Ruang Terbelah

Serat560 Dilihat
ruang terbelah
Foto: Dokumen ejogja.ID

Lebaran, pada satu waktu, pernah terasa utuh. Ia bukan hanya peristiwa, melainkan pengalaman yang dihuni sepenuhnya: tubuh hadir, perhatian menetap, dan penuh kebersamaan. Meski tak selalu diucapkan, lebaran seakan menemukan tempatnya sendiri. Orang pulang bukan sekadar berpindah ruang, tapi juga kembali ke sesuatu yang lebih dalam: relasi, ingatan, bahkan mungkin diri.

Kini, pada 2026, suasana itu tidak sepenuhnya hilang, tetapi tampak berubah bentuk. Di tangan Gen Z, momen lebaran seperti mengalami pelunakan. Tidak lagi sepadat dulu. Ia tetap dijalankan, tetapi tidak lagi sepenuhnya mengikat. Ada yang dinegosiasikan, ada yang dipilih ulang, ada pula yang dilepaskan dengan tenang. Baju baru tak lagi wajib. Oleh-oleh tak lagi menjadi ukuran. Bahkan mudik pun, yang dulu nyaris sakral, kini bisa dipertimbangkan ulang.

Relasi Cair

Relasi cair. Perubahan ini, dalam bahasa Zygmunt Bauman (2000), dapat dibaca sebagai gejala liquid modernity: ketika bentuk-bentuk sosial yang dulu kokoh menjadi cair, fleksibel, dan tidak lagi memiliki daya ikat yang kuat. Relasi tidak sepenuhnya hilang, tetapi juga tidak lagi mengikat seperti sebelumnya. Silaturahmi tetap dilakukan, namun sering kali dalam intensitas yang lebih ringan. Cukup untuk memenuhi norma, belum tentu untuk menghidupkan keriangan. Tetapi di titik inilah muncul sesuatu yang lebih halus, sekaligus lebih mengganggu.

Di ruang tamu, orang-orang berkumpul. Nama-nama disebut. Tangan saling bersentuhan. Lalu, perlahan, perhatian beralih. Kepala menunduk. Layar menyala. Percakapan terputus sebelum sempat menjadi dalam. Tidak ada konflik, tidak ada penolakan —hanya kehadiran yang terpecah.

Fenomena ini sering dibaca sebagai tanda kemerosotan etika. Namun, penilaian semacam itu mungkin terlalu cepat. Barangkali bukan sekadar perubahan sopan santun, melainkan perubahan dalam struktur pengalaman itu sendiri. Dalam dunia yang diwarnai oleh kompetisi perhatian, kehadiran tidak lagi utuh. Ia terbagi, bergerak, dan tidak menetap. Seseorang dapat berada di satu ruang, tetapi tidak sepenuhnya berada di sana. Sebuah kondisi yang selaras dengan gambaran kehidupan cair yang terus bergerak dan tidak stabil. Jika segala sesuatu menjadi cair, pertanyaan berikutnya adalah: apa yang hilang ketika kepadatan itu lenyap?

Adab Retak

Pertanyaan ini membawa kita pada pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas (1980), yang melihat krisis modern bukan semata pada perubahan bentuk sosial, melainkan pada hilangnya adab. Kemampuan menempatkan sesuatu secara tepat dalam tatanan etika. Persoalan utama bukan bahwa orang membuka ponsel saat silaturahmi, tetapi bahwa perhatian —sebagai inti dari kehadiran— tidak lagi diberikan pada tempat yang semestinya.

Silaturahmi, dalam tradisi, bukan sekadar pertemuan fisik. Ia adalah peristiwa etis dan spiritual: menghadirkan diri secara utuh di hadapan yang lain. Ketika perhatian teralih, yang tereduksi bukan hanya intensitas interaksi, tetapi juga kedalaman kebersamaan. Relasi tetap ada, tetapi kehilangan gravitasi. Ini sebuah gejala yang menunjukkan hilangnya disiplin jiwa dan pikiran dalam menempatkan prioritas perjumpaan.

Apa yang tampak sebagai cairnya relasi dan terganggunya adab menandakan melemahnya kesadaran pengalaman kita. Hal penting dan yang remeh tidak lagi dibedakan secara tegas. Notifikasi dapat mengambil alih percakapan; layar dapat menggantikan tatap muka. Namun, di tengah semua itu, Lebaran tidak sepenuhnya kehilangan dirinya.

Ia justru sedang berada dalam proses. Tidak lagi sepenuhnya kolektif, tetapi juga belum sepenuhnya personal. Gen Z tidak meninggalkannya, tetapi mencoba menghidupkannya kembali dengan cara yang mereka pahami: lebih reflektif, lebih hemat, lebih selektif. Mereka ingin makna, tetapi hidup dalam dunia yang terus-menerus mengganggu kemungkinan untuk memaknainya secara utuh. Di situlah ketegangannya.

Tradisi mencair dalam arus modernitas dan di balik pencairan itu ada risiko yang lebih dalam: hilangnya kemampuan untuk hadir secara tepat, untuk memberi perhatian secara utuh, untuk menjaga makna agar tidak tereduksi menjadi sekadar rutinitas belaka.

Lebaran memang tidak sedang hilang. Ia hanya sedang mencari bentuk baru di antara cairnya relasi dan rapuhnya perhatian. Di antara keduanya, kita berdiri: mencoba tetap hadir, meski dunia sekitar terus menarik ke tempat lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *