Wis Udah

Serat997 Dilihat
wis udah
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Ada sesuatu yang ganjil dalam perayaan wisuda. Di satu sisi, kita menyaksikan kebahagiaan yang begitu nyata. Orang tua tersenyum bangga, mahasiswa mengenakan toga, dan kamera menangkap momen yang kelak menjadi kenangan. Di sisi lain, tersimpan kecemasan yang tidak selalu tampak dalam foto. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan tinggi, para wisudawan harus menjumpai dunia yang tidak menyajikan kepastian sebagaimana kurikulum menyediakan jadwal perkuliahan.

Penanda akhir masa studi itu menjadi semacam pintu gerbang menuju kehidupan yang penuh tuntutan. Mereka memasuki dunia kerja ketika persaingan semakin ketat, teknologi terus mengubah lanskap pekerjaan, dan ukuran keberhasilan semakin beragam. Gelar sarjana yang dahulu dianggap sebagai tiket menuju kehidupan mapan kini tidak menjamin pekerjaan, apalagi kesejahteraan.

Di tengah gegap gempita wisuda, muncul pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah pendidikan tinggi benar-benar mempersiapkan mahasiswa menghadapi kehidupan, atau hanya mengantarkan mereka pada sebuah seremoni kelulusan?

Wisuda telah berkembang menjadi ritual sosial yang sarat makna. Ia menjadi perayaan akademik, sekaligus mimbar pengakuan atas perjuangan mahasiswa dan keluarganya. Di atas panggung, nama-nama dipanggil, gelar disematkan, dan ijazah diserahkan. Setiap wisudawan memperoleh titel resmi bahwa dirinya telah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Realitas Gelar

Kita sekarang tumbuh bersama internet, media sosial, dan teknologi digital yang menjanjikan kemudahan sekaligus menghadirkan tekanan baru. Kita dapat mengakses pengetahuan dari seluruh dunia, tetapi juga terus berhadapan dengan gambaran kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses. Di tengah arus tersebut, wisuda tidak jarang menjadi konten yang harus tampil sempurna. Bukan hanya ijazah yang dirayakan, melainkan juga penampilan, lokasi foto, jumlah ucapan selamat, dan respons orang lain.

Ada ironi di sini. Mahasiswa telah menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar memahami dunia, tetapi mereka juga hidup dalam budaya yang mendorong perbandingan tanpa henti. Bahkan, perayaan atas pencapaian pribadi menjadi arena pembuktian sosial.

Setelah foto wisuda beredar, kehidupan segera menghadirkan persoalan yang jauh lebih konkret. Bagaimana membayar kebutuhan sehari-hari? Bagaimana merasakan tekanan keluarga yang berharap anaknya segera mandiri? Dan bagaimana menerima kenyataan ketika pencapaian akademik tidak sejalan dengan kondisi ekonomi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan jarak antara keberhasilan akademik dan keberhasilan hidup. Perguruan tinggi bisa membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan, tetapi tidak selalu mampu menyediakan jalan mulus menuju rumah impian.

Jangan Lewati: Bara Radikalisme

Sebab itu, kita perlu berhati-hati ketika menyebut mahasiswa sekarang sebagai generasi yang manja, terlalu sensitif, atau rendah resiliensi. Penilaian semacam itu sering kali mengabaikan perubahan struktural yang mereka hadapi. Kecemasan seorang lulusan tidak pasti menunjukkan kelemahan pribadi. Bisa jadi, kegelisahan tersebut seagai respons yang masuk akal terhadap ketidakpastian ekonomi dan tuntutan sosial yang kian kompleks.

Salah satu persoalan mendasar dalam pendidikan tinggi adalah kecenderungan menjadikan pekerjaan sebagai ukuran utama keberhasilan pendidikan. Perguruan tinggi didorong untuk menghasilkan lulusan yang sesuai kebutuhan industri, sementara mahasiswa diarahkan agar memiliki kompetensi yang relevan dengan pasar kerja.

Tentu saja, orientasi tersebut tidak sepenuhnya keliru. Pendidikan tinggi memang perlu mempersiapkan lulusan yang mampu menjalani kehidupan profesional. Namun, problem muncul ketika seluruh makna pendidikan direduksi menjadi kemampuan memperoleh pekerjaan.

Pendidikan seharusnya tidak hanya melatih mahasiswa agar bisa menjawab kebutuhan pasar, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, kepekaan sosial, dan tanggung jawab moral. Dunia kerja terus berubah, sementara kemampuan manusia untuk mempertanyakan keadaan, memahami persoalan, dan mengambil keputusan etis tetap dibutuhkan.

Masa Depan

Kita belajar menerima bahwa kehidupan kadang tidak sesuai rencana. Usaha tidak selalu menghasilkan imbalan yang setimpal. Keberhasilan tidak semudah membalikkaan telapak tangan. Barangkali, salah satu beban terbesar generasi sekarang adalah tuntutan untuk segera berhasil. Mereka dituntut mandiri, produktif, kreatif, adaptif, dan mampu bersaing.

Di tengah tuntutan tersebut, penting bagi para wisudawan untuk memahami bahwa kehidupan bukan perlombaan yang memiliki garis akhir seragam. Setiap orang memiliki keadaan, kesempatan, dan tanggung jawab yang berbeda. Tidak semua lulusan harus segera menjadi pengusaha sukses, pegawai perusahaan ternama, atau aparatur negara. Ada pula yang memilih mengembangkan usaha kecil, melanjutkan pendidikan, mengabdi kepada masyarakat, atau merintis jalan yang belum banyak dikenal.

Akan tetapi, kita juga tidak boleh menjadikan penerimaan terhadap ketidakpastian sebagai alasan untuk membiarkan persoalan struktural terus berlangsung. Tidak adil jika seluruh tanggung jawab atas masa depan dibebankan kepada individu, sementara kesempatan kerja, akses pendidikan berkualitas, dan perlindungan sosial belum merata.

Perguruan tinggi perlu mengevaluasi kembali hubungan antara kurikulum, kebutuhan masyarakat, dan dunia kerja. Pendidikan tinggi juga perlu membangun kemitraan yang tidak hanya menghubungkan mahasiswa dengan perusahaan, tetapi membuka ruang bagi pengembangan kapasitas intelektual dan sosial mereka. Di sisi lain, pemerintah dan dunia usaha perlu menciptakan ekosistem yang memungkinkan lulusan memasuki dunia kerja secara lebih manusiawi.

Lebih jauh, keluarga dan masyarakat perlu mengubah cara memandang wisuda. Jangan sampai toga yang seharusnya menjadi simbol pencapaian malah menjadi beban ekspektasi. Orang tua tentu berhak berharap anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun, harapan juga perlu disertai pemahaman bahwa perjalanan menuju kemandirian tidak berlangsung cepat.

Jangan Lewati: Ritual Administratif

Kita gak usah terlalu menuntut lulusan menjadi generasi yang selalu tangguh, produktif, dan berhasil seketika. Mereka juga berhak mengalami kegagalan, merasakan kebingungan, dan mengambil waktu untuk menemukan arah hidupnya. Namun, mereka tetap perlu membangun keberanian untuk menyikapi kenyataan dan tanggung jawab atas pilihan-pilihannya.

Wis udah. Kuliah boleh selesai, tetapi belajar menjadi manusia tak pernah usai. Sebagaimana makna viśuddha: sudahkah kita benar-benar jernih berpikir, bersih berniat, dan luhur dalam laku?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *