan terasa lebih hening dari hari sebelum-sebelumnya. Di balik riuh aktivitas jamaah salat Subuh yang biasa mengisi sudut-sudut masjid, kabar duka datang: sosok yang menjadi tulang punggung transformasi masjid itu, Ustaz Muhammad Jazir ASP, meninggal dunia sekitar pukul 05.30 WIB di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Sosok di Balik Kemajuan Masjid Jogokariyan

Lahir di Yogyakarta pada 28 Oktober 1962, Jazir tumbuh dalam lingkungan pesantren dan aktivitas kemasjidan. Ayahnya menjadi imam pertama Masjid Jogokariyan. Sejak kecil, ia akrab dengan keyakinan bahwa masjid mampu berperan sebagai pusat perubahan.

Jangan Lewati: Ibu Ekologi

Jazir tidak hanya berperan sebagai pengurus biasa. Ia tampil sebagai arsitek kebangkitan dan kemasyhuran Masjid Jogokariyan sebagai pusat dakwah, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat. Di bawah kepemimpinannya, masjid yang semula sepi jamaah perlahan menarik perhatian masyarakat. Di tempat ini, jamaah tidak hanya menunaikan salat, tetapi juga mengikuti beragam program sosial dan ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan umat.

Beberapa hari sebelum wafat, Jazir menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat penyakit komplikasi, termasuk gangguan ginjal kronis. Meski terbaring di ranjang sakit, ia terus menyampaikan pesan kepada para pengurus dan jamaah agar mereka tidak menghentikan perjuangan membangun peradaban masjid.

“Beliau selalu mengatakan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat kehidupan umat yang mampu menumbuhkan semangat kerja sama, kemakmuran, dan rasa saling peduli,” ujar salah satu kolega dekatnya, mengenang pesan terakhir Jazir kepada lingkungan masjid.

Warisan yang Mendarah Daging

Di bawah kepemimpinannya, Masjid Jogokariyan mengembangkan model pengelolaan masjid yang inovatif. Pengurus masjid menerapkan manajemen keuangan yang transparan dan efisien, yang dikenal luas melalui konsep saldo infak Rp 0 sebagai simbol keterbukaan penggunaan dana umat.

Masjid Jogokariyan juga menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat, seperti ATM beras, jemaah mandiri, serta kampanye kegiatan sosial-ekonomi yang tidak hanya membantu jamaah, tetapi juga warga sekitar.

Masyarakat luas tidak hanya mengapresiasi keberhasilan masjid ini di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga menempatkannya sebagai role model yang menginspirasi pengelolaan masjid di berbagai daerah lain.

Jangan Lewati: Kisah Lahirnya Kekuasaan dan Keyakinan: Agama Elite dan Agama Sipil

Setelah jamaah menyalatkan jenazahnya di Masjid Jogokariyan, keluarga dan pengurus memakamkan almarhum di Makam Karangkajen, Yogyakarta, usai salat Zuhur. Ribuan jamaah mengantarkan kepergian Jazir, menegaskan besarnya pengaruh yang ia tinggalkan dalam kehidupan komunitasnya.

Bagi banyak orang, kepergian Ustaz Muhammad Jazir menjadi kehilangan besar. Ia tidak hanya berarti bagi Masjid Jogokariyan, tetapi juga bagi dunia dakwah. Juga, bagi umat yang meyakini bahwa masjid mampu menjadi motor perubahan sosial dan ekonomi. Kini, para penerus dan jamaah memikul tanggung jawab untuk terus menghidupkan semangat dan gagasan masjid sebagai pusat peradaban umat yang Jazir wariskan. [al]

Mau ngiklan di ejogja.ID? Klik: Pasang Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *