Rapor Ego

Esai, Serat2319 Dilihat
rapor ego
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Setiap akhir semester, mahasiswa menerima lembar nilai. Angka-angka itu menjadi penentu beasiswa, syarat kelulusan, bahkan kadang ukuran kebanggaan keluarga. Namun, ada satu penilaian yang tidak pernah diumumkan di depan kelas. Tidak ada kolomnya dalam sistem akademik, tidak ada indeks prestasinya, tetapi paling menentukan arah hidup seseorang. Penilaian itu sederhana: seberapa jujur seseorang ketika berhadapan dengan dirinya sendiri.

Di ruang kuliah, kita mudah menjumpai mahasiswa yang lihai menyusun argumen. Mereka kritis terhadap pendapat dosen, sigap mengomentari kebijakan kampus, dan bersemangat menguliti persoalan sosial. Namun, kecakapan itu sering berhenti ketika cermin diarahkan kepada diri sendiri. Di hadapan kelemahan pribadinya, nalar yang tajam mendadak berubah menjadi pengacara yang sibuk membela.

Saya sebenarnya mampu.

Materinya memang terlalu berat.

Kalau waktunya lebih panjang, hasilnya pasti lain.

Kalimat-kalimat itu tidak selalu keliru. Persoalannya, ialah ketika ia berubah menjadi tempat persembunyian. Bukan untuk memahami apa yang terjadi, melainkan agar tidak perlu mengakui apa yang sebenarnya terjadi.

Sigmund Freud menyebut manusia sebagai makhluk yang tidak sepenuhnya dikuasai kesadarannya. Di bawah permukaan bekerja ketakutan, hasrat, dan kecemasan yang kerap menyamar sebagai pertimbangan yang rasional. Kita merasa sedang berpikir jernih, padahal yang bekerja sering kali hanyalah naluri untuk menjaga citra diri tetap utuh.

Mungkin karena itu, sebagian mahasiswa bukan sedang mengejar pengetahuan. Mereka sedang mempertahankan bayangan tentang siapa dirinya.

Sebatas Dalih

Menjelang ujian, pemandangannya hampir selalu serupa. Buku baru dibuka ketika tenggat sudah dekat. Satu video pendek berubah menjadi satu jam. Tugas yang semestinya dikerjakan bertahap baru disentuh pada malam terakhir. Ketika hasilnya mengecewakan, penyebabnya segera ditemukan: soal terlalu rumit, dosen terlalu keras, jadwal terlalu padat, atau suasana belajar kurang mendukung.

Semua itu bisa saja benar. Namun, jika cerita yang sama terus diulang setiap semester, mungkin yang sedang dipelihara bukan lagi fakta, melainkan rasa aman.

Ini gejala mekanisme pertahanan psikis. Luka tidak dihapus, hanya diberi nama yang lebih nyaman. Kekurangan tidak dihadapi, melainkan dibungkus dengan penjelasan yang terdengar masuk akal. Dengan cara itu, kegagalan terasa lebih ringan, meskipun penyebabnya tetap tinggal di tempat yang sama.

Budaya digital membuat mekanisme tersebut semakin mudah dipelihara. Hari ini, tampil rajin sering lebih sederhana daripada benar-benar tekun. Foto meja belajar lebih ramai daripada halaman buku yang selesai dibaca. Kutipan motivasi beredar jauh lebih cepat daripada kebiasaan membaca. Perlahan-lahan, penampilan menggantikan proses, sementara reputasi menyalip karakter.

Sekolah mengajarkan cara menyelesaikan persamaan, menulis esai, menyusun penelitian, dan berpikir kritis. Kampus melatih kemampuan presentasi, diskusi, hingga publikasi ilmiah. Anehnya, hampir tidak ada mata pelajaran yang mengajarkan bagaimana mengenali tipu daya batin sendiri.

Padahal, di sanalah banyak persoalan bermula.

Ketakutan berganti nama menjadi perfeksionisme. Keengganan bertanya dianggap sifat pendiam. Kebiasaan menunda pekerjaan dibungkus dengan alasan lebih produktif saat tenggat semakin dekat. Semakin tinggi kemampuan intelektual seseorang, sering kali semakin canggih pula pembenaran yang sanggup ia bangun.

Lembaga pendidikan sangat teliti mengoreksi jawaban yang salah, tetapi jauh lebih longgar ketika berhadapan dengan cara berpikir yang keliru. Lahirlah generasi yang fasih berargumentasi, tetapi kikuk melakukan otokritik.

Paling Sulit

Barangkali ukuran keberhasilan belajar tidak berhenti pada indeks prestasi atau predikat kelulusan. Ada ukuran lain yang jauh lebih matang: kemampuan mengoreksi diri sebelum menyalahkan keadaan, keberanian mengakui kekurangan sebelum mencari kambing hitam, dan kelapangan hati untuk menerima bahwa tidak semua kegagalan berasal dari luar.

Nilai semacam itu tidak pernah tercetak dalam transkrip akademik. Tidak ada medali, tidak ada predikat cumlaude, dan tidak ada tepuk tangan saat wisuda. Namun, itulah penilaian yang menentukan apakah ilmu benar-benar membentuk manusia, atau sekadar menambah kecakapan menyusun pembenaran.

Belajar bukan semata-mata mengisi kepala dengan pengetahuan, melainkan membongkar ilusi yang diam-diam dibangun oleh ego. Sebab, kegagalan terbesar bukanlah memperoleh angka rendah, melainkan kehilangan kemampuan untuk bercermin.

Masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan berpikir, tetapi juga oleh keberanian untuk mengakui satu kalimat yang paling sulit diucapkan: Masalahnya bukan keadaan. Masalahnya adalah aku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *