Alienasi Digital

Serat439 Dilihat
Alienasi Digital
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Ada masa ketika manusia takut diawasi. Kini, manusia malah takut tidak dilihat.

Kita memasang kamera di depan wajah sendiri, mengabarkan apa yang dilakukan, di mana berada, dengan siapa berbicara, bahkan apa yang dirasakan. Kita menyebutnya berbagi. Tetapi tanpa disadari, manusia mulai mengubah dirinya menjadi tontonan.

Masalahnya, bukan candu gawai, tapi ketika teknologi digital menjadi perantara utama manusia dalam mengenali dunia sekaligus mengenali dirinya sendiri. Bagi Erich Fromm, alienasi terjadi ketika manusia kehilangan hubungan autentik dengan dirinya. Ia tidak lagi menjadi subjek yang mengarahkan hidup, tetapi berubah menjadi objek dari kekuatan yang ia ciptakan sendiri.

Di ruang digital, paradoks itu semakin kentara. Kita merasa bebas memilih apa yang ditonton, dibaca, disukai, diikuti, dan ditampilkan. Namun, kebebasan itu segera berubah menjadi pekerjaan mengelola citra.

Kita memilih foto terbaik, menyusun kalimat paling menarik, dan memilah pengalaman yang layak dibagikan. Kita tidak sekadar menjalani kehidupan. Kita mulai mengkurasi kehidupan.

Dalam modus having, manusia memahami keberadaan melalui apa yang dimiliki. Kepemilikan tidak lagi sebatas benda, tetapi juga status, reputasi, hubungan, dan pengaruh. Dunia digital memperluas logika itu.

Aku memiliki pengikut. Aku memiliki audiens. Aku memiliki reputasi. Aku memiliki personal brand. Aku memiliki pengaruh.

Masalah muncul ketika kepemilikan berubah menjadi ukuran keberadaan. Jumlah pengikut menjadi nilai diri. Like menjadi pengakuan. Komentar menjadi penilaian. Views menjadi semacam rapor eksistensial. Kita lalu menyerahkan cermin diri kepada layar.

Ketika pengikut berkurang, unggahan sepi, atau algoritma berhenti mendistribusikan konten, yang terguncang bukan hanya performa akun, melainkan rasa berharga. Kita takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya bukan diri kita. Namun, karena citra telah disatukan dengan identitas, kehilangan citra terasa seperti kehilangan diri. Di sinilah alienasi digital bekerja: manusia mulai menganggap representasi dirinya sebagai dirinya sendiri.

Kita membuat profil, lalu perlahan hidup sesuai profil itu. Citra bahagia menuntut kita terus terlihat bahagia. Citra intelektual membuat kita takut mengakui ketidaktahuan. Wajah sukses membuat kegagalan terasa memalukan.

Pertanyaan eksistensial pun bergeser dari Siapa saya? menjadi Bagaimana saya harus terlihat?

Perubahan itu tampak kecil, tetapi konsekuensinya besar. Manusia tidak lagi hanya mengalami kehidupan. Ia mengawasi dirinya sendiri dari kemungkinan penilaian orang lain. Ia makan sambil memikirkan bagaimana makanan itu terlihat. Bepergian sambil membayangkan bagaimana perjalanan itu tampil di layar. Membaca sambil mencari kalimat yang layak dikutip. Pengalaman akhirnya harus memiliki nilai tampil.

Kebahagiaan harus dibuktikan. Pengetahuan harus dipertontonkan. Kesedihan bahkan dapat berubah menjadi konten. Pada titik tertentu, manusia hadir secara fisik, tetapi sebagian kesadarannya berada di luar dirinya: mengawasi layar, membaca respons, dan menghitung angka.

Diri menjadi penonton bagi dirinya sendiri.

Perbedaan having dan being menjadi penting. Having berpusat pada apa yang dimiliki. Being berpusat pada bagaimana manusia hadir dan menjalani kehidupan. Dalam modus being, seseorang tidak harus memiliki sesuatu untuk merasa berharga. Ia menemukan keberadaan melalui berpikir, mencintai, mencipta, mengalami, memberi, dan mengembangkan kemampuan manusiawinya.

Nah, solusi alienasi digital bukanlah perang melawan teknologi. Kita tidak perlu membuang gawai untuk kembali menjadi manusia. Yang perlu ditolak adalah ketika teknologi dan pengakuan sosial mengambil alih pusat diri. Layar boleh menjadi jendela, tetapi jangan menjadikannya cermin utama untuk menentukan siapa kita. Kita perlu mampu berpikir tanpa harus mengunggah, berbuat baik tanpa bukti, mencintai tanpa tontonan, dan diam tanpa merasa tertinggal. Yang paling mendasar: mampu berada tanpa harus terlihat. Sebab terlihat dan ada bukanlah hal yang sama.

Seseorang dapat memiliki jutaan pengikut dan tetap tidak mengenal dirinya sendiri. Sebaliknya, seseorang dapat nyaris tidak terlihat di ruang digital, tetapi hidup dengan kesadaran penuh atas dirinya. Jika angka menentukan harga diri, angka telah memiliki kita. Saat komentar menentukan keyakinan diri, opini orang lain telah memiliki kita. Ketika algoritma menentukan apa yang kita lihat dan pikirkan, perhatian kita telah dimiliki oleh sesuatu di luar diri. Dan jika citra digital menentukan siapa kita, pusat diri telah berpindah.

Alienasi mencapai bentuk paling halus ketika manusia tidak merasa sedang terasing. kita merasa sedang mengekspresikan diri, merasa bebas, bahkan merasa sedang menjadi dirinya sendiri. Padahal, kita mungkin hanya sedang memenuhi tuntutan citra yang dibangun.

Manusia yang being tidak membutuhkan kepemilikan untuk membuktikan bahwa ia ada. Ia tidak harus terus terlihat untuk merasa hadir. Sebab keberadaan manusia tidak ditentukan oleh seberapa banyak ia dimiliki oleh dunia, melainkan oleh seberapa utuh ia mampu memiliki dirinya sendiri. Maka, alienasi digital bukan terutama persoalan teknologi. Apakah kita masih mengendalikan citra, teknologi, dan perhatian —atau sebaliknya: semua itu yang mengendalikan kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *