
Raa Tsania
Saya terpaksa tinggal satu atap dengan empat puluh orang yang tidak saya kenal di sebuah rumah kayu yang kumuh. Sepertinya sudah takdir saya mengalami kesulitan seperti ini. Semuanya terjadi karena saya tidak mampu keluar dari kesulitan yang saya hadapi sehingga saya harus tinggal bersama mereka sekarang.
Setelah empat hari tinggal bersama mereka, ada kejadian yang sangat mengejutkan saya. Ditemukan mayat salah satu penghuni kamar di rumah kayu. Tepatnya penghuni kamar nomor 23.
Karena hal tersebut, kami semua menjadi tersangka karena kami tinggal satu atap dengan korban. Kejadian itu terjadi pada malam Rabu. Seperti biasa, pemilik rumah memanggil kami untuk makan malam. Semua penghuni biasanya naik ke lantai lima yang merupakan lantai utama untuk makan. Sejauh ini, seluruh penghuni selalu hadir di meja makan, tidak ada yang melewatkan makan malam. Tidak ada yang mau uang sewa yang termasuk uang makan terbuang sia-sia.
Jangan Lewati: Cerpen Kisah Kecil Pemulung
Tetapi malam itu, satu penghuni tidak terlihat. Penghuni kamar nomor 23. Ketika pemilik rumah mengecek kamarnya, penghuni kamar nomor 23 ditemukan tewas dengan badan yang hanya tersisa separuh.
Itu benar-benar kabar yang mengerikan. Kasus pembunuhan yang sadis. Tidak ditemukan kemana sisa tubuh penghuni kamar nomor 23 itu. Kami semua dipanggil ke luar rumah dan diperiksa. Saya memperhatikan, semua penghuni terlihat terkejut dan tidak ada yang mencurigakan. Malam itu, sesuai dugaan saya, tidak ada kesimpulan, pemilik rumah membiarkan kejadian itu berlalu dan mayat penghuni kamar nomor 23 diangkut ke luar rumah. Tetapi, kami diperingatkan untuk berhati-hati.
“Waduh, hal seperti ini bisa terjadi juga, ya? Menurutmu, ke mana separuh tubuh Rian dibawa pembunuhnya? Untuk apa dia membawa hanya separuhnya saja?”
Seingat saya, penghuni yang baru saja mengajak saya bicara setelah diperiksa berasal dari kamar nomor 12. Namanya Elio. Kamarnya tak jauh dari kamar saya selaku penghuni kamar nomor 19. Kami tinggal di lantai yang sama.
Saya mengangguk menanggapi Elio, “Yah, saya tidak mengira akan ada hal mengerikan seperti ini. Saya juga tidak tahu apa tujuan makhluk keji yang membunuh penghuni kamar nomor 23 itu sampai memotong separuh tubuhnya dan membawanya pergi. Tetapi, apapun tujuannya, menurut saya itu sangat tidak bermoral.”
Elio berdeham, menepuk punggung saya. “Kau benar. Mari kita saling menjaga, ya. Kabarkan padaku kalau kau menemukan atau melihat sesuatu. Aku juga akan melakukan sebaliknya.”
Kemudian dia meninggalkan saya tanpa menunggu jawaban dan masuk ke kamar lebih dulu. Saya kira, dia ada benarnya. Meskipun saya pada awalnya tidak berminat mengenal siapapun, sekarang saya berubah pikiran. Di lingkungan kecil dan kumuh ini sedikit berbahaya untuk bertahan hidup sendirian jika saya tetap keras kepala tidak mau mengenal siapapun.
Saya masuk ke kamar saya setelah memastikan tidak ada lagi hal mencurigakan. Saya mengunci pintu rapat-rapat dan pergi tidur.
***
Dua hari kemudian, kasus yang sama terjadi lagi. Tidak cukup masalah makanan dari pemilik gedung yang semakin tidak teratur karena dia sibuk dengan pekerjaannya di luar rumah, kini ditemukan lagi dua korban tewas dengan kondisi sama persis, badan tersisa separuh.
Saya yang merasa semakin gundah akhirnya mengajak Elio mengobrol untuk bertanya adakah hal aneh yang dia temukan. Tetapi Elio tidak mengatakan apa-apa. Dia juga terlihat biasa saja. Tidak gundah sepertinya yang saya duga meski ditemukan lagi dua korban pembunuhan dengan tubuh yang dicuri separuh.
Jangan Lewati: Tas Hitam Kim
Besoknya, di meja makan, saya memperhatikan lagi penghuni lain dengan waspada. Kebanyakan tampak gundah seperti saya, khawatir kasus ini adalah pembunuhan berantai dan bisa saja merekalah korban selanjutnya. Tetapi, ada sekitar lima penghuni berbadan besar yang terlihat biasa saja seperti Elio. Apa karena tubuhnya besar, mereka jadi tidak memiliki rasa takut? Tetapi, menurut saya, apa yang saya lihat tetap aneh.
Saya rasa, wajar sekali kalau rasa curiga tumbuh di hati saya. Saya bertanya-tanya, apakah benar dugaan saya merekalah pelaku dari tiga korban yang terbunuh di rumah ini? Tetapi, untuk apa? Apa tujuannya?
Setelah saya pikirkan lagi, saya tidak kunjung menemukan benang yang menghubungkan kejadian hari ini dengan dua hari lalu selain tubuh korban yang tinggal separuh. Kali ini korbannya dua sekaligus, penghuni kamar nomor 37 dan 32.
Saya tidak tahu apa keterkaitan mereka. Meski sesungguhnya saya tidak mau memikirkannya, otak saya bekerja keras sendiri mencari sebab akibatnya. Mencari benang merah yang barangkali bisa membuat saya mengetahui siapa pembunuhnya. Agar saya bisa menghindarinya.
Saya mencurigai Elio karena dia terlihat biasa saja, tetapi, kenapa kemarin dia mengajak saya bekerja sama untuk saling menjaga? Inilah yang menjadi pertimbangan dan cikal bakal kebingungan saya.
Saya memantapkan hati untuk mendekati Elio lagi setelah makan malam.
“Apakah Anda menemukan sesuatu? Saya merasa gundah karena kali ini korbannya dua. Bagaimana perasaan Anda sekarang?” Sambar saya saat Elio hendak masuk ke kamar huniannya.
Elio menoleh kemudian menatap saya santai.
“Selagi bukan aku yang mati, kupikir tidak ada masalah. Kau tidak perlu khawatir berlebihan, Sena. Badanmu besar, kau tidak akan berada dalam bahaya.” Ujar Elio meninggalkan saya di depan pintu.
Malam itu, saya mengunci pintu kamar lebih rapat dengan perasaan gundah.
***
Saya baru pulang kerja ketika saya melintasi kamar Elio yang terbuka sedikit, satu dua penghuni lain yang sempat saya curigai terlihat di dalam kamar huniannya. Mereka duduk dan mengobrol santai.
Jangan Lewati: Cabul Intelektual
Saya melanjutkan langkah kembali ke kamar, berusaha mengabaikan apa yang saya lihat. Barangkali mereka memang dekat saja. Dan mereka akrab karena sama-sama berbadan besar. Saya tidak ingin memusingkannya dan menuduh penghuni lain tanpa bukti.
Saya akan mengajak Elio dan penghuni lain yang berkunjung ke kamarnya itu naik setengah jam lagi saat jam makan malam.
Saya pikir, malam itu adalah malam biasa. Saya tidak sangka ketika saya berniat mengajak Elio makan malam, saya melihat mereka menikam dan memakan penghuni kamar di sebelah kamar Elio. Penghuni kamar nomor 13.
Alangkah terkejutnya saya sampai-sampai saya terjatuh dan pingsan di depan kamar Elio.
Saya kira, kalau saya terbangun, saya sudah sampai di akhirat. Tetapi ternyata tubuh saya dibawa masuk oleh Elio ke kamarnya. Dia menyambut saya ramah dan tidak menyiksa ataupun membunuh saya seperti yang dia dan kawan-kawannya lakukan pada penghuni kamar nomor 13.
Saya bingung dan terkejut sekali. Saya menuntut Elio untuk menjelaskan.
“Sena, justru aku yang tak mengerti tingkah kau ini. Kenapa kau harus bertanya padahal makan memang naluri kita? Bukankah kau yang menghabisi separuh badan penghuni kamar nomor 23 karena tidak sempat sarapan sebelum bekerja? Hentikanlah sandiwaramu, itu tidak mempan padaku. Kita ini sama, kenapa harus malu-malu dan menutupinya?”
Saya tidak mengerti apa yang dibicarakan Elio. Saya yang menghabisi penghuni kamar nomor 23 pada waktu itu? Mustahil, saya bukan pembunuh dan kanibal.
Saya menggeleng dan menolak menerima hasutan Elio. Gara-gara dia, saya jadi pingsan dan melewatkan makan malam.
Tetapi saya tidak mengerti apa yang menggerakkan saya untuk bergabung dengan kawan-kawan Elio daripada keluar dari kamarnya. Dari akal sehat saya yang tersisa, saya hanya tahu bahwa saya sangat lapar karena telah melewatkan makan malam.
Saya tidak dapat menahan hasrat ingin mengunyah tangan milik Yudios, penghuni kamar nomor 13 itu. Melihat penghuni lain makan dengan lahap, saya rasa tidak ada salahnya. Jadi, saya bergabung di antara mereka dan melahap daging kaki penghuni kamar nomor 13 itu dengan santai selagi pemilik rumah tidak memanggil kami.
***
“Bang, gua baru mulai ternak lele dua minggu ini. Awalnya mau mengetes dulu, tapi rupanya selama dua minggu, setiap hari ada yang mati. Badannya selalu sisa setengah pas gua cek. Masa iya dimakan temennya?”
“Lah, emang dimakan temennya itu. Lu gatau lele tuh hewan kanibal? Airnya lu ganti mulu, ya? Terus, makannya gak teratur, kan?”
“Ah, masa sih, bang? Ya iya… airnya gue ganti terus biar kaga bau. Kalo masalah makan… ya kadang gue telat-telat sih. Kadang balik kerja kan nongki dulu.”
“Ah, pea lu. Mereka tuh kanibal. Kalo kurang makan dan airnya jernih, ya mereka bakal ngincer temennya, lah.”
Raa Tsania, Mahasiswa Prodi Produksi Film dan Televisi ISI Yogyakarta. Raa Tsania sebagai mana pena dari Aisyah Tsania Tushifa yang aktif menulis di media massa.




















