Bara Radikalisme

Serat249 Dilihat
bara radikalisme
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin 

Kini kita memasuki awal tahun akademik baru. Ribuan ruang kelas kembali dipenuhi pelajar dan mahasiswa, membawa harapan masa depan yang lebih baik. Pendidikan sering kali kita dewa-dewakan sebagai obat mujarab untuk segala penyakit sosial. Dari urusan kemiskinan sampai persoalan moral, kita selalu menunjuk sekolah dan kampus sebagai penyelamat. Namun, jika kita bersikap jujur dan mau menengok realitas di lapangan, ada paradoks yang cukup menggelisahkan. Ruang kelas tidak selalu menjadi benteng perdamaian. Di banyak tempat, institusi pendidikan menjadi ruang persemaian bagi ideologi ekstrem.

Memahami relasi antara pendidikan dan radikalisme di Indonesia membutuhkan kacamata yang lebih jernih dan kritis. Ini bukan persoalan anak muda yang “salah pergaulan” atau kurang memahami agama. Problemnya lebih kompleks. Ia berkaitan dengan bagaimana sistem pendidikan membentuk cara berpikir, bagaimana lingkungan belajar membangun identitas, dan bagaimana anak muda mencari makna di tengah perubahan sosial yang begitu cepat.

Nikmati Juga: Nama Muhammad

Bagi Pierre Bourdieu, sekolah tidak pernah benar-benar netral. Selain mentransfer pengetahuan, sekolah juga menjadi ruang tempat masyarakat mewariskan nilai, norma, selera, dan cara memandang dunia. Proses tersebut kemudian berkontribusi pada pembentukan habitus, yakni kecenderungan berpikir, merasa, dan bertindak yang tertanam dalam diri seseorang melalui pengalaman sosialnya.

Cara pendidik berbicara, cara memperlakukan perbedaan, siapa yang mereka anggap benar, dan bagaimana menjawab sebuah pertanyaan juga ikut membentuk habitus peserta didik. Ketika ruang-ruang belajar memenuhi diri dengan narasi yang eksklusif dan kaku, peserta didik berpotensi membangun cara pandang yang serba biner. Kita versus mereka, benar versus salah, atau beriman versus kafir. Pembelahan semacam ini sering bekerja secara halus melalui obrolan di kelas, diskusi di musala sekolah, kegiatan keagamaan, hingga pengaruh figur pendidik atau senior yang disegani.

Kita perlu melihat pendidikan sebagai arena yang membentuk cara seseorang memahami dirinya dan orang lain. Pendidikan yang gagal mempertemukan peserta didik dengan keberagaman titik pandang membuat perbedaan terasa sebagai ancaman. Sebaliknya, pendidikan yang membiasakan dialog akan menumbuhsuburkan pemahaman, bahwa perbedaan adalah keniscayaan dalam kehidupan bersama.

Pelajar sungguh dalam persimpangan itu. Anak-anak muda yang sedang tumbuh dewasa kerap menghadapi kebingungan mengenai siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan di mana tempatnya dalam masyarakat. Mereka berhadapan dengan perubahan teknologi, tuntutan sosial, persaingan, ketidakpastian masa depan, dan banjir informasi. Kondisi itu kemudian menjadi modal bagi kelompok ekstrem. Mereka datang menawarkan jawaban yang serba pasti, sederhana, dan terasa heroik. Mereka juga menyuguhkan komunitas, identitas, dan rasa memiliki.

Eksakta dan Kelas Keagamaan

Jika ada anggapan bahwa paham ekstrem hanya menyasar kelompok masyarakat berpendidikan rendah, itu asumsi konyol. Pendidikan tinggi tidak otomatis membuat seseorang kebal dari ideologi ekstrem. Dalam sejumlah kasus, narasi ekstrem mendapatkan ruang di kaum elit intelektual, termasuk di kalangan mahasiswa yang belajar sains dan teknik.

Mahasiswa eksakta memiliki pola pikir yang serba pasti. Itu bukan soal. Sains sendiri mengajarkan pengujian, keraguan, pembuktian, dan keterbukaan terhadap koreksi. Masalahnya muncul ketika seseorang membawa kebutuhan akan kepastian satu wilayah pengetahuan ke wilayah lain yang berkarakter beda.

Matematika memiliki rumus. Fisika punya hukum yang dapat diuji. Tetapi agama (terutama tentang penafsiran teks, sejarah, dan kehidupan sosial) memiliki lapisan persoalan yang begitu kompleks. Ketika seseorang menerapkan metode berpikir yang menghendaki kepastian tunggal pada persoalan keagamaan, ia bisa menganggap keberagaman pendapat sebagai kesalahan. Bukan sebagai kekayaan intelektual.

Guru, ustaz, dan dosen yang seharusnya menjadi jembatan bagi peserta didik untuk memahami keberagaman dapat berubah menjadi pintu masuk bagi eksklusivisme. Ini terjadi jika kita sebagai pendidik tidak menyadari peran tersebut. Situasi semakin kompleks di era digital. Perekrutan dan indoktrinasi tidak lagi membutuhkan pertemuan rahasia di ruang-ruang gelap. Algoritma media sosial membawa narasi ekstrem langsung ke genggaman siapa pun melalui video singkat yang mengemas pesan secara menarik, provokatif, dan menyentuh emosi. Ketika seseorang terus berinteraksi dengan narasi yang sama, dunia digital membentuk ruang gema yang mengukuhkan sikap tertentu tampak semakin benar karena terus mengulanginya.

Mengapa Sistem Begitu Rentan?

Ada tiga simpul utama yang membuat dunia pendidikan kita begitu mudah disusupi ideologi ekstrem. Pertama, cara belajar yang menghafal, bukan menalar. Pendidikan agama masih sering mengajarkan tumpukan hafalan dan aturan dogmatis. Pendidik lebih sering meminta peserta didik mengetahui jawaban daripada memahami bagaimana seseorang memperoleh sebuah jawaban. Mereka jarang mengajak peserta didik berdiskusi tentang konteks sejarah, keberagaman tafsir, perbedaan metodologi, atau nilai universal di balik sebuah ajaran.

Masalahnya bukan pada hafalan itu sendiri. Hafalan tetap penting dalam pendidikan agama. Persoalannya adalah saat peserta didik menghafal tanpa mengembangkan kemampuan menalar. Peserta didik akhirnya mengetahui apa yang harus dipercaya, tetapi tidak memiliki cukup bekal untuk menghadapi pertanyaan mengapa ia harus mempercayainya.

Kedua, ruang diniyah yang terlupakan. Selama bertahun-tahun, kita sering menganggap kegiatan keagamaan di luar jam pelajaran formal sebagai tambahan yang tidak terlalu penting. Padahal, di ruang-ruang nonformal dan informal itulah identitas sering terbentuk dengan sangat kuat.

Sekolah mungkin hanya memiliki beberapa jam untuk mengajarkan pendidikan agama. Tetapi, kelompok informal bertemu berulang kali, membangun kedekatan emosional, dan membentuk rasa memiliki. Ruang yang tidak kita perhatikan akan selalu membuka kesempatan bagi pihak lain untuk mengisinya.

Nikmati Juga: Jadi Santri

Ketiga, pendidikan Pancasila yang kehilangan jiwa. Pendidik kerap menyajikan pelajaran kewarganegaraan secara formal dan membosankan. Peserta didik menghafal konsep kebinekaan untuk keperluan ujian semester, tetapi tidak selalu mempraktikkannya dalam kehidupan sekolah. Toleransi akan tumbuh ketika peserta didik mengalami langsung bagaimana masyarakat mengelola perbedaan. Ketika keyakinan yang berbeda tidak menjadi alasan untuk merendahkan. Ketika seseorang belajar bahwa orang lain tidak harus menjadi seperti dirinya agar ia mau menghormatinya.

Menangkal radikalisme di dunia pendidikan tidak bisa dilakukan dengan cara-cara represif, seperti merazia buku, melarang diskusi, atau mengancam pelajar. Pendekatan semacam itu berisiko membuat rasa ingin tahu berpindah ke ruang yang lebih tertutup. Pendidikan bisa membantu manusia membaca dunia, mempertanyakan realitas, dan menyadari bahwa setiap pengetahuan selalu berada dalam konteks sosial tertentu.

Kita perlu melatih anak-anak agar berani bertanya mendalam, mengenali bias, membedakan argumen dari propaganda, dan menghargai perbedaan sudut pandang sebagai bagian dari kehidupan bersama. Pengajaran agama menjadi sumber kasih sayang, tanggung jawab, dan kebermanfaatan bagi sesama, bukan alat untuk membuat seseorang merasa lebih suci daripada yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *