Nuzul al-Qur’an

Qurani78 Dilihat

Cara Santai Belajar ‘Ulumul Qur’an #9

Aldi Hidayat

Esai sebelumnya telah mengupas tata cara turunnya wahyu kepada Nabi SAW melalui perantara Jibril as. Esai kali ini akan mengulas apa saja tempat persemayaman al-Qur’an sebelum akhirnya berlabuh ke hati Nabi SAW. Selama ini, teridentifikasi 3 tempat mengenai tahap turunnya al-Qur’an. Sebelumnya, penting dicamkan bahwa sebelum mendarat di tiga tempat ini, al-Qur’an pada mulanya di sisi Allah sebagai firman yang transendental. Allah sendiri bukan tempat dan tidak butuh tempat, sehingga al-Qur’an yang masih transendental ini tidak penulis masukkan dalam kategorisasi berikut.

Pertama, Lauh Mahfuzh. Ada setidaknya 2 ayat yang berbicara tentang ini:

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيْدٌ. فِيْ لَوْحٍ مَحْفُوْظٍ.

Bahkan (yang didustakan itu) adalah al-Qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga. (QS. Al-Buruj [85]: 21-22).

Jangan Lewatkan: #2 BAGAIMANA WAHYU TIBA?

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ. وَإِنَّهُ فِيْ أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيْمٌ.

Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab agar kamu memahami(nya). Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk al-Kitab di sisi Kami adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.

Umm al-Kitab (induk al-Kitab) adalah Lauh Mahfuzh. Hanya saja, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai bagaimana keberadaan al-Qur’an di sini. Esai sebelumnya telah menegaskan bahwa tidak ada keterangan valid Jibril as menghafal al-Qur’an di sini. Keterangan yang paling memungkinkan ialah kembali pada apa itu Lauh Mahfuzh (tempat segala takdir). Jadi, yang di Lauh Mahfuzh–untuk kesekian kalinya–ialah takdir mengenai perjalanan al-Qur’an dari masa ke masa.

Kedua, di Baitul ‘Izzah, suatu tempat di langit pertama. Secara kebahasaan, Baitul ‘Izzah adalah rumah kemuliaan. Sebenarnya tidak ada dalil qur’ani yang terang-terangan menyebut istilah ini. Al-Qur’an hanya menyebutkan waktu yang kemudian diafiliasikan dengan tempat ini. Ayat al-Qur’an yang dinilai menerangkan hal tersebut berbunyi:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ….

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada satu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan… (QS. Al-Dukhan [44]: 3).

Ambil saja: LOKER MARBOT MASJID MAN 3 SLEMAN DI YOGYAKARTA

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. (QS. Al-Qadr [97]: 1).

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ….

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an…. (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Persoalannya, bila ayat-ayat ini tidak menyebut langsung Baitul ‘Izzah, lalu dari mana Baitul ‘Izzah itu didapatkan? Informasi berikut yang menjadi acuan:

أخرج الحاكم عن سعيد بن جبير عن ابن عباس أنه قال، “فصل القرآن من الذكر فوضع في بيت العزة من السماء الدنيا فجعل جبريل ينزل به على النبي”.

Al-Hakim meriwayatkan dari Sa’id bin Jubayr dari Ibn ‘Abbas bahwa, “Al-Qur’an dipisah dari al-Dzikr lalu diletakkan di Baitul ‘Izzah di langit dunia lalu Jibril menurunkannya kepada Nabi SAW”.

أخرج النسايئ والحاكم والبيهقي من طريق داود بن أبي هند عن عكرمة عن ابن عباس أنه قال، “أنزل القرآن جملة واحدة إلى سماء الدنيا ليلة القدر ثم أنزل بعد ذلك في عشرين سنة”.

Al-Nasa’I, al-Hakim dan al-Bayhaqi meriwayatkan dari jalur Dawud bin Abu Hind dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas bahwa, “Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar kemudian setelah itu diturunkan selama 20 tahun”.

Jangan Lewatkan: JOSHUA DAN SEGALA HARAPAN KITA

أخرج الحاكم والبيهقي وغيرهما من طريق منصور عن سعيد بن جبير عن ابن عباس، قال، “أنزل القرآن جملة واحدة إلى سماء الدنيا وكان بمواقع النجوم وكان الله ينزله على رسول الله بعضه في إثر بعض.”

Al-Hakim, al-Bayhaqi dan ulama hadis lainnya meriwayatkan dari jalur Manshur dari Sa’id bin Jubayr dari Ibnu ‘Abbas bahwa, “Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia, di mana saat itu ia berada di antara bintang gemintang, lantas Allah menurunkannya berangsur-angsur kepada Rasulullah”.

Semua riwayat di atas bukan hadis, melainkan khabar (informasi dari sahabat). Hanya saja, secara sanad (mata rantai perawi), khabar tersebut bernilai shahih (valid) menurut al-Suyuthi. Artinya, khabar itu memang benar-benar dari Ibnu ‘Abbas. Bila itu khabar, mengapa informasinya diambil? Dalam ilmu hadits, informasi sahabat yang berkenaan hal-hal gaib ditambah reputasinya yang steril dari mengutip Isra’iliyyat (informasi dari Yahudi-Nasrani), maka informasi si sahabat tersebut bisa dinobatkan sebagai patokan. Ibnu ‘Abbas tadi berbicara tentang perkara gaib (al-Qur’an saat sebelum turun ke Nabi SAW) dan ia terkenal bersih dari melansir Isra’iliyyat.

Permasalahannya, bukankah Jibril as menghafal lafal al-Qur’an langsung dari Allah SWT? Lalu mengapa masih ada Baitul ‘Izzah? Tidakkah ini berarti Jibril as menghafalnya di Baitul ‘Izzah? Pada esai sebelumnya, dilansir hadits riwayat al-Nawwas bin Sam’an bahwa tatkala Allah mewahyukan sesuatu, maka Jibril as adalah makhluk pertama yang mendengar sekaligus menghafalnya. Setelah itu, setiap kali dia turun, penghuni langit akan menanyakan perihal firman itu. Dari keterangan ini, sah ditarik kesimpulan bahwa Baitul ‘Izzah bukan tempat Jibril as menghafal lafal al-Qur’an. Sebaliknya, ia hanya terminal pemberangkatan sebelum kemudian turun ke Nabi SAW secara perlahan. Artinya, setelah Jibril as menghafal al-Qur’an, dia menurunkannya secara sekaligus ke Baitul ‘Izzah. Baru setelah itu, dia menurunkannya secara berangsur-angsur kepada Nabi SAW.

Jangan Lewatkan: Mencetak Perempuan Peduli Kesehatan Reproduksi

Ketiga, turun pada hati Nabi SAW. Yang terakhir ini bertahap selama 2 dasawarsa (20 tahunan). Landasan skriptural atau dalil naqlinya berbunyi:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيْلًا.

Dan al-Qur’an Kami turunkan berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap. (QS. Al-Isra’ [17]: 106).

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً. كَذلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيْلًا.

Orang-orang yang kafir berkata, “Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”. Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (QS. Al-Furqan [25]: 32).

Al-Zarqani menarik dua kesimpulan dari ayat ini. Pertama, dua ayat di atas sebagai dalil skriptural bahwa al-Qur’an turun secara bertahap. Ada tiga pendapat mengenai rentang waktu turunnya; 20, 23 dan 25 tahun. Perbedaan ini terjadi, lantaran perbedaan pendapat mengenai berapa tahun Nabi SAW berada di Mekkah sejak diangkat sebagai Rasul. Ada yang bilang 10, 13 dan 15 tahun. Sebagian pakar sejarah Islam menyebutkan beliau menetap di sana selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, terhitung sejak 17 Ramadhan tahun ke-41 dari kelahirannya (beliau berusia 41 tahun) hingga 1 Rabi’ul Awwal tahun 54 dari kelahiran beliau. Adapun di Madinah, beliau menetap sejak 1 Rabi’ul Awwal tahun 54 dari kelahirannya sampai 9 Dzul Hijjah tahun 63 dari kelahirannya. Data ini lebih dekat dengan pendapat bahwa Nabi SAW di Mekkah selama 13 tahun dan di Madinah selama 10 tahun, sehingga total waktu penurunan al-Qur’an ialah 23 tahun.

Jangan Lewatkan: Domba Gus Randy Menghadap Tuhan

Kedua, ayat 32 surat al-Furqan secara tidak langsung menegaskan bahwa kitab suci sebelum al-Qur’an turun sekaligus. Pasalnya, bila kitab suci tersebut juga turun bertahap, maka Allah SWT akan menyangkalnya. Ini seperti tertera pada ayat berikut.

وَقَالُوْا مَا لِهذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِيْ فِي الْأَسْوَاقِ. لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُوْنَ مَعَهُ نَذِيْرًا.

Dan mereka berkata, “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya malaikat agar malaikat itu memberi peringatan bersama-sama dengan dia?” (QS. Al-Furqan [25]: 7).

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ إِلَّا أَنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِي الْأَسْوَاقِ. وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً. أَتَصْبِرُوْنَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًا.

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kau bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat. (QS. Al-Furqan [25]: 20).

Ayat kedua menyangkal keluhan orang kafir yang tertera pada ayat pertama (mengapa Muhammad tidak bersama malaikat saja) bahwa rasul-rasul sebelumnya pun sama dengan Nabi SAW; sama-sama manusia biasa yang juga makan, pergi ke pasar, tidur dan lain seterusnya. Sebaliknya, pada ayat tentang turunnya al-Qur’an secara bertahap, Allah SWT tidak membantah keluhan orang kafir (mengapa al-Qur’an tidak turun sekaligus saja), namun malah menyebutkan hikmah di balik turunnya secara bertahap. Keluhan mereka tentu berangkat dari data sejarah bahwa biasanya kitab suci nabi sebelumnya turun sekaligus. Data sejarah itu secara tidak langsung menjadi benar dengan tiadanya bantahan Allah atas keluhan mereka terhadap mengapa al-Qur’an tidak turun sekaligus juga. Demikian. Wallahu A’lam.

 

Aldi Hidayat, Esais Muda Kutub Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar