
ejogj.ID | Yogyakarta, 1 September 2025 — Gerbang-gerbang sekolah di Yogyakarta pagi ini tertutup rapat. Tak ada derap langkah siswa, tak terdengar sorak di halaman. Di balik pintu rumah masing-masing, ribuan anak harus menukar riuh kelas nyata dengan layar laptop, menyusul kebijakan pembelajaran dalam jaringan (daring) akibat memanasnya situasi demo di kota pelajar.
Jangan Lewati: Barracuda Brutal, Nyawa Ojol Affan Terpental
Ketegangan sudah terasa sejak malam sebelumnya, Ahad (31/8/2025). Aksi yang berlangsung di sekitar Polda Sleman Yogyakarta. Bakar-bakar kendaraan. Suara gas air mata bercampur sirine, massa aksi berlarian di sepanjang jalan, dan arus lalu lintas lumpuh. Beberapa sekolah yang berdekatan dengan area kericuhan segera menutup gerbang lebih awal. Situasi itulah yang jadi latar keputusan Pemkot mengalihkan KBM ke daring.
“Kepada Kepala Sekolah untuk melaksanakan pembelajaran secara daring selama dua hari mulai tanggal 1 sampai dengan 2 September 2025,” tegas Kepala Disdikpora Kota Yogyakarta, Budi Asrori, melalui surat edaran kepada seluruh sekolah dari TK hingga SMP. Ia juga menekankan agar aktivitas luar sekolah ditunda dan koordinasi intensif dilakukan bersama orang tua.
Jangan Lewati: Awan Panas di Senayan: Saat Massa Menantang Gedung Parlemen
Bagi Alya, panggilan akrab Althafun Nihayah (5), murid TK B Mekar Insani Terpadu, Suryodiningratan Yogyakarta, pagi ini terasa janggal. Biasanya ia berlarian bersama kawan-kawan di halaman sekolah. Kini ia duduk bersila di depan laptop, mengikuti ustazahnya bernyanyi lewat Google Meet. Sesekali tersenyum, tapi matanya sering melirik jendela, seolah mencari keriuhan yang hilang.
“Ia sempat tanya kenapa sekolahnya tutup,” cerita sang ibu. Ani namanya. “Saya bilang, belajar sekarang pindah ke rumah dulu, supaya aman. Dia mengangguk, meski tetap kangen main sama teman-temannya.”
Kontras dengan kesunyian kelas daring Alya, jalanan kota justru dipenuhi suara toa dan derap langkah massa aksi. Dua wajah Jogja hari ini seakan berdampingan: riuh demo di pusat kota, dan sunyi bocah-bocah kecil yang belajar lewat layar kaca.
Jangan Lewati: Bukan Ijazah Palsu, Nama Besar UGM Tercoreng Skandal Stem Cell Ilegal di Magelang
Meski hanya berbekal laptop dan koneksi internet, Alya tetap tekun mengikuti setiap instruksi ustazahnya. Di akhir sesi, ia tersenyum sambil melambaikan tangan ke layar.
“Besok masuk sekolah lagi, Bu?” tanyanya polos.
Pertanyaan sederhana itu bukan hanya milik Alya, melainkan gema ribuan anak di kota pelajar. Di tengah asap demo dan ruang kelas yang sunyi, harapan tetap sama: Jogja segera pulih, agar sekolah kembali riuh oleh tawa, bukan sekadar suara virtual. Jaga Jogja bebarengan, sekolah sesarengan.
Pasang iklan di ejogja.ID, klik: Pasang Iklan



















