Cepat Sepakat

Kabar, Serat665 Dilihat
Cepat Sepakat
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Ada pemandangan yang belakangan semakin sering kita jumpai di ruang-ruang kelas: dosen bertanya, mahasiswa mengangguk. Dosen menjelaskan, mahasiswa mencatat. Dosen menyimpulkan, mahasiswa menerima. Kelas berlangsung tertib, tenang, bahkan tampak harmonis. Tidak ada perdebatan. Tanpa sanggahan. Blas nggak ada kegaduhan intelektual.

Sekilas, suasana seperti itu tampak ideal. Namun, itulah persoalannya. Barangkali kelas tidak sedang menjadi ruang belajar, melainkan ruang konfirmasi. Mahasiswa lebih sibuk mencari jawaban yang dianggap benar daripada menguji apakah jawaban itu memang layak dipertahankan. Berbeda pendapat perlahan dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan, berisiko menyinggung dosen, atau sekadar membuang waktu. Yang penting adalah cepat sepakat.

Budaya semacam ini tidak hanya lahir dari relasi hierarkis antara dosen dan mahasiswa, guru dan siswa, juga kiai dan murid. Ia juga dipelihara oleh ekosistem digital yang membuat orang semakin nyaman berada di lingkungan yang mengamini keyakinannya sendiri. Algoritma media sosial menyuguhkan pandangan yang sejalan dengan preferensi pengguna, sementara kecerdasan buatan mampu menyajikan jawaban yang terasa rapi dan meyakinkan dalam hitungan detik. Sedikit demi sedikit, kita kehilangan kebiasaan bertahan di hadapan pandangan yang berbeda.

Dialektika Hilang

Bagi Georg Wilhelm Friedrich Hegel, manusia tidak menjadi dewasa karena selalu berada di pihak yang benar. Kesadaran justru tumbuh ketika berhadapan dengan sesuatu yang menggugat kepastian dirinya. Kontradiksi bukanlah gangguan bagi berpikir, melainkan syarat agar berpikir terus bergerak.

Hegel menyebut proses itu sebagai dialektika. Sebuah gagasan tidak menjadi matang karena terus dipuji, tetapi karena diuji oleh gagasan lain. Setiap sanggahan memaksa rasio melihat keterbatasannya sendiri. Setiap perbedaan pendapat membuka kemungkinan lahirnya pemahaman yang lebih utuh. Kritik, dalam pengertian Hegelian, bukanlah seni menjatuhkan lawan, melainkan keberanian menegasi cara berpikir yang sudah tidak memadai.

Sayangnya, pendidikan kita justru sering menghindari kontradiksi. Kelas yang “tenang” dianggap berhasil. Mahasiswa yang patuh lebih mudah diapresiasi daripada mahasiswa yang kritis. Perbedaan pendapat acap kali dibaca sebagai pembangkangan, bukan sebagai tanda hidupnya nalar. Kita bisa melihat efeknya, bahwa ruang belajar kehilangan fungsi terdalamnya: menjadi tempat kesadaran bertumbuh melalui dialog.

Padahal sejarah ilmu pengetahuan tidak pernah bergerak melalui kesepakatan yang terlalu cepat. Aristoteles lahir dari kritik terhadap Plato. Kant mengkritik rasionalisme dan empirisme. Hegel mengkritik Kant. Hampir setiap lompatan besar dalam sejarah pemikiran lahir dari keberanian mempertanyakan apa yang sebelumnya dianggap mapan. Ilmu pengetahuan berkembang bukan karena semua orang setuju, melainkan karena selalu ada seseorang yang berani berkata, “Mungkin kita perlu melihatnya dari cara yang lain.”

Pabrik Keseragaman

Kekhawatiran kita, budaya seragam itu tidak berhenti di ruang kelas. Ia merembes ke cara kita membangun kehidupan akademik. Mahasiswa belajar membaca apa yang ingin didengar dosen, bukan apa yang ingin mereka pahami. Diskusi berubah menjadi perlombaan mencari persetujuan. Presentasi menjadi latihan menghindari pertanyaan sulit. Bahkan tugas-tugas akademik sering diarahkan untuk menemukan jawaban yang benar, bukan merumuskan pertanyaan yang lebih tajam.

Dalam suasana seperti itu, pendidikan memang tampak damai. Namun kedamaian itu sering kali adalah kedamaian yang mahal. Ia dibayar dengan hilangnya keberanian intelektual. Kita menghasilkan lulusan yang fasih mengulang teori, tetapi gugup ketika harus mempertahankan argumennya sendiri. Mereka terbiasa mengutip otoritas, tetapi tidak terbiasa menguji otoritas. Mereka pandai menyusun kesimpulan, tetapi asing terhadap pergulatan yang melahirkan kesimpulan itu.

Padahal kampus tidak didirikan untuk memproduksi gema. Ia lahir untuk mempertemukan gagasan-gagasan yang saling bertabrakan sehingga dari benturan itu muncul pemahaman baru. Tanpa dialektika, pendidikan hanya alat reproduksi pengetahuan. Dengan dialektika, pendidikan melahirkan pembentukan manusia.

Barangkali persoalan terbesar pendidikan hari ini bukan rendahnya literasi, bukan pula melimpahnya informasi. Persoalan yang lebih lugas adalah semakin langkanya keberanian untuk berbeda. Kita lebih takut pada konflik daripada pada kebekuan berpikir. Kita lebih sibuk menjaga kenyamanan kelas daripada menjaga kehidupan nalar di dalamnya.

Sebab pendidikan tidak runtuh ketika mahasiswa tidak mengetahui semua jawaban. Pendidikan mulai kehilangan maknanya ketika mahasiswa tidak lagi berani mengajukan pertanyaan yang membuat seluruh kelas gelisah.

Itulah tanda paling mengkhawatirkan dari sebuah peradaban: ketika ruang-ruang pendidikan dipenuhi orang-orang yang pandai menyetujui, tetapi semakin sedikit manusia yang berani berbeda demi menemukan kebenaran. Sebab sejak hari itu, yang kita wisuda bukan lagi kesadaran, melainkan kepatuhan yang menyamar sebagai kecerdasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *