Lakukan Pengawasan Pangan, Gus Hilmy: Gudang Penuh, Distribusi Butuh Kolaborasi

Kabar, Sleman683 Dilihat
Lakukan Pengawasan Pangan, Gus Hilmy Gudang Penuh, Distribusi Butuh Kolaborasi
Foto: Kunjungan Gus Hilmy ke Gudang Bulog Purwomartani, Kalasan, Sleman, Selasa (5/5/2026).

ejogja.ID | Sleman – Tumpukan karung beras memenuhi sudut-sudut Gudang Bulog Purwomartani, Kalasan, Sleman, Selasa (5/5/2026). Di tengah aroma gabah dan lalu-lalang pekerja, satu pesan mengemuka: stok pangan di Daerah Istimewa Yogyakarta berada dalam kondisi aman, bahkan surplus. Namun, bagi Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI DIY, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., pekerjaan rumah terbesar bukan lagi sekadar soal ketersediaan, melainkan bagaimana semua pihak menjaga distribusi pangan secara kolaboratif.

Jangan Lewati: Hari Pendidikan

“Gudang kita penuh. Ini kabar baik. Tetapi kita juga harus memastikan distribusi dan keberlanjutan sistem pangan berjalan baik,” ujar sosok yang akrab disapa Gus Hilmy saat meninjau langsung Perum Bulog DIY.

Kunjungan itu menjadi bagian dari pengawasan pangan yang dijalankan Komite II DPD RI. Gus Hilmy dan rombongan memastikan kesiapan pasokan bahan pokok, terutama beras, di tengah dinamika kebutuhan masyarakat dan fluktuasi harga pangan nasional.

Di hadapan deretan stok beras yang tersusun rapi, Gus Hilmy menilai kondisi tersebut menunjukkan keberhasilan Bulog menyerap gabah petani secara masif. Salah satu strategi yang ia soroti ialah pola “jemput bola” yang dijalankan Bulog.

Jangan Lewati: Wacana Sekolah Daring, Gus Hilmy: Jangan Jadikan Pendidikan Korban Kebijakan Energi

“Bulog punya Tim Jemput Pangan yang langsung mendatangi petani sebelum tengkulak mengambil hasil panen mereka. Langkah ini membuat stok kita surplus,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan tersebut harus diikuti langkah lanjutan berupa penguatan infrastruktur pangan di DIY. Dengan kapasitas penyimpanan yang mulai padat, pemerintah perlu segera menambah gudang baru.

“Kalau melihat kondisi sekarang, kita memang sudah mendesak untuk segera memiliki gudang baru di DIY,” tambah Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY itu.

Tak hanya menyoroti kapasitas gudang, Gus Hilmy juga memberi perhatian pada modernisasi pengelolaan pangan. Ia mengapresiasi pengelolaan gudang Bulog DIY yang bersih, tertata, dan minim hama, tetapi menurutnya Bulog tetap perlu memperbarui teknologi mesin.

“Kita senang sekali, alhamdulillah, Bulog mengelola gudang dengan baik. Tapi tadi kami juga melihat perlunya modernisasi mesin agar Bulog bisa menghasilkan lebih banyak beras berkualitas,” ungkap Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut.

Jangan Lewati: Kawal Revisi UU Pemilu, Yayasan LkiS Gelar Diskusi Publik Demi Transparansi Proses Legislasi

Di sisi lain, Bulog DIY memastikan stok pangan berada dalam kondisi kuat. Pemimpin Perum Bulog Kanwil Yogyakarta, Dedi Aprilyadi, menjelaskan bahwa Bulog saat ini mengoperasikan gudang dengan kapasitas lebih dari 285 ribu ton dan mengisinya secara optimal.

“Tingginya penyerapan gabah petani menunjukkan kesiapan Bulog menjaga cadangan pangan pemerintah,” jelas Dedi.

Bulog DIY juga mencatat progres positif dalam pengadaan beras tahun 2026. Dari target sekitar 196 ribu ton setara beras, Bulog telah merealisasikan sekitar 146 ribu ton hingga awal Mei.

“Dengan kondisi gudang yang terisi dan serapan yang terus berjalan, kami optimistis bisa mencapai target pengadaan,” katanya.

Tak berhenti pada penyimpanan stok, Bulog juga terus memperluas jalur distribusi langsung ke masyarakat melalui program Rumah Pangan Kita dan Gerakan Pangan Murah. Melalui langkah itu, Bulog berupaya menjaga keterjangkauan harga sekaligus memastikan masyarakat mudah mengakses bahan pokok.

Sementara itu, penyaluran bantuan pangan 2026 di DIY menunjukkan capaian yang beragam antarwilayah. Dari total alokasi sekitar 9,8 juta kilogram beras, Bulog telah menyalurkan sekitar 3,28 juta kilogram atau sekitar 33,39 persen.

Jangan Lewati: Nafas Profetik

Bagi Gus Hilmy, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik gudang yang penuh, ada harapan agar petani memperoleh kepastian harga, masyarakat mendapatkan akses pangan yang terjangkau, dan negara mampu menjaga ketahanan pangan secara berkelanjutan.

“Pangan bukan hanya soal stok. Kita harus berpihak pada petani dan memastikan masyarakat tetap tenang karena kebutuhan pokok tersedia,” tandasnya. [Fairuz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *