Di Halaqah RMI PCNU Kota Pekalongan, Gus Hilmy Ajak Ulama Menjawab Krisis Lingkungan

Kabar, Nasional551 Dilihat
Di Halaqah RMI PCNU Kota Pekalongan, Gus Hilmy Ajak Ulama Menjawab Krisis Lingkungan
Foto: Gus Hilmy Gedung Aswaja PCNU Kota Pekalongan, Sabtu (18/7/2026)

ejogja.ID | Kota Pekalongan — Halaqah Nilai-nilai Keulamaan Pesantren di Gedung Aswaja PCNU Kota Pekalongan, Sabtu (18/7/2026), tidak sekadar membahas tradisi keilmuan pesantren. Forum yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Kota Pekalongan bersama Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) UIN KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu justru mengajak para ulama membaca ulang peran mereka dalam menjawab persoalan-persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, mulai dari krisis lingkungan hingga tantangan dakwah di era digital.

Jangan Lewati: Silaturahmi Ta’mir Masjid NU di Kulon Progo, LTMNU DIY Perkuat Tata Kelola Berbasis Digital

Mengusung tema “Membaca Etnografi Ulama Pesantren sebagai Episentrum Keilmuan dan Peradaban di Nusantara”, halaqah tersebut mempertemukan para kiai, pengasuh pesantren, pengelola FKDT, hingga Badko TPQ dalam ruang diskusi yang menegaskan kembali posisi pesantren sebagai penjaga moral sekaligus penggerak peradaban.

Menjawab Krisis Lingkungan

Katib Syuriyah PBNU, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., mengajak para ulama memperluas makna ri’ayah (pengayoman) terhadap umat. Menurutnya, tanggung jawab seorang kiai tidak berhenti pada pembinaan ibadah, tetapi juga menyentuh persoalan sosial, kemanusiaan, dan lingkungan hidup.

Ia menjadikan kondisi lingkungan di Pekalongan sebagai contoh konkret bagaimana ulama perlu mengambil sikap.

“Apabila NU diandaikan sebagai pesantren besar, maka perhatian kiai-kiai NU adalah kepada urusan-urusan yang penting dan mendesak di tengah masyarakat. Contoh di Pekalongan ini adalah NU harus berani berbicara soal sampah, pencemaran sungai, polusi udara dan bahaya limbah terhadap kesehatan. Hal ini sebagai bentuk sikap kasih sayang terhadap permasalahan umat. Jika ulama diam saja, maka hilanglah keteladanan dan ri’ayah-nya terhadap umat,” ujar Gus Hilmy.

Senator asal Daerah Istimewa Yogyakarta itu menegaskan bahwa seorang kiai harus tampil sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar pengamat. Ia mengibaratkan kepedulian ulama terhadap masyarakat seperti seorang kiai yang setiap hari membangunkan santrinya untuk salat Subuh.

Jangan Lewati: Fakultas Tarbiyah IIQ An Nur Yogyakarta Gelar Pembekalan PLP 2026: Pendidik Profesional

“Jika NU merupakan pesantren besar, maka tugasnya sama, yaitu membahasakan fikih dan regulasi dengan bahasa yang dipahami masyarakat hari ini. Fokus utamanya adalah ri’ayah atau njagani umat. Jika kiai begitu perhatian kepada santri, maka NU juga harus menunjukkan kepedulian yang sama terhadap persoalan masyarakat. Jangan sampai abai,” tegasnya.

Menyiapkan Generasi Adaptif

Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta itu juga mengingatkan bahwa sosok kiai tidak pernah terpisah dari ekosistem pesantren. Baginya, pendidikan pesantren tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga menyiapkan santri menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas keislaman dan keindonesiaannya.

Menurut Gus Hilmy, hubungan kiai dan santri jauh melampaui relasi guru dan murid di sekolah formal.

“Hubungan kiai dan santri adalah hubungan kekeluargaan, bapak dan anak, yang melampaui ruang kelas. Selama 24 jam kiai mendidik melalui keteladanan atau uswatun hasanah,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengkritik cara pandang yang masih membagi pesantren ke dalam kategori “tradisional” dan “modern” hanya berdasarkan kitab yang diajarkan.

“Pesantren yang mampu berdialog dengan perkembangan peradaban sesungguhnya adalah pesantren modern, apa pun kitab yang diajarkannya,” ujarnya.

Lebih jauh, Gus Hilmy menempatkan kiai sebagai cultural broker atau jembatan budaya. Menurutnya, ulama masa kini perlu mampu menerjemahkan gagasan modern ke dalam bahasa tradisi, sekaligus menjelaskan khazanah turats dengan bahasa yang dipahami masyarakat modern, tetap berpegang pada prinsip al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah.

Tantangan Zaman

Halaqah yang dipandu Wakil Dekan I Fakultas Adab UIN Gus Dur, Dr. Hj. Ani, juga menghadirkan sejumlah tokoh nasional.

Rais Syuriyah PBNU Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen mengingatkan bahwa seorang ulama harus memiliki tiga dimensi utama, yakni kedalaman ilmu, kekuatan spiritual, dan keunggulan akhlak. Mengutip Imam Al-Ghazali dalam At-Tibru al-Masbuk, ia menggambarkan ulama sebagai dokter bagi umat.

“Jika dokternya sakit, bagaimana mungkin bisa menyembuhkan umatnya,” tegas Gus Ghofur.

Jangan Lewati: Lakukan Pengawasan Pangan, Gus Hilmy: Gudang Penuh, Distribusi Butuh Kolaborasi

Sementara itu, Rois Syuriyah PCNU Kota Pekalongan Dr. KH. Hasan Suaidi menjelaskan bahwa halaqah tersebut sejalan dengan ikhtiar PBNU menyusun Piagam Keulamaan. Piagam itu bisa menjadi pedoman bagi ulama, panduan bagi santri yang bercita-cita menjadi ulama, sekaligus rujukan masyarakat dalam memilih guru yang memiliki integritas dan nilai-nilai luhur.

Dari sisi lain, Dr. KH. Hatim Ghozali dari RMI PBNU mengingatkan tantangan baru yang muncul akibat perubahan demografi. Berdasarkan hasil survei yang ia paparkan, keterikatan Generasi Z terhadap institusi keagamaan menunjukkan tren menurun. Kondisi itu, menurutnya, menjadi sinyal bagi para kiai untuk merumuskan strategi dakwah yang lebih adaptif agar nilai-nilai keulamaan tetap hidup dan mampu menjangkau generasi masa depan. [frz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan