Kecam Tayangan Trans7, Gus Hilmy Tegas: Melukai Martabat Pesantren

Kabar, Nasional1327 Dilihat

 

Kecam Tayangan Trans7, Gus Hilmy Tegas Melukai Martabat Pesantren
Foto: Istimewa

ejogja.ID | Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., mengecam keras tayangan salah satu program di Trans7 yang melecehkan pesantren dan memelintir peran kiai.

Jangan Lewati: Kelas Kosong

Bagi pria yang akrab disapa Gus Hilmy itu, media mestinya tidak hanya mengejar sensasi, tetapi juga menjaga etika dan keseimbangan dalam membingkai narasi publik. Tayangan yang sembrono, menurutnya, bisa menimbulkan luka sosial dan memperlebar jurang kesalahpahaman.

“Jurnalis dan tim produksi yang membuat tayangan di Trans7 itu telah abai terhadap etika, merusak citra pesantren, dan melukai rasa hormat jutaan santri kepada gurunya. Ini melukai martabat pesantren,” tegas Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut dalam keterangan tertulis, Selasa (14/10/2025).

Pesantren Bukan Ruang Feodal

Gus Hilmy menilai, tuduhan bahwa pesantren merupakan ruang feodal dan penuh penindasan menunjukkan ketidaktahuan terhadap sistem pendidikan pesantren. Justru di balik disiplin dan tata krama yang ketat, tersimpan pendidikan moral dan sosial yang membentuk karakter santri.

“Roan (kerja bakti), ngecor, nyapu, atau membantu kegiatan pondok itu bukan perbudakan. Itu bentuk latihan khidmah, pendidikan pelayanan, dan pengabdian kepada masyarakat. Santri belajar memberi tanpa pamrih, belajar amal jariyah, dan berlatih menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang,” ujar salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta tersebut.

Pesantren Menanggung Beban Sosial Negara

Lebih jauh, Gus Hilmy menjelaskan bahwa pesantren selama ini menjadi ruang sosial yang menampung ribuan santri dari berbagai latar belakang ekonomi. Banyak di antara mereka datang tanpa bekal apa pun dan ditanggung penuh oleh pesantren.

Jangan Lewati: Gus Hilmy: Islam Tegaskan Martabat Penyandang Disabilitas Psikososial

“Banyak santri yang datang ke pesantren hanya membawa pakaian di badan. Mereka belajar, makan, dan hidup di sana tanpa dipungut biaya. Pesantren menanggung semuanya. Kalau mau jujur, justru pesantrenlah yang menanggung beban sosial negara,” kata Gus Hilmy.

Selain menjadi pusat pendidikan, pesantren juga berperan penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Kehidupan sosial-ekonomi warga di sekitar pesantren berjalan berkat aktivitas para santri dan kiai.

“Pesantren menghidupi lingkungannya. Warung, toko, petani, bahkan tukang becak di sekitar pondok, semua mendapat manfaat dari keberadaan pesantren. Jadi ketika pesantren dilecehkan, bukan hanya santri yang tersakiti, tapi juga masyarakat yang menggantungkan hidupnya di sana,” lanjutnya.

Kritik Boleh, Fitnah Tidak

Gus Hilmy menilai, jurnalis yang membuat tayangan tersebut gagal memahami makna pendidikan pesantren yang sejati. Bagi dunia pesantren, disiplin dan pengabdian bukan bentuk penindasan, melainkan latihan spiritual dan moral yang membentuk kepribadian luhur.

“Media semestinya menjadi jembatan pemahaman antara dunia pesantren dan masyarakat luas, bukan malah menyulut prasangka. Karena itu, jurnalis maupun tim produksi yang membuat tayangan itu harus bertanggung jawab,” tegas anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut.

Jangan Lewati: Lomba Festival Pujian Jawa untuk Semarak Hari Santri Nasional 2025

Ia menegaskan bahwa pesantren tidak anti kritik, tetapi menolak fitnah dan kesalahpahaman yang lahir dari ketidaktahuan. Pesantren, katanya, adalah penjaga akhlak bangsa dan sumber moralitas publik.

“Santri bisa sabar, tapi tidak akan diam jika kehormatannya diinjak. Pesantren tidak butuh pembelaan dengan amarah, tapi dengan ketegasan dan fakta. Wartawan yang keliru harus berani mengakui kesalahannya,” ungkap Gus Hilmy.

Pelajaran untuk Semua Pihak

Di akhir pernyataannya, Gus Hilmy menekankan bahwa peristiwa ini harus menjadi pelajaran bersama—baik bagi media, masyarakat, maupun pesantren. Setiap pihak memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga marwah dan memperluas pemahaman.

“Kita semua belajar dari kejadian ini. Media, masyarakat, dan pesantren punya tanggung jawab yang sama: menjaga marwah, memperluas pemahaman, dan menumbuhkan saling percaya,” tutup Gus Hilmy.

Pasang iklan di ejogja.ID, klik: Pasang Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *