Pendidikan Khas kejogjaan, Gus Hilmy: Duta Budaya dari Kalangan Pelajar

Jogja, Kabar799 Dilihat
Gus Hilmy Apresiasi Kebijakan Pemerintah Tertibkan Ruang Digital Identitas Resmi
Foto: Dokumen ejogja.ID

ejogja.ID | Yogyakarta – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., mengapresiasi inisiatif Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sri Sultan meluncurkan Pendidikan Khas keJogjaan (PKJ) dan mengintegrasikannya ke dalam kurikulum pendidikan. Program tersebut juga menyasar jenjang perguruan tinggi. Senator yang akrab disapa Gus Hilmy itu menyambut langkah tersebut. Menurutnya, PKJ dapat memperkuat identitas dan karakter pelajar serta mahasiswa.

Jangan Lewati: Di Halaqah RMI PCNU Kota Pekalongan, Gus Hilmy Ajak Ulama Menjawab Krisis Lingkungan

Pendidikan khas Jogja juga dapat menjembatani pendatang dengan kekayaan peradaban Yogyakarta. Mereka bisa mengenal sejarah, budaya, bahasa, dan filosofi kehidupan masyarakat setempat. “Ini yang sudah lama kita harap-harapkan. Sudah kita dorong-dorong dari dulu. Kita menyambut baik inisiatif Ngarso Dalem tentang Pendidikan Khas keJogjaan.

Kami berharap kurikulumnya memadai dan memberikan ruang luas bagi siswa serta mahasiswa. Mereka perlu menyelami Jogja lebih dalam. Mereka bisa mempelajari sejarah, bahasa, tradisi, hingga filosofi kehidupan,” ujar Gus Hilmy di Yogyakarta. Ia menyampaikan pernyataan tersebut melalui keterangan tertulis pada Sabtu (22/08/2026).

Mengutip pepatah populer, Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menekankan pentingnya pengenalan. Menurutnya, pengenalan dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap suatu tempat dan budaya. “Orang Melayu bilang, ‘tak kenal, maka tak sayang’. Pelajar dan mahasiswa perlu mengenal Jogja dengan karakteristiknya yang unik. Dengan mengenal Jogja, mereka akan lebih menghormati dan menghargai peradaban kota ini,” tambahnya.

Jangan Lewati: Proklamasi Jiwa

Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY itu juga menyoroti mahasiswa perantau. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk menempuh pendidikan di Yogyakarta. Menurut Gus Hilmy, pendidikan budaya mencerminkan penghormatan antara warga lokal dan para pendatang. “Mereka datang dari luar Jogja. Itu artinya mereka menaruh hormat pada budaya kita. Maka, sudah sepantasnya kita memberikan pengenalan yang benar.

Kita ingin mereka menjadi ‘Duta Jogja’. Mereka bisa bercerita dan mempromosikan citra positif Yogyakarta. Mereka dapat membawa cerita tersebut saat kembali ke daerah asal masing-masing,” jelas Gus Hilmy. Salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta itu kemudian menyoroti kondisi selama ini. Menurutnya, mahasiswa sering mengenal Jogja melalui percakapan di ruang publik atau angkringan.

Gus Hilmy menilai kurikulum resmi dapat memperluas pemahaman mereka. Pendidikan tersebut juga dapat menghadirkan pengetahuan yang lebih autentik. “Memang, mengenal Jogja bisa dari mana saja. Kita bisa mengenalnya dari angkringan dan pergaulan sehari-hari. Namun, pengenalan akan jauh lebih baik jika kita lakukan secara komprehensif.

Tidak semua kota bisa melakukan ini,” tegas Gus Hilmy. Lebih jauh, Gus Hilmy berharap PKJ memberikan dampak positif bagi stabilitas sosial Yogyakarta. Ia juga berharap pendidikan budaya dapat menanamkan nilai luhur sejak dini. Menurutnya, nilai tersebut dapat membantu menekan kenakalan remaja. Contohnya, klitih dan penyalahgunaan narkoba.

Jangan Lewati: Workshop Pendidikan; RUU Sistem Pendidikan Nasionl, Wakil Ketua Komisi X DPR RI: PPPK Bisa Jadi ASN Mulai Tahun 2027

“Kami optimistis, pemahaman budaya yang kuat dapat tertanam sejak dini melalui pendidikan. Nilai kemanusiaan dan keberadaban akan menjadi rem alami bagi generasi muda. Nilai tersebut dapat membantu mereka menghindari berbagai tindakan negatif,” pungkas Gus Hilmy. [frz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *