Meracik Panduan Skripsi Kualitas Prima, FEBI IIQ An Nur Yogyakarta Asah Kepekaan Metodologi Kualitatif

Bantul, Kabar2035 Dilihat
Meracik Panduan Skripsi Kualitas Prima, FEBI IIQ An Nur Yogyakarta Asah Kepekaan Metodologi Kualitatif
Foto: Dr. Ahmad Sihabul Millah, M.A menyampaikan materi metologi penelitian.

ejogja.ID | Bantul – Di meja rapat itu, aroma kopi bercampur dengan ide-ide segar. Gelak tawa kecil sesekali memecah keseriusan diskusi. Bukan, ini bukan obrolan santai biasa —ini adalah momen ketika para dosen FEBI IIQ An Nur Yogyakarta meracik “resep rahasia” untuk skripsi mahasiswa, agar tak hanya layak sidang, tapi juga berkelas di dunia akademik. Selasa (12/8/2025) itu, para dosen berkumpul tidak untuk rapat rutin —mereka sedang membicarakan masa depan skripsi mahasiswa.

Jangan Lewati: Loker Dosen Tetap Manajemen Dakwah STAI Terpadu Yogyakarta 2025

Dekan FEBI, Muhammad Arif Kurniawan, tersenyum lebar saat membuka acara. “Kita ingin skripsi mahasiswa FEBI punya kualitas terbaik, dan itu dimulai dari pemahaman yang sama di antara para dosen,” ujarnya. Kata-katanya seperti memberi isyarat bahwa hari itu adalah tentang menyatukan visi, bukan sekadar menyerap teori.

Pemateri utama, Rektor IIQ An Nur Yogyakarta, Dr. Ahmad Sihabul Millah, M.A, mengawali penjelasannya dengan gaya santai. Ia mengajak peserta membayangkan empat “kaca mata” untuk melihat dunia penelitian—positivistik, post-positivistik, konstruktivistik, dan kritis. “Setiap paradigma ini punya cara pandang sendiri tentang kebenaran,” katanya, sambil menambahkan contoh-contoh yang membuat hadirin mengangguk-angguk.

Jangan Lewati: Perempuan Harus Merdeka dari Jeratan Radikalis-Terorisme

Beberapa dosen sesekali tertawa saat mendengar analogi lucu Sihab. “Kalau salah memilih pendekatan penelitian, ibaratnya kayak salah pilih resep masakan —hasilnya bisa jauh dari harapan,” candanya.

Di ujung meja, Listiyowati, Sekretaris FEBI, mencatat dengan cepat. Selesai sesi, ia berkata, “Batch berikutnya kita akan bahas teknik lapangan: cara mengumpulkan data, melakukan triangulasi, sampai analisisnya.” Ucapannya seperti janji, bahwa perjalanan ini belum selesai, dan akan ada babak baru yang lebih seru.

Jangan Lewati: 20 Persen APBN untuk Pendidikan, Tapi Guru-Dosen Masih ‘Gigit Jari’

Ketika rapat berakhir, tak ada yang langsung pulang. Beberapa dosen masih bercengkerama sambil merapikan catatan dan menutup laptop. Mereka tahu, pekerjaan besar sedang dimulai —membangun pedoman skripsi yang akan menjadi bekal generasi mahasiswa berikutnya. Dan seperti kopi yang menghangatkan pagi menjelang siang itu, semangat mereka juga masih mengepul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *