Dua Jalan, Satu Khidmat: Kiai Miftah dan Gus Yahya dalam Kepemimpinan NU

Kabar, Nasional825 Dilihat
Dua Jalan, Satu Khidmat: Kiai Miftah dan Gus Yahya dalam Kepemimpinan NU
Foto: Kiai Miftahul Akhyar dan Gus Yahya di Ponpes Lirboyo, 25/12/2025

ejogja.ID | Di tengah konflik terbuka dan saling tuding di tubuh PBNU hari ini, kepemimpinan Nahdlatul Ulama berada dalam ketegangan yang tak bisa lagi ditutup dengan bahasa normatif. Gus Yahya Cholil Staquf dan Kiai Miftahul Akhyar menempati dua poros otoritas yang secara struktural untuk saling menopang, namun dalam praktik justru kerap berhadapan. Biografi ini menelusuri jejak keduanya. Bukan untuk meromantisasi harmoni, melainkan untuk membaca bagaimana friksi kepemimpinan, otoritas keulamaan, dan arah organisasi NU dipertaruhkan di tengah perubahan zaman.

Kiai Miftahul Akhyar: Ulama Sunyi Penjaga Marwah Keilmuan

Di tengah hiruk-pikuk wacana publik dan sorotan media, KH Miftahul Akhyar memilih berjalan di jalur sunyi. Lahir di Surabaya pada 1946, ia menempuh hidup sebagai ulama pesantren tulen. Ia tumbuh melalui laku tirakat, penguasaan kitab kuning, dan kesetiaan pada sanad keilmuan yang panjang.

Perjalanan keilmuannya tertambat kuat di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, salah satu pusat kajian fiqh terbesar di Indonesia. Di lingkungan pesantren, nama Kiai Miftah sebagai referensi ahli fikih, usul fikh, dan tasawuf, dengan reputasi keilmuan yang matang sekaligus sikap pribadi yang bersahaja. Ia menghidupi ilmunya bukan lewat panggung, melainkan lewat ketekunan mengajar dan kesetiaan pada tradisi.

Jangan Lewati: Ibu Ekologi

Berbeda dengan banyak tokoh publik, Kiai Miftah jarang tampil di media. Ia lebih sering hadir dalam forum-forum terbatas: mengajar santri, bermusyawarah dengan para kiai, dan menjadi rujukan keilmuan yang senyap namun menentukan. Dalam tradisi NU, sosok seperti Kiai Miftah berperan sebagai penjaga keseimbangan. Mereka yang memastikan organisasi tetap berpijak pada ilmu, adab, dan akhlak.

Kepercayaan para kiai sepuh mencapai puncaknya pada Muktamar NU 2021, ketika ia diamanahi jabatan Rais Aam PBNU, posisi tertinggi dalam struktur keulamaan NU. Jabatan ini bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan mandat untuk menentukan arah keagamaan, menjaga fatwa, dan merawat legitimasi moral organisasi. Dalam berbagai kesempatan, Kiai Miftah menegaskan pentingnya kesetiaan NU pada manhaj ahlussunnah wal jama’ah, sembari merawat persatuan umat di tengah perubahan zaman.

Ia memimpin dengan keteladanan, bukan retorika. Dengan ketenangan dan kedalaman ilmu, Kiai Miftah berdiri sebagai kompas etik, menjaga NU agar tidak terseret euforia kekuasaan.

Gus Yahya: Dari Pesantren Rembang ke Panggung Dunia

Sementara itu, di Rembang, Jawa Tengah, pada 10 Februari 1966, lahir seorang anak pesantren yang kelak sapaan akrabnya: Gus Yahya. Nama lengkapnya KH Yahya Cholil Staquf, putra ulama besar NU, KH Cholil Bisri. Sejak kecil, hidupnya lekat dengan kitab, diskusi, dan denyut tradisi Nahdlatul Ulama.

Gus Yahya tumbuh dalam lingkungan pesantren yang tidak hanya menanamkan ilmu agama, tetapi juga keberanian berpikir dan keterbukaan pandangan. Setelah menempuh pendidikan pesantren, ia melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Dari sinilah terbentuk corak intelektualnya: santri yang mampu membaca teks klasik, sekaligus pembaca tajam realitas zaman.

Perjalanannya di NU berlangsung bertahap. Pengalaman penting datang ketika ia mendapat kepercayaan menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dari peran ini, Gus Yahya berhadapan langsung dengan diplomasi, politik global, dan kompleksitas relasi antarperadaban. Pengalaman tersebut menguatkan keyakinannya bahwa Islam—dan NU—harus hadir dan berbicara di tingkat global, bukan hanya dalam ruang domestik.

Jangan Lewati: Kisah Lahirnya Kekuasaan dan Keyakinan: Agama Elite dan Agama Sipil

Ia kemudian dikenal luas melalui gagasannya tentang Islam rahmatan lil ‘alamin sebagai proyek peradaban, bukan sekadar slogan moral. Gus Yahya kerap tampil di forum internasional, berdialog dengan pemimpin agama lintas iman, dan terlibat dalam isu-isu sensitif seperti ekstremisme, konflik Timur Tengah, serta rekonsiliasi antaragama.

Pada Muktamar NU ke-34 di Lampung (2021), warga NU memilihnya sebagai Ketua Umum PBNU. Sejak itu, ia memimpin NU dengan pendekatan strategis: mendorong NU menjadi aktor global, tanpa melepaskan akar pesantren dan tradisi keulamaan. Bagi sebagian kalangan, langkah-langkahnya terasa berani dan tidak jarang memicu kontroversi. Namun satu hal konsisten: Gus Yahya memandang NU sebagai kekuatan peradaban, bukan sekadar organisasi massa.

Dua Jalan, Satu Khidmat

Dalam kepemimpinan NU hari ini, Gus Yahya dan Kiai Miftahul Akhyar menghadirkan dua wajah yang saling melengkapi. Gus Yahya membawa NU melangkah ke ruang global. Penuh dialog, strategi, dan keberanian membaca dunia. Kiai Miftah menjaga NU tetap berakar pada tradisi, dengan ilmu, kebijaksanaan pesantren, dan ketenangan etik. Di antara terang panggung dunia dan sunyi ruang keilmuan, NU bergerak. Dua jalan, satu khidmat.

Mau ngiklan di ejogja.ID? Klik: Pasang Iklan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *