Menyembah Angka

Literasi, Serat1450 Dilihat
menyembah angka
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Our age is the genuine age of criticism, to which everything must submit.Immanuel Kant, Critique of Pure Reason

Jika segala sesuatu harus tunduk pada kritik, sebagaimana ditegaskan Immanuel Kant, maka akreditasi, ranking, dan seluruh indikator mutu pendidikan pun tidak boleh dikecualikan. Persoalannya bukan apakah instrumen itu penting, melainkan ketika ia hanya sebagai alat evaluasi dan berubah menjadi sesuatu yang nyaris tak boleh dipertanyakan.

Barangkali dogmatisme terbesar pendidikan kita hari ini bukan lagi hafalan, melainkan angka. Kampus berlomba mengejar akreditasi unggul, sekolah sibuk memperbaiki posisi dalam berbagai pemeringkatan, dosen dinilai berdasarkan jumlah publikasi dan sitasi, sementara mahasiswa dikejar IPK sebagai simbol capaian akademik. Tidak ada yang keliru dengan semua itu. Masalah muncul ketika angka menjadi alat untuk menilai kualitas, lalu menjelma menjadi tujuan pendidikan itu sendiri.

Pertanyaannya bukan penting atau tidaknya akreditasi dan pemeringkatan, melainkan dasar yang membuat keduanya dipercaya sebagai representasi mutu pendidikan. Benarkah institusi yang memperoleh nilai tertinggi otomatis mampu menghasilkan manusia yang paling berkarakter? Benarkah kampus yang unggul dalam indikator administratif selalu lebih sukses membentuk daya pikir kritis mahasiswanya? Atau jangan-jangan kita telah menganggap angka sebagai kebenaran yang tak lagi layak dipersoalkan?

Fetisisme Indikator

Pertanyaan itu penting karena pendidikan perlahan terjebak dalam apa yang dapat disebut sebagai fetisisme indikator. Hampir semua hal diukur, diberi skor, diperingkat, lalu dibandingkan. Semakin mudah sesuatu diukur, semakin dianggap penting. Sebaliknya, hal-hal yang justru menjadi inti pendidikan (seprti keberanian berpikir, integritas ilmiah, kepekaan sosial, imajinasi moral, hingga kebijaksanaan) kerap tersisih hanya karena sulit diterjemahkan ke dalam angka.

Ketika yang dapat diukur dianggap sebagai satu-satunya ukuran ketercapaian, pendidikan perlahan dikuasai oleh apa yang oleh Jürgen Habermas disebut sebagai rasionalitas instrumental. Cara berpikir ini menjadikan efisiensi, target, prosedur, dan indikator sebagai orientasi utama. Bukan lagi apakah suatu proses benar-benar memanusiakan manusia, melainkan apakah ia memenuhi standar yang telah ditetapkan. Pendidikan akhirnya lebih sibuk mengelola angka daripada mengembangkan nalar.

Obsesi terhadap indikator pun melahirkan perilaku yang bertolak belakang dengan tujuan pendidikan. Kampus mengejar kelengkapan dokumen demi akreditasi, bukan terutama demi memperbaiki mutu pembelajaran. Dosen mengejar publikasi untuk memenuhi target kinerja, bukan selalu karena risetnya menjawab persoalan masyarakat. Mahasiswa mengejar nilai tinggi bukan karena ingin memahami ilmu, melainkan agar lulus dengan predikat tertentu. Bahkan tidak sedikit proses pembelajaran yang lebih diarahkan untuk menunjukkan bukti administrasi daripada pengalaman belajar yang sesungguhnya. Pendidikan akhirnya berubah menjadi perlombaan memenuhi indikator, bukan proses memerdekakan akal budi.

Sistem yang semula diciptakan untuk membantu meningkatkan mutu perlahan mengendalikan arah pendidikan. Manusia tidak lagi mengarahkan sistem, melainkan menyesuaikan diri dengan tuntutan sistem. Kampus sibuk mengejar apa yang mudah diukur, sementara yang paling penting bagi pembentukan manusia malah semakin sulit mendapat ruang.

Memerdekakan Budi

Kritik bukanlah penolakan terhadap standar mutu, melainkan keberanian mempertanyakan legitimasi standar itu sendiri. Sebuah sistem evaluasi semestinya tidak hanya dinilai dari kemampuannya menyuguhkan angka, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan manusia yang berpikir secara otonom. Standar pendidikan bukan sekadar seberapa baik institusi memenuhi instrumen penilaian, melainkan seberapa jauh peserta didik mampu menguji, bahkan mengoreksi, instrumen tersebut ketika tidak lagi mencerminkan tujuan pendidikan.

Kritisisme Kant mengingatkan bahwa rasio yang sehat adalah rasio yang mampu menguji dirinya sendiri. Sementara Habermas mengingatkan bahwa rasio akan kehilangan daya emansipatorisnya ketika tunduk sepenuhnya pada logika instrumental. Maka, pendidikan tidak boleh mandek pada kepatuhan terhadap prosedur, tetapi harus melahirkan manusia yang mampu berpikir bebas, berdialog secara rasional, dan berani mempertanyakan kemapanan.

Jika hari ini sekolah dan perguruan tinggi lebih sibuk memperbaiki posisi dalam tabel pemeringkatan, sementara ruang dialog semakin sempit, kebebasan berpikir semakin terbatas, dan keberanian mengkritik semakin langka, sesungguhnya kita sedang menyaksikan paradoks pendidikan. Institusi mungkin semakin unggul di atas kertas, tetapi belum tentu semakin unggul dalam membentuk manusia.

Sudah waktunya kita berhenti bertanya, Berapa nilai akreditasinya? dan mulai bertanya, Manusia seperti apa yang sedang dibentuk oleh pendidikan ini? Sebab sebuah kampus dapat memperoleh predikat unggul, tetapi bisa gagal menumbuhkan pikiran-pikiran yang brilian. Ranking dan akreditasi memang penting, tetapi keduanya hanyalah alat, bukan tujuan.

Sejarah tidak pernah diubah oleh institusi yang sekadar unggul dalam peringkat. Sejarah selalu digerakkan oleh manusia-manusia yang berani berpikir melampaui peringkat itu sendiri. Sebab ketika ranking menjadi orientasi utama, pendidikan akan mandul dalam mendidik dan pasti memproduksi administrasi. Skor akreditasi, jumlah sitasi, atau posisi dalam tabel pemeringkatan mungkin naik. Namun, jika keberanian berpikir semakin menurun, yang sesungguhnya sedang merosot bukan mutu institusi, melainkan mutu peradaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *