Manusia, Bahasa dan Budaya

Esai52 Dilihat

Zamzam Afandi

Al-Quran menggambarkan manusia secara biologis sebagai ciptaan yang terbaik (ahsanu taqwīm).Para pemikir baik filosof, sosiolog, antropolog dan lainnya memiliki persepsinya masing-masing tentang keunikan dan distingsi manusia. Filosof mempersepsi manusia sebagai rational animal atau talking animal (حيوان ناطق), para sosiolog mempersepsinya sebagai makhluk berbudaya/sosial (كائن مدني), dan para ahli biologi mempersepsi manusia sebagai entitas organisme (كائن حي).

Semua persepsi tersebut pada hakikatnya menegaskan keunikan dan keistimewaan manusia ketimbang dengan ciptaan-ciptaan Tuhan yang lain. Namun keunikan manusia yang menyita konsern banyak pihak ialah kemampuannya berbahasa. Bahkan bahasa, dalam pengertiannya yang ilmiah, menjadi kekhasan manusia, atau menurut Ibnu Manẓūr sebagai kelebihan manusia atas binatang-binatang lain sekaligus penghargaan dari Tuhan. Al-Syahristānī menyebutkan bahwa “dengan kemampuan berbahasa manusia keluar dari lingkup kehewanannya menuju ke dalam jati kemanusiaan”. Ikhwān al-Ṣafā, kelompok para filosof Abad ke IV H, menegaskan bahwa keunikan berbahasa bagi manusia menjadikannya satu-satunya makhluk yang menikmati hidup dalam alam khusus (عالم مخصوص /special world) yaitu dunia kemampuan berpikir/berbahasa yang sempurna (عالم النطق التام).

Jangan Lewatkan: Jenggot

Bahasa ialah bunyi yang diartikulasikan oleh setiap kelompok masyarakat untuk mengekspresikan maksudnya/keinginannya (Ibnu Jinni). Ekspresi maksud mewakili dua dimensi manusia; dimensi batin/rasa dan dimensi nalar/pikiran. Dalam dimensi batin, bahasa digunakan untuk mengekspresikan apa yang dirasakan/perasaan; suka, benci, senang, sedih, gembira, marah, bahagia, sengsara dan lainnya. Pada dimensi pikir, bahasa menjadi alat untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, ide serta pemahaman. Ekspresi dua dimensi tersebut pada gilirannya membentuk dan menciptakan sebuah kebudayaan. Karena kebudayaan seperti definisi Koentjaraningrat (1923-1999) ialah sebagai seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Karenanya, teori Marxian menyatakan bahwa bahasa adalah ekspresi dari seluruh gagasan sekaligus yang mempengaruhinya. Trevor Noah, penulis dari Afrika Selatan menambahkan bahwa bahasa membawa serta identitas, budaya, atau minimal persepsi para penuturnya (Language brings with it an identity and a culture, or at least the perception of it).

Dalam dimensi struktural, bahwa semua sisi aspek kebahasaan: terminologinya, pola gramatikanya, stilistikanya, dan ungkapan-ungkapannya, adalah refleksi dari identitas, budaya dan persepsi penutur atau penulisnya. Pun pula dari segi makna dan pesan yang tersimpan dalam bahasa, ia tak dapat lepas dari dialektika antara bahasa dan budayanya.

Oleh karena itu, dalam konteks ini, mempelajari dan memahami bahasa, lebih-lebih bahasa asing, tidak cukup berhenti pada aspek struktural-gramatikalnya semata, tapi harus pula memahami budaya yang terkait dengan bahasa tersebut. Pengetahuan antropologi dan sosiologi akan sangat membantu memahami makna, pesan, gagasan dan pikiran-pikiran yang tersembunyi di balik lipatan-lipatan bahasa.

Wallahu A’lam Bishawāb

 

Dr. Zamzam Afandi, Dosen Bahasa dan Sastra UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar