Berhenti Membaca

Serat1777 Dilihat
berhenti membaca
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Kita hidup pada zaman ketika manusia dapat mengetahui apa saja dalam hitungan detik. Jempol bergerak lebih cepat daripada pikiran. Potongan video dianggap cukup untuk menghakimi perkara rumit. Judul berita dijadikan dasar kesimpulan tanpa membaca isinya. Kecerdasan buatan mampu menyajikan jawaban dalam sekejap. Kita semakin mudah memperoleh informasi sekaligus merasa paling tahu.

Jangan Lewati: Wis Udah

Di media sosial, setiap orang dapat menjadi komentator atas hampir segala persoalan. Politik, agama, pendidikan, lingkungan, bahkan konflik kemanusiaan diperdebatkan melalui kalimat pendek yang sering kehilangan konteks. Orang berlomba menyampaikan pendapat sebelum mengenali akar masalah. Perbedaan pandangan berubah menjadi permusuhan, sementara koreksi dianggap sebagai serangan terhadap harga diri. Dalam keramaian itu, yang paling lantang kerap memperoleh perhatian lebih besar daripada yang paling cermat.

Teknologi atau media sosial biang keroknya? Bukan. Tetapi, cara memperlakukan pengetahuan. Kita menginginkan jawaban cepat, tetapi enggan menjalani proses memahami. Gemar berbicara, tetapi tidak selalu bersedia mendengarkan. Ingin dianggap cerdas, tetapi belum tentu siap mengakui kekeliruan.

Maka, benarlah apa yang diwedarkan Denis Diderot: manusia berhenti berpikir ketika berhenti membaca. Ini warning tentang bahaya kehilangan keinginan untuk belajar dan mempertanyakan keyakinan.

Kita sering mandek mencari pengetahuan bukan karena tidak memiliki kesempatan, melainkan karena merasa sudah mengetahui ma fissamawati wa ma fil ardi (segala isi langit dan bumi). Pengalaman pribadi dianggap sebagai ukuran kebenaran. Pendapat sendiri diperlakukan sebagai sesuatu yang mutlak. Pandangan berbeda ditengarai sebagai ancaman. Inilah bentuk ketidakbecusan menyadari batas pengetahuan sendiri.

Di sinilah kesombongan intelektual bermula. Istilah dikuasai, konsep tidak. Informasi dikumpulkan untuk memperkuat pendapat sendiri, bukan menguji kebsahan. Pengetahuan akhirnya menjadi aksesori intelegensi: dipamerkan untuk menunjukkan kecerdasan, tidak untuk memperbaiki cara berpikir.

Namun, banyak membaca pun tidak spontan jadi pribadi bijak bestari. Buku bisa untuk mencari pembenaran, teori untuk memenangkan perdebatan, dan kutipan untuk memperkuat prasangka. Karena itu, masalahnya bukan seberapa banyak kita membaca, melainkan apakah bersedia menguji apa yang dibaca.

Jangan Lewati: Bara Radikalisme

Apakah kita mau mengakui kekeliruan ketika berhadapan dengan argumen yang lebih tepat? Sanggupkah kita menerima bahwa orang yang berbeda pandangan belum tentu salah? Kedewasaan intelektual diukur dari kesediaan mengoreksinya.

Socrates menekankan pentingnya memeriksa kehidupan. Hidup yang tak diuji, tak layak dijalani. Kita tidak seharusnya menyerahkan seluruh pertimbangan kepada kebiasaan, otoritas, atau pendapat mayoritas. Kebebasan berpikir menuntut kecakapan menelisik alasan di balik penerimaan maupun penolakan. Kita tidak harus menolak tradisi atau otoritas, namun perlu mengerti pondasi untuk melanggengkan ataupun mengkritiknya.

Berpikir kritis tidak bermaksud mencurigai segala sesuatu. Berpikir kritis berarti menimbang bukti, memeriksa argumen, dan membuka kemungkinan bahwa kesimpulan perlu diperbaiki.

Hal ini sangat relevan bagi dunia pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi semestinya membentuk manusia yang berani berpikir mandiri. Pendidikan kehilangan sebagian maknanya ketika keberhasilan hanya diukur melalui nilai, sertifikat, publikasi, dan kemampuan menjawab soal.

Mahasiswa dapat menyelesaikan tugas tanpa tahu persoalan. Dosen dapat mengajar bertahun-tahun tanpa memperbarui cakrawala pengetahuannya. Perpustakaan bisa saja dipenuhi buku dan jurnal, namun atmosfer akademik tak bergeming.

Teknologi dapat membantu mahasiswa menemukan sumber, merangkum bacaan, dan membandingkan argumen. Namun, jika jawaban yang dihasilkan langsung ditelan tanpa verifikasi, proses belajar berubah menjadi kegiatan mekanis. Ibarat makan tanpa mengunyah, informasi masuk tanpa sempat dicerna. Langsung main telen aja. Kacau.

Masalahnya bukan penggunaan teknologi, melainkan penyerahan tanggung jawab berpikir kepadanya. Alat dapat membantu menyusun argumen, tetapi manusia tetap wajib memeriksa validitas premis, ketepatan bukti, dan kelayakan kesimpulan. Kemudahan memperoleh jawaban justru menuntut pemahaman akurat untuk menilai kebenarannya.

Pendidikan karena itu harus mensupport daya gedor yang menempatkan pertanyaan, argumentasi, dan pemeriksaan bukti sebagai bagian utama pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup diminta mengantongi jawaban; mereka harus tangkas mengurai alasan dan mempertanggungjawabkan pemikiran.

Jangan Lewati: Jadi Santri

Ancaman terbesar bagi pikiran adalah malas. Malas refleksi walau gratis. Kematian intelektual dapat terjadi pada siapa saja, termasuk mereka yang berpendidikan tinggi, menguasai banyak teori, dan dihormati sebagai tokoh. Mereka mungkin tetap berbicara dan menulis, tetapi jalan pikirannya lebih lambat ketimbang siput karena nalarnya sering nganggur.

Manusia tidak kehilangan pikirannya hanya karena menutup sebuah buku. Rancang bangun pemikirannya mulai ambruk ketika menutup diri dari kemungkinan bahwa ia bisa keliru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *