
Aguk Irawan MN
Setiap hari, ketika pergantian musim tiba, kita sering menerima berita bencana. Banjir di hulu, kekeringan di hilir, tanah longsor, udara yang kental oleh partikulat, dan laut yang perlahan menghangat bagai air rebusan yang lupa diangkat dari kompor. Ini bukan lagi fiksi ilmiah.
Jangan Lewati: Banjir Serakah
Ini adalah realitas yang menuntut kewarasan baru, sebuah cara pandang yang lebih dari sekadar “mengatasi masalah lingkungan”. Ia menuntut perombakan cara kita belajar, cara kita mengajar, cara kita hidup—singkatnya, sebuah kurikulum kehidupan yang baru.
Realitas memang tidak pernah tunggal. Ia cair, puitis, dan penuh paradoks. Demikian pula relasi kita dengan alam. Kita menyebutnya “lingkungan”, seolah-olah ia adalah dekorasi di sekeliling panggung utama kehidupan manusia.
Ketika bumi telah mengirim sinyal bahaya pada kita dan kita sedikit sadar, lalu bergegas untuk berbenah. Ada semacam ironi, barangkali, dalam gagasan tentang cap “wahabi lingkungan”. Sebab, bayangan kita tentang Wahabisme sering kali terhimpit oleh citra yang kaku: sebuah puritanisme yang menuntut kejelasan mutlak, menghapus ambiguitas, dan dalam beberapa interpretasi, mungkin abai terhadap nuansa etika di luar teks-teks primer.
Jangan Lewati: Ketika Ilmu, Iman, dan AI Bertemu: Wajah Baru Pendidikan Islam di Era Digital
Maka, ketika kita bicara tentang pentingnya menjaga alam melalui lensa “wahabi”, kita seolah dipaksa untuk menjahit dua kain yang berbeda corak dan tekstur. Namun, di situlah letak persoalannya. Jika “wahabi” dipahami sekadar sebagai gerakan pemurnian akidah yang literalis, mungkin ruang untuk etika lingkungan yang mendalam akan terasa sempit.
Sebab ajaran wahabi sering dipahami menekankan ketauhidan yang murni, menyingkirkan segala bentuk syirik, termasuk mungkin pemuliaan berlebihan terhadap alam yang dianggap bisa mengarah pada animisme atau pantheisme. Alam adalah ciptaan, tunduk pada kehendak tunggal Ilahi, bukan entitas yang memiliki kesucian intrinsik di luar penciptanya.
Akan tetapi, bukankah konservasi itu sendiri adalah sebuah tindakan pemurnian? Bukan pemurnian akidah, tapi pemurnian niat dan tindakan manusia dari keserakahan yang merusak. Jika “wahabi lingkungan” dimaknai sebagai penegasan kembali prinsip ketauhidan dalam mengelola bumi—bahwa alam ini amanah, bukan milik mutlak manusia—maka kita menemukan titik temunya.
Jangan Lewati: Era Ketergesaan
Prinsip ini menuntut kesahajaan, sikap hidup yang tidak berlebihan (israf), dan penolakan terhadap konsumsi yang membabi buta. Kapitalisme, yang sering dianggap biang keladi kerusakan lingkungan, adalah bentuk penyekutuan baru: menyembah laba di atas kelestarian. Dalam kerangka ini, etos puritan bisa menjadi landasan kuat untuk hidup minimalis dan ekologis.
Jadi, “wahabi lingkungan” mungkin bukan sebuah mazhab teologis baru, melainkan sebuah cara pandang di mana ketaatan beragama yang ketat diterjemahkan menjadi ketaatan pada hukum alam yang juga merupakan manifestasi dari hukum Tuhan.
Ia adalah pengakuan bahwa menjadi khalifah di bumi berarti bertanggung jawab penuh, dengan kesadaran penuh akan konsekuensi dari setiap penebangan pohon atau setiap polusi yang kita ciptakan. Tanpa keruwetan filosofis yang berlebihan, hanya kepatuhan yang sunyi dan radikal pada prinsip keseimbangan.
Jangan Lewati: Suara Pelajar, Ruang Debat: Ketika Ide Menjadi Getaran di UAJY
Dan, perlu dipahami, bahwa lingkungan atau alam, sebaliknya, adalah wilayah yang berbeda dengan teks. Ia bukan sekadar soal halal atau haram, melainkan soal sikap kita dan keberpihakan pada keseimbangan. Maka disinilah wacana kurikulum ekologi perlu hadir sebagai kebutuhan mendesak untuk kelestarian alam dan untuk warisan generasi di masa depan.
Tentu saja Kurikulum ekoteologi— adalah sebuah pendidikan yang melampaui biologi dan kimia, merambah etika, sejarah, dan seni—hadir untuk mengoreksi kesalahpahaman fatal ini. Pentingnya desain kurikulum yang memasukkan ekoteologi terletak pada kemampuannya untuk mengembalikan rasa keterhubungan. Ia bukan sekadar menghafal siklus air atau daftar spesies langka. Ia adalah soal menumbuhkan empati, sebuah “nurani ekologis”.
Ketika seorang anak belajar bahwa sungai di belakang sekolahnya adalah bagian dari sistem kehidupan yang sama dengan darah yang mengalir di nadinya, ia tidak akan membuang sampah sembarangan. Ia belajar menghargai, bukan sekadar memanfaatkan.
Jangan Lewati: Disebut “Gus Taek”, Ini Jejak Gus Elham Yahya
Desain kurikulum semacam ini adalah investasi jangka panjang untuk meminimalisir bencana alam. Bencana seringkali bukan murni “alam”, melainkan akibat langsung dari desain manusia yang abai: alih fungsi lahan gambut, penggundulan hutan di lereng curam, pembangunan di area resapan.
Ekoteologi mengajarkan kita untuk membaca bahasa alam, memahami ritmenya, dan merancang hidup yang bersahabat, bukan bermusuhan, dengannya. Ia mengajarkan kita kerendahan hati bahwa kita bukan penguasa tunggal, melainkan penghuni yang berbagi.
Sebagai warga dari bumi yang sama, terlepas dari latar belakang ideologis atau teologis kita, panggilan untuk merawat alam adalah panggilan universal. Ini bukan soal label—siapa di kanan, siapa di kiri, siapa dari mazhab mana. Ini soal tindakan nyata, soal kemendesakan, soal etika paling dasar dari keberlanjutan hidup.
Kurikulum ekoteologi adalah jembatan menuju masa depan yang lebih waras, yang menyadari bahwa kerusakan bumi bukanlah takdir, melainkan pilihan. Dan melalui pendidikan inilah, kita memilih untuk berubah. Wallahu’alam bishawab.
Aguk Irawan MN, Sastrawan dan Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah
















