Soal Gaji Dosen

Opini3588 Dilihat
Soal Gaji Dosen
Foto: Dokumen Pribadi Mun`im Sirry
Prof. Mun`im Sirry
Belakangan, banyak orang nyindir gaji dosen di Indonesia kecil. Kemudian, mereka membandingkan dengan negara-negara di Asia. Maka, grafiknya tampak jomblang sekali. Gaji dosen kita sangat rendah!
Saya tidak tahu apa ini menggambarkan situasi yang sebenanya. Sebab, situasi penggajian atau, lebih tepatnya, penerimaan uang (gaji) di Indonesia berbeda. Setidaknya dengan kampus Amerika yang saya tahu.
Di Amerika, dosen tidak menerima uang apapun selain gaji. Tidak ada uang menguji disertasi, tak ada uang hadir pertemuan, tak ada uang menjadi panitia ini dan itu, tak ada uang transpot atau makan, tak uang tunjangan jabatan, dan seterusnya.
Jangan Lewati: Alasan Kenapa Gen-Z Itu Lemah
Di Indonesia kan berbeda. Semua kegiatan yang saya sebutkan di atas, dan hal-hal lain serupa, disediakan amplop. Maka, tanda tangan sangat penting. Menanda-tangani kehadiran berarti serah terima amplop berisi uang.
Jadi, kalau diakumulasi, dosen yang aktif terlibat di berbagai kegiatan akan mendapatkan uang bulanan cukup besar. Bahkan, mungkin lebih besar dari gaji dosen di beberapa negara tetangga.
Karena itu, yang perlu diperbaiki di Indonesia ialah sistem penggajian. Hapuskan bentuk-bentuk tunjangan. Hapuskan uang amplop kegiatan menguji skripsi atau terlibat di kepanitiaan. Belum lagi soal uang tukin apa itu yang sempat dituntut dosen ke Jakarta. Jadikan semua bentuk bayaran itu sebagai gaji bulanan. Bukankah semua kegiatan tersebut memang kerja dosen? Bukan tugas ekstra. Lagi pula model uang tunjangan dan amplop-amplopan itu rentan disalahgunakan. Kita orang Indonesia sangat cendas untuk mengakal-akali agar uang bisa keluar.
Jadi, sistem penggajian dosen (dan juga karyawan) di kampus menyediakan ruang untuk disalahgunakan bahkan dikorupsi. Dimanipulasi sana-sini. Diakal-akali. Misalnya, dicari cara supaya kegiatan tertentu diadakan di hotel. Kok bisa mau rapat saja di hotel? Alasannya simpel: supaya bisa bagi-bagi uang kampus!!!
Jangan Lewati: Penguasa, Buku dan Peradaban
Pengalaman saya, dosen di kampus saya tidak menerima uang apapun selain gaji. Termasuk jika Anda jadi pimpinan atau direktur. Kompensasi jabatan ialah dikurangi jam mengajar dan kenaikan prosentasi gaji tahunan. Saya tahu ini karena saya direktur WRWC (World Religions World Church).
Di kampus saya, gaji dosen naik setiap tahun antara 2% dan 5%. Jika dapat promosi akademik, misalnya dari asisten menjadi asosiat atau jadi profesor, gaji naik 12%, kalau tidak salah. Jadi, tak ada yang bisa dimanipulasi. Semua jelas dan transparan.
Jika performance saya bagus dalam kesarjanaan, mengajar, dan layanan, saya tahu saya berhak naik gaji secara maksimal. Jika itu tidak terjadi, saya bisa menyampaikan protes. Begitu cara kerja meritokrasi.
Sudah saatnya kampus di Tanah Air berbenah soal penggajian yang sangat penting ini. Sistemnya perlu diperbaiki. Perlu jelas dan transparan. Jangan sampai orang-orang kampus, pimpinan struktural dan dosen, kerjanya mengakal-akali sistem yang memang bisa diakali.
Jika tidak diperbaiki, bukan hanya kesan jomblang antara gaji dosen +62 dan negara lain yang akan tampak. Perbedaan penerimaan uang antardosen di satu kampus juga sangat kentara. Kasihan dosen-dosen yunior atau mereka yang tidak punya jabatan struktural. Tanda tangan mereka tidak laku.
Prof. Mun`im Sirry, Profesor studi Islam asal Indonesia yang mengajar di University of Notre Dame, Amerika Serikat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *