
ejogja.ID | Yogyakarta, Kantung harapan menyambut guru-guru muda yang siap mengabdi di Sekolah Rakyat. Namun, harapan itu terhempas saat sekitar 160 guru secara serentak menyampaikan surat pengunduran diri, tepat tiga hari lalu. Mengapa hal ini terjadi?
Jangan Lewati: Kolaborasi LPDP UNS dan Puskesmas Gajahan: Layanan Gratis dan Beasiswa
Jauh dari Rumah: Dilema Lokasi
“Mereka merasa penempatannya jauh dari domisilinya,” ujar Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), mengungkap alasan utama di belakang kepergian masal ini. Banyak dari guru tersebut harus berpindah ke lokasi terpencil, bahkan untuk memulai harinya, waktu tempuh terlalu memakan tenaga dan biaya.
Infrastruktur Minim: Tantangan Hidup
Anggota Komisi V DPR RI, Irine Yusiana Roba Putri, menyoroti persoalan mendasar yang kerap terabaikan: penataan infrastruktur. “Air bersih, sanitasi, listrik, dan akses jalan bukan pelengkap, tapi kebutuhan pokok,” tegasnya. Menurut Irine, guru tidak bisa diharapkan bertahan jika kebutuhan dasar di lokasi penempatan belum terpenuhi.
Kurangnya Koordinasi Lintas Sektor
Persoalan ini mengundang kritik terhadap perencanaan program Sekolah Rakyat. Irine menilai mundurnya guru sebagai cerminan minimnya koordinasi lintas sektor antara kementerian terkait – BKN, KemenPANRB, dan lembaga lainnya. Padahal, sistem rekrutmen guru pun telah diatur secara formal oleh BKN dan KemenPANRB.
Harapan yang Terabaikan
Program Sekolah Rakyat, yang telah berhasil membangun 100 unit sekolah di seluruh Indonesia dan menjangkau lebih dari 9.700 siswa, tampak kurang memperhatikan kesejahteraan para pendidik. Jika guru tak merasa nyaman, bagaimana program ini bisa mencapai tujuan mulianya?
Jangan Lewati: Menautkan Langit dan Bumi: Seruan Prof. Amin Abdullah untuk Dosen Muda Bangun Integrasi Keilmuan dan Keislaman
Ini namanya kisah di balik angka. Bayangkan seorang guru muda dari desa terpencil, penuh semangat ingin mengajar di masa depan generasi. Namun, saat menerima lokasi penempatan, rasa antusias itu sirna. Perjalanan berjam-jam ke sekolah tanpa jaminan fasilitas mendasar, membuatnya memilih kembali ke zona nyaman.
Strategi program yang ideal seharusnya mendahulukan kedekatan lokasi dan modal dasar hidup agar pengabdian bisa berlangsung lama — bukan cepat berakhir sebelum dimulai.
Langkah Selanjutnya: Solusi Diperlukan
- Evaluasi kebijakan penempatan agar memperhitungkan jarak dan akses transportasi bagi guru.
- Fasilitas dasar seperti listrik, air bersih, dan sanitasi harus tersedia sebelum guru betah bertugas.
- Koordinasi lintas lembaga perlu ditingkatkan untuk perencanaan lebih holistik dalam pengembangan Sekolah Rakyat.
Sekitar 160 guru mengundurkan diri dengan alasan penempatan yang jauh dan kondisi infrastruktur yang belum memadai. Untuk merealisasikan visi pendidikan inklusif di daerah terpencil, sudah saatnya pemerintah memperkuat perencanaan yang manusiawi dan terintegrasi dengan baik.
Dengan pendekatan yang lebih memperhatikan para pendidik, harapan agar Sekolah Rakyat bisa jadi solusi pemerataan pendidikan akan menjadi lebih nyata dan berkesinambungan.














