Filsafat Tahun Baru: Sebuah Refleksi Atas Pertanyaan Apa yang Baru di Tahun Baru?

Literasi, Opini865 Dilihat
Filsafat Tahun Baru: Sebuah Refleksi Atas Pertanyaan Apa yang Baru di Tahun Baru?
Foto: Istimewa

Rusdi, M.A

Apa yang baru di setiap tahun baru? Mengapa orang harus merayakannya? Apa muatan ide paling fundamental di balik perayaan tahun baru? Setiap orang dapat memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Orang melihatnya dari berbagai perspektif, mulai dari —mungkin— agama, politik, moral, hingga sudut pandang lainnya. Namun, mari kita berpikir lebih mendalam mengenai pertanyaan pertama: apa yang benar-benar baru di tahun baru?

Jangan Lewati: Ibu Ekologi

Pada setiap penghujung Desember hingga awal Januari, waktu tetap bergerak seperti biasa. Bumi terus berputar pada porosnya. Waktu hampir tidak menunjukkan perubahan apa pun. Suara terompet yang menggema di mana-mana, gemerlap kembang api, serta raungan sirine tidak sungguh-sungguh menandai kebaruan apa pun. Manusia dapat menghadirkan semua itu kapan saja. Jika orang menjadikan gemuruh suara dan cahaya tersebut sebagai tanda peralihan dari tahun lama ke tahun baru, lalu apa pengaruh nyata dari peralihan itu?

Orang-orang merayakan tahun baru dengan gegap gempita dalam suasana yang serba sesaat. Setelah itu, keadaan kembali berjalan seperti biasa. Tidak ada yang benar-benar baru, kecuali angka-angka pada kalender. Apakah angka-angka tersebut mampu mengubah keadaan? Tidak. Matahari tetap terbit dan terbenam seperti biasa. Orang-orang tetap bekerja. Anak-anak kembali bersekolah. Para ibu tetap berbelanja seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Lalu, apa yang sebenarnya baru di tahun baru? Mari kita pikirkan bersama beberapa hal.

Jangan Lewati: Menautkan Iman, Pangan, dan Bumi: Nyai Nissa Wargadipura di IIQ An Nur Yogyakarta

Pertama, pernahkah kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan dan kita hadapi hari ini secara tidak langsung merupakan kelanjutan dari masa lalu? Kita bahkan dapat mengatakan bahwa “hari ini adalah masa lalu yang dijalani lebih awal.” Mengapa demikian? Karena setiap gerak, tingkah laku, dan tindakan yang kita lakukan langsung berubah menjadi masa lalu satu detik kemudian, satu menit berikutnya, satu jam setelahnya, dan seterusnya. Dengan cara ini, tahun baru yang orang rayakan tepat pada pukul 00.00 seketika berubah menjadi masa lalu pada pukul 00.01. Begitu cepatkah? Ya, memang secepat itu.

Kedua, jika istilah tahun baru merujuk pada waktu, maka manusia sepenuhnya menentukan maknanya. Bhagavad Gita menyatakan, “Tidak pernah ada waktu di mana kami tidak ada, dan tidak akan ada waktu di mana kami tidak ada.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa waktu memperoleh maknanya justru karena keberadaan manusia yang memikirkannya dan menandainya untuk berbagai keperluan serta aktivitas. Tahun baru tidak memiliki esensi apa pun jika manusia tidak mengubah kualitas nilai dari aktivitas-aktivitasnya. Kata “baru” menandai peralihan: dari satu keadaan menuju keadaan lain. Oleh karena itu, yang harus berubah dalam peralihan tersebut bukanlah waktunya, melainkan cara kita berpikir dan bertindak di dalam waktu. Waktu dari tahun lama ke tahun berikutnya nyaris tidak menghadirkan kebaruan yang nyata.

Jangan Lewati: Seni Menyampaikan Khutbah Jum’at Agar Lebih Inspiratif

Ketiga, Agustinus, seorang filsuf awal abad pertengahan Eropa, membagi waktu ke dalam dua ranah: waktu subjektif yang manusia rasakan dalam batin dan hati sanubari, serta waktu objektif yang jam dan kalender tunjukkan melalui hari, tanggal, dan tahun. Kedua jenis waktu ini berjalan menurut logikanya masing-masing. Seseorang yang menunggu dalam kemacetan selama satu jam merasakan waktu secara berbeda dari seseorang yang menunggu kekasihnya selama satu jam, meskipun durasi objektifnya sama. Perbedaan itu terletak pada waktu subjektif, bukan pada waktu objektif.

Pada masa awal perkembangan ilmu pengetahuan modern di Eropa, para pemikir menyingkirkan pandangan tentang waktu subjektif. Mereka menempatkan waktu objektif sebagai satu-satunya ukuran yang penting. Manusia mengesampingkan perasaan dan kesadaran batinnya tentang waktu, sampai kemudian Immanuel Kant —filsuf pencerahan dari Jerman— mengajukan kritik. Kant menegaskan bahwa waktu tidak hanya berada di luar diri manusia sebagai realitas objektif, tetapi juga melekat dalam pikiran manusia dan membantu manusia memahami dunia.

Jangan Lewati: Mobil MBG Tabrak Puluhan Siswa dan Guru di SDN 01 Kalibaru, Sopir Ditetapkan Tersangka

Karena itu, waktu menjadi bermakna ketika akal dan pikiran manusia hidup di dalamnya. Sebaliknya, waktu terasa biasa saja ketika manusia tidak menghidupkan akal dan kesadarannya di dalam waktu tersebut. Perdebatan ini kemudian melahirkan gagasan tentang “aku dan waktu,” yang menegaskan adanya hubungan timbal balik antara pikiran manusia dan waktu. Seperti pernyataan dalam Bhagavad Gita, tidak pernah ada waktu tanpa kehadiran manusia.

Dengan demikian, tahun baru hanya akan menjadi waktu objektif yang berkutat pada nama bulan, tanggal, hari, dan tahun jika manusia melepaskannya dari proses berpikir. Akal dan pikiran kitalah yang bekerja untuk mewujudkan makna “baru” dalam tahun baru. Jika kita meyakini bahwa waktu bergerak secara siklik dan berulang, maka istilah tahun baru justru kehilangan makna substantifnya. Bukankah sesuatu yang terus berulang tidak lagi menghadirkan kebaruan? Sebaliknya, jika kita memandang waktu sebagai linier, maka seperti penjelasan sebelumnya, sesuatu yang kita sebut baru pada detik ini segera berubah menjadi masa lalu pada detik berikutnya.

Rusdi, M.A, Dosen IAINU Kampus 2 Wagirpandan Kebumen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *