
Maghfur M. Ramin
Setiap pagi, kita belajar untuk hadir. Tapi di ruang-ruang kelas dan layar-layar digital itu, yang hadir hanyalah tubuh. Jiwa tertinggal di belakang notifikasi, tenggelam di antara tugas dan target. Pendidikan menjadi panggung di mana semua tampak aktif, tapi sejatinya pasif.
Kelas terlihat penuh, tapi sesungguhnya kosong. Zonk dari semangat, dari rasa ingin tahu, dari kegembiraan belajar yang dulu membuat kita tak sabar datang ke sekolah. Kita hidup dalam rutinitas pendidikan yang semakin rapi di atas meja, tapi semakin rapuh dalam jiwa.
Kadang suasananya lucu sekaligus menyedihkan: dosen berbicara panjang lebar di depan layar PowerPoint, sementara mahasiswa sibuk menggulir ponsel. Melihat meme, bermain gim, atau menyelesaikan tugas dari mata kuliah lain. Kadang karena dosennya tidak punya daya pikat, kadang juga ghirah belajarnya memang telah padam. Di sekolah pun serupa: guru memberi tugas, murid mengerjakan sekadarnya. Semua yang benar-benar hidup hanyalah sistemnya, bukan manusianya.
Kita hadir, tapi tidak serius hadir. Seperti login ke kelas, tapi logout dari makna.
Di Balik Sistem
Pendidikan kini terasa seperti mesin birokrasi yang berdetak tanpa henti. Guru-guru bergulat dengan laporan digital, asesmen nasional, dan pelatihan berjenjang. Dosen menulis laporan kinerja, mengejar skor akreditasi, menyesuaikan diri dengan sistem yang tak kenal lelah.
Lain dari itu, siswa dan mahasiswa belajar bukan karena ingin tahu, melainkan takut gagal. Mereka menghafal, bukan memahami; berlari mengejar nilai, bukan menyelami makna. Di dunia yang serba administratif ini, manusia dalam pendidikan perlahan direduksi menjadi data, nilai, dan indikator.
Pendidikan yang semestinya memanusiakan justru berubah jadi ajang kompetisi angka. Semua diukur, dinilai, dan diarsipkan. Tapi, semakin sedikit yang benar-benar dirasakan. Akibatnya: dehumanisasi. Manusia kehilangan wajah kemanusiaannya di tengah sistem yang terlalu rapi di luar, tapi kosong melompong di dalam.
Naquib al-Attas menyebut akar krisis pendidikan kita bukan sekadar salah kurikulum, tapi hilangnya kesadaran tentang hierarki pengetahuan dan makna manusia. Ketika ilmu dipisahkan dari nilai ilahiah, pendidikan kehilangan arah transendennya: dari ta’dib menjadi sekadar ta’līm. Maka, lahirlah manusia yang tahu banyak hal, tapi tak mengenal dirinya sendiri.
Mencari Jiwa
Padahal, inti pendidikan selalu tentang hubungan antarjiwa. Carl Rogers menulis bahwa belajar sejati hanya lahir ketika seseorang sungguh terlibat dengan dirinya sendiri. Pendidikan bukan hanya tempat mengumpulkan sertifikat, tapi ruang untuk bertumbuh menjadi manusia.
Kita punya warisan luhur dari Ki Hadjar Dewantara: pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Menuntun, bukan mengontrol. Mengajak berjalan bersama, bukan menekan dengan aturan yang tak terperikan.
Selain aktivitas mental, belajar juga sebagai ibadah intelektual. Ia menuntut kehadiran ruh. Miskawayh dalam Tahdzīb al-Akhlāq menyebut bahwa tujuan pendidikan adalah tahdzīb al-nafs. Penyucian jiwa lewat ilmu dan kebajikan. Tanpa penyucian jiwa, pengetahuan hanya jadi tumpukan informasi tanpa kebijaksanaan. Ini agar tidak terbentuk manusia cerdas secara intelektual, tapi tercerabut dari akar jiwanya.
Faktanya kini, guru sering ingin mendengarkan, namun waktu selalu menagih laporan. Dosen kelelahan oleh sistem. Murid terjebak dalam target. Semua berlari agar berhasil, tapi lupa berhenti sejenak untuk benar-benar hidup.
Menghidupkan Kembali
Mungkin reformasi pendidikan terbesar bukan tentang kurikulum baru atau platform digital yang lebih canggih. Reformasi sejati dimulai ketika kita mengembalikan rasa kemanusiaan dalam belajar.
Kelas akan hidup kembali jika guru, dosen, atau ustaz hadir bukan sebagai operator sistem, melainkan penuntun jiwa. Ketika mahasiswa dan santri gen Z boleh bertanya tanpa takut stereotip bodoh. Ketika kesalahan tidak dilihat sebagai kegagalan, melainkan bagian dari proses tumbuh dan menjadi manusia.
Pembaruan pendidikan tidak hanya soal instrumen, tetapi tentang manusia. Tentang bagaimana kita berpikir jernih, merasa halus, dan berperilaku bijak. Tujuannya bukan melahirkan tenaga kerja belaka, tapi melahirkan insan yang sadar. Tahu, paham, dan menghidupi pengetahuannya.
Pendidikan bukan tentang seberapa cepat kita lulus, tapi seberapa dalam memahami. Bukan soal seberapa banyak kita tahu, tapi seberapa sungguh pengetahuan itu menggerakkan hati. Karena pengetahuan yang tidak menghidupkan hati hanyalah data. Data takkan pernah menggantikan kebijaksanaan.
Suatu hari nanti, semoga setiap ruang belajar kembali penuh. Bukan hanya oleh tubuh-tubuh yang duduk, tapi oleh jiwa-jiwa yang tumbuh. Karena kelas sejati bukan tempat sekilas mencatat, melainkan ruang kita menjadi manusia. Dan mungkin, di sanalah pendidikan menemukan kembali jantungnya: rasa ingin tahu yang utuh, dan spirit hidup yang tak rapuh.

















Alhamdulillah di Indonesia masih ada pondok pesantren yang pendidikan nya masih menerapkan teladan kepada kiyai/pengasuh nya.
Alhamdulillah..moga2 ulama selalu istikamah