Harlah 100 Tahun Nahdlatul Ulama, Gus Hilmy: NU Harus Terus Relevan

Bantul, Kabar1236 Dilihat
Harlah 100 Tahun Nahdlatul Ulama, Gus Hilmy NU Harus Terus Relevan
Foto: Harlah 100 Tahun NU di aula kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bantul.

ejogja.ID | Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., menegaskan pentingnya relevansi Nahdlatul Ulama (NU) agar tetap bertahan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Hal tersebut ia sampaikan dalam orasi kebangsaan pada peringatan Harlah 100 Tahun NU di aula kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bantul, Jumat (30/1/2026).

Jangan Lewati: Manakib Tongkat Syaikhona Cholil Plus Lirik Puisi D Zawawi Imron di Resepsi Puncak 1 Abad NU Jatim

Gus Hilmy menyampaikan bahwa sejak berdiri, NU tidak hanya mengurusi persoalan keagamaan, tetapi juga kebangsaan dan kemanusiaan. Menurutnya, NU harus terus hadir dan melayani masyarakat dalam berbagai situasi sosial agar tetap relevan.

“NU sudah berusia 100 tahun. Kita tidak hanya ingin NU hidup 100 tahun lagi, tetapi hidup sampai akhir zaman. Jika NU ingin bertahan, maka NU harus relevan. Relevan berarti hadir dan melayani,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa relevansi menjadi kunci keberlanjutan organisasi. Relevansi tersebut harus terwujud dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Pada tingkat paling dasar, nahdliyin sebagai santri harus menampilkan akhlak sebagai identitas utama.

Jangan Lewati: Ziarah Literasi

Untuk menggambarkan relevansi NU, Gus Hilmy mengutip lagu Lir-ilir karya Sunan Kalijaga. Ia menilai lagu tersebut tetap kontekstual hingga saat ini untuk merefleksikan kondisi NU di usia satu abad.

Gus Hilmy juga mengingatkan agar NU tidak kehilangan peran di tengah meningkatnya kualitas sumber daya kader. Ia menyoroti banyaknya kader NU yang kini berkiprah sebagai insinyur, dokter, birokrat, dan politisi. Menurutnya, NU perlu menata potensi tersebut agar berkontribusi secara terarah dan terorganisasi.

“Kader NU telah berdiaspora dan menempati berbagai posisi strategis. Potensi ini perlu dikelola agar memberikan kontribusi nyata bagi organisasi dan masyarakat,” katanya.

Jangan Lewati: Mahasiswa Duel, Asal Papua Tewas Ditusuk

Terkait pelayanan organisasi, Gus Hilmy menilai NU tidak cukup hanya memiliki lembaga pendidikan dan layanan kesehatan. Ia menekankan pentingnya pengelolaan yang disiplin dan profesional agar layanan tersebut benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Ia juga menyoroti pengelolaan unit baru PCNU Kabupaten Bantul, yakni Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) NU. Menurutnya, kekuatan NU tidak terletak pada simbol, melainkan pada kualitas pelayanan yang amanah, transparan, dan profesional.

Selain itu, Gus Hilmy mendorong pengurus NU untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi. Ia menilai pemanfaatan sarana digital dalam pengelolaan program sosial dan ekonomi menjadi kebutuhan agar lebih efektif dan efisien.

“Penggunaan teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan, termasuk dalam pengelolaan Koin NU dan pemasaran produk-produk NU melalui platform digital,” ujarnya.

Jangan Lewati: Lapang Dada

Menutup orasinya, Gus Hilmy menekankan pentingnya sinergi antara NU, pemerintah daerah, dan berbagai elemen masyarakat. Ia menyebut kolaborasi lintas sektor sebagai syarat utama agar NU tetap berperan dalam mengawal Indonesia menuju peradaban yang lebih baik.

Mau ngiklan di ejogja.ID? Klik: Pasang Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *