Menjadi “Ateis” Islami: Teologi Negatif Ibn ‘Arabī sebagai Sintesa Ateisme dan Tauhid Sunni (Bagian 2)

Esai, Literasi604 Dilihat
Menjadi Ateis” Islami Teologi Negatif Ibn 'Arabī sebagai Sintesa Ateisme dan Tauhid Sunni Bagian II (1)
Foto: Istimewa

Aldi Hidayat

Menuju Teologi Negatif Ibn ‘Arabī
A. Teologi Negatif

Teologi berarti ilmu tentang ketuhanan. Dalam membahas Tuhan, teologi berangkat dari asumsi-asumsi berikut (Fayyadl, 2009, pp. 100–110). Pertama, tematisasi ada yaitu kemampuan manusia untuk menjadikan “ada” sebagai tema pengetahuan dan pembahasan. Di sini, Tuhan identik dengan ada atau lebih jelasnya, Tuhan itu sama dengan ada. Karena sama dengan ada, maka lanjut pada asumsi berikutnya. Kedua, positivitas ada yaitu kemungkinan memasukkan ada dalam kategori yang bisa dipahami. Tak heran, kajian teologis dalam Islam memberi nama lain untuk Tuhan, seperti wājib al-wujūd, al-Żāt, al-mawjūd dan lain seterusnya. Ketiga, kemungkinan menjangkau Tuhan itu, dikarenakan asumsi manusia dan Tuhan itu setara. Dalam artian, keduanya berada dalam dimensi yang sama, sehingga manusia bisa mengakses-Nya. Demikian asumsi dalam teologi positif, yaitu teologi yang beranggapan bahwa Tuhan bisa dibahas secara logis-rasional.

Jangan Lewati Bagian I: Menjadi “Ateis” Islami: Teologi Negatif Ibn ‘Arabī sebagai Sintesa Ateisme dan Tauhid Sunni

Sebaliknya, dalam teologi negatif, asumsi yang mendasari juga tiga (Fayyadl, 2009, pp. 165–176), yaitu: pertama, infinitas ada yakni ketakterbatasan ada. Lebih jelasnya, Tuhan menurut teologi negatif, adalah tak terbatas. Karena itu, setiap upaya untuk mentematisasikan Tuhan pasti menemui kegagalan. Kedua, paradoksialitas ada yaitu bahwa ada bisa didekati dengan dua hal yang berlawanan sekaligus. Dalam kaitannya dengan Tuhan, paradoksialitas ada berarti bahwa Tuhan bisa dilabeli dengan kata ada, sekaligus tidak ada. Tuhan itu memang ada, tapi ada-Nya tak seperti seluruh kategori ada. Karena tak seperti ada yang lainnya, maka Tuhan itu bisa disebut tidak ada. Ketiga, mengapa paradoksialitas ada berlaku dalam memahami Tuhan menurut teologi negatif? Itu karena hubungan antara Tuhan dan manusia bukan hubungan ekonomis (setara), melainkan heteronomi (tidak setara). Ini yang disebut heteronomi ada. Oleh sebab tidak setara, maka upaya manusia dalam menjangkau Tuhan tidak lain kecuali sekadar meraba-raba, belum mencandra Dia yang sesungguhnya.

B. Wadat al-Wujūd

Lalu bagaimana dengan teologi negatif Ibn ‘Arabī sendiri? Sebelum ke arah sana, penulis akan mengulas sedikit genre tasawufnya yang selama ini viral di kalangan peneliti, yaitu wadat al-wujūd. Apa itu gerangan? Selama ini, banyak orang mengira waḥdat al-wujūd berarti kesatuan Tuhan dan makhluk atau dalam ungkapan Syekh Siti Jenar, manunggaling kawula gusti (kesatuan hamba dan Tuhan). Sebenarnya tidak demikian.

Wadat al-wujūd bukan kesatuan ada, melainkan ketunggalan ada. Maksudnya, bagi Ibn ‘Arabī, ada yang sesungguhnya ialah Allah Swt semata. Yang lain sekadar pseudo-ada (kelihatannya ada, namun hakikatnya tidak ada). Mengenai wadat al-wujūd ini, Ibn ‘Arabī membaginya kepada dua. Pertama, al-aad yaitu keesaan dan ketunggalan Tuhan yang sama sekali tidak terjangkau. Kedua, al-wāḥid yaitu keesaan dan ketunggalan Tuhan yang bisa dijangkau. Alam semesta ini dengan seabrek keberagamannya menunjukkan adanya Sang Prima Causa yang Esa. Inilah yang disebut al-wāḥid. Al-Wāḥid inilah yang kemudian menampakkan diri (tajallī) sedemikian banyaknya menjadi makhluk-makhluk; bahwa makhluk juga memiliki citra Tuhan. Dari situ, para makhluk, terutama manusia, bisa mengenali Tuhan.

Tapi, masalahnya? Kalau sekiranya Ibn ‘Arabī menganut teologi negatif, tidakkah label-label yang dia kemukakan tentang Tuhan seperti al-wujūd, al-aḥad, al-wāḥid dan lain sebagainya adalah bagian dari teologi positif? Yakni kemungkinan membicarakan Tuhan. Tidakkah dengan demikian, teologi negatif tidak cocok dipasangkan pada Ibn ‘Arabī? Di sinilah kita masuk pada inti diskusi.

C. Teologi Negatif Ibn ‘Arabī

Ada dua kata kunci dalam memahami ketuhanan Ibn ‘Arabī, yaitu tanzīh (transendensi) dan tasybīh (immanensi). Tanzīh berarti ketakterjangkauan Tuhan, sedangkan tasybīh ialah keterjangkauan Tuhan (Murnita, 2020, pp. 70–71). Guna memperjelas hal ini, mari kita cermati pernyataan Ibn ‘Arabī berikut:

قَالَ اللهُ تَعَالَى (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ) فَنَزَّهَ (وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ) فَشَبَّهَ. وَقَالَ تَعَالَى (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ) فَشَبَّهَ وَثَنَّى (وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ) فَنَزَّهَ وَأَفْرَدَ.

Allah Swt berfirman, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”, maka Dia bertanzīh (transendensi), [lalu] “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”, maka Dia bertasybīh (immanensi). Kemudian Allah Swt berfirman, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”, maka dia bertaysbīh dan memujia, [lantas] “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”, maka Dia bertanzīh dan menyendiri (’Arabī, n.d.-b, p. 70).

Tafsir Ibn ‘Arabī atas ayat ke-11 surat Al-Syūrā ini memuat dua poin. Pertama, saat Tuhan berfirman bahwa tak satu pun menyerupai-Nya, maka yang demikian berarti Tuhan itu tanzīh (transendensi); tak terjangkau oleh apa pun dan siapa pun itu. Jika demikian, mengapa bisa ada tema ketuhanan beserta label-labelnya? Tidakkah itu berarti manusia bisa menjangkau-Nya?

Jangan Lewati: Ruang Solidaritas: Donasi Pelajar SMA Negeri 11 Yogyakarta untuk Korban Banjir Sumatra

Dalam hal ini, Ibn ‘Arabī menyatakan:

اِعْلَمْ أَنَّ أَسْمَاءَ اللهِ الْحُسْنَى نِسَبٌ وَإِضَافَاتٌ…

Ketahuilah bahwa nama-nama Allah yang terbaik itu adalah nisbat-nisbat dan sematan-sematan…. (’Arabī, n.d.-a, p. 212).

Artinya, label-label seperti al-aad, al-wāḥid, wujūd, bahkan nama Allah Swt sendiri tidak mewakili siapa Tuhan yang sesungguhnya. Semua itu hanya hubungan atau lebih jelasnya, penghubung antara manusia dan Dia yang serba misterius. Ibaratnya, apakah sama antara plang dan tempat yang dituju, taruhlah misal pantai? Apakah sama antara plang dan pantai? Jelas tidak sama. Akan tetapi, plang adalah penunjuk menuju pantai. Apakah sama antara “Allah” dan Allah? Tidak sama. Allah adalah penunjuk menuju “Allah”, bahkan kata “Allah” sebenarnya juga belum mewakili, sebab ia tanda buatan manusia yang diniatkan sebagai isyarat menuju Dia yang Maha Misterius.

Meski demikian, Tuhan bukan sama sekali tidak terjangkau. Jika sama tidak terjangkau, maka mana mungkin tema ketuhanan muncul ke permukaan. Mana mungkin umat Islam menyebutkan nama Allah. Mana mungkin ada perdebatan rumit tentang Tuhan. Semua itu adalah bukti betapa Tuhan bisa dijangkau. Kendati dapat dijangkau, jangkauan final tentang-Nya akan selalu gagal. Artinya, manusia sampai kapan pun dan di mana pun takkan pernah tuntas dalam memahami dan merasakan Tuhan.

Jangan Lewati: Mendengar Bumi: Kurikulum Ekoteologi dan Wahabi Lingkungan

Keterjangkauan Tuhan dilukiskan oleh penggalan ayat selanjutnya, yaitu bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Mendengar dan melihat adalah sifat makhluk. Mengapa dipasangkan kepada Tuhan? Satu sisi, ini bertujuan menunjukkan bahwa Tuhan bukan sama sekali tidak bisa dijangkau. Sisi lainnya, ini menampakkan bahwa mendengar dan melihat ala Tuhan tidak sama dengan mendengar dan melihat ala makhluk. Akan tetapi, mengapa Ibn ‘Arabi tadi membolak-balikkan logika? Tiadanya keserupaan Tuhan dengan makhluk pertama-tama disebut tanzīh, tapi di bagian selanjutnya, disebut tasybīh. Begitu juga dengan penggalan ayat bahwa Tuhan itu Maha Mendengar dan Maha Melihat. Satu sisi disebut tasybīh, sisi lainnya disebut tanzīh. Bagaimana gerangan? Poin kedua akan menerangkannya.

Kedua, pada sub bahasan paradoksialitas ada, disebutkan betapa hal-hal yang bertentangan bisa disematkan kepada Tuhan secara bersamaan. Tuhan itu ada sekaligus tidak ada. Disebut ada, karena memang Tuhan itu ada. Disebut tidak ada, karena memang adanya Tuhan tidak seluruh kategori ada. Demikian pula, saat Allah Swt menyebutkan Dia tidak serupa dengan apa saja, dia sebenarnya juga melakukan tasybīh (keterjangkauan), karena redaksi dan konsep “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” bisa dipahami oleh manusia. Sebaliknya, saat Tuhan menyebut Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat, dia sebenarnya juga bertanzīh, karena memang mendengar dan melihat ala Tuhan tak seperti mendengar dan melihat ala makhluk.

Jangan Lewati: Api di Tepi Kali yang Tak Bernama

Lebih lanjut, tadi disebut bahwa Tuhan bisa disebut ada sekaligus tidak ada. Sebaliknya, Tuhan juga bisa disebut bukan ada sekaligus bukan tidak ada. Mengapa? Karena memang “ada”, “tidak ada”, “bukan ada”, “bukan tidak ada”, semuanya adalah konsep manusia dalam mempersepsi realita. Semua konsep itu sangat terbatas dan ringkih untuk dipasangkan pada Tuhan. Meskipun terlalu ringkih untuk dihubungkan dengan-Nya, bukan berarti kita salah dan berdosa dalam menggunakannya. Yang keliru adalah ketika membatasi Tuhan pada “ada”, “tidak ada”, “bukan ada” dan “bukan tidak ada”. Inilah apa yang dalam teologi negatif disebut saying not (bilang tidak). Artinya, selalu “tidak” saat berusaha mengkonsepsi Tuhan, sebab Tuhan selalu jauh lebih luas dari konsepsi. Jika demikian, lalu kosakata macam apa yang pas untuk membahasakan Tuhan yang “ada”, “tidak ada”, “bukan ada” dan “bukan tidak ada”? Jawabannya ialah not saying (bungkam seribu bahasa), karena memang Dia Swt adalah misteri yang tak tepermanai, bahkan kata dan konsep “misteri” juga belum mewakili (’Arabī, 2001, p. 17).

Tampak dari uraian tadi betapa teologi negatif Ibn ‘Arabī berada dalam tarik ulur antara mengimani dan mengingkari Tuhan. Jika dikaitkan dengan judul, ia berupa “tarik tambang” antara tauhid Sunni dan ateisme. Mungkinkah ketiganya dipertemukan? Sangat mungkin. Di bawah ini ulasannya.

Aldi Hidayat, Dosen Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *