Tewas! Dua Nyawa Melayang: Demo Rakyat Pati Berbalas Duka

Kabar, Nasional4072 Dilihat
Tewas! Dua Nyawa Melayang Demo Rakyat Pati Berbalas Duka
Foto: Korban Demo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah

ejogja.ID | Yogyakarta – Pagi itu, Zahra, 17 tahun, melangkah ringan keluar rumah. “Mau lihat demo besar, Bu,” katanya, sambil merapikan jilbab putih kesayangannya. Ia tak pernah tahu, kain itu kelak akan kembali dengan noda debu dan air mata. Sore harinya, yang pulang bukan lagi anak periang itu, melainkan kabar duka yang menghantam seisi rumah.

Jangan Lewati: Perempuan Harus Merdeka dari Jeratan Radikalis-Terorisme

Di sudut Pati yang lain, pintu rumah keluarga Syalwa, 16 tahun, masih setengah terbuka. Ayahnya sesekali menoleh, berharap langkah kaki putrinya terdengar. Cerita yang terputus di tengah riuh aspirasi, meninggalkan kota dalam sunyi yang berat. Dua jiwa —Zahra dan Syalwa— bukan sekadar korban. Mereka adalah harapan yang tercabut.

Jejak Keheningan dari Demo

Korban jiwa. Anggota DPRD Pati, Teguh Bandang, menyampaikan bahwa lima hari menjelang HUT RI, tiga orang—dua remaja (Zahra dan Syalwa) serta seorang wartawan—dilaporkan meninggal dunia saat berlangsungnya demo di Alun-Alun Pati. Namun, kabar bahwa wartawan Lilik tewas kemudian dikabarkan oleh Suara.com: ia kini dirawat intensif di RSUD Soewondo.

Korban luka. Kapolsek Kota, Iptu Heru Purnomo, mengalami luka serius di kepala—diduga akibat pemukulan massa—dan menjalani perawatan di RSUD RAA Soewondo. Belasan anggota polisi lainnya juga terluka.

Jangan Lewati: Loker Dosen Tetap Manajemen Dakwah STAI Terpadu Yogyakarta 2025

Kerusuhan dan kekacauan. Mobil provos polisi dijungkirkan dan dibakar massa. Aparat menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan yang memuncak amarahnya siang itu.

Aspirasi yang Tak Tertahan

Kenaikan PBB-P2 yang hingga 250% memicu kemarahan warga. Meskipun kemudian dibatalkan oleh Bupati Sudewo pada 8 Agustus, demo tetap digelar—menjadi simbol perlawanan lebih luas terhadap ketidakadilan sistemik.

Bupati Sudewo sempat berujar, “5 ribu silakan, 50 ribu massa silakan”, yang kemudian ia tarik dan minta maaf. Namun, kata-kata itu tercatat dalam memori massa sebagai provokasi.

Sumber Kekuatan dan Pilu yang Tersisa

Di tengah puing-puing demo, ada tangis, doa, dan pelukan keluarga yang trauma. Keluarga yang kehilangan menangis—bukan karena luka yang terlihat, tapi aspirasi yang terbakar sia-sia. Di barisan media, rekan Lilik bergantian menjaga pintu ruang perawatan, menyampaikan kabar bahwa ia masih hidup, masih melawan sakitnya.

Saat Aspirasi Tertahan, Nyawa Bisa Terpangkas

Rabu, 13 Agustus 2025 adalah hari ketika harapan keadilan, namun gas air mata yang menyebar. Aspirasi berubah menjadi korban—dua remaja dan seorang jurnalis yang berani mencari suara di tengah kekacauan.

Jangan Lewati: Meracik Panduan Skripsi Kualitas Prima, FEBI IIQ An Nur Yogyakarta Asah Kepekaan Metodologi Kualitatif

Ini kisah tentang fragilitas demokrasi. Ketika dialog gagal, hilanglah nyawa, dan kota mulai mengingat tragedi bukan sebagai sejarah panjang, tapi tetesan luka yang butuh pengobatan mendalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *