Bahasa dan Peradaban

Bahasa dan Peradaban

Bahasa dan Peradaban

Zamzam Afandi

“باللغة، صار الإنسانُ كائنًا مُبدعًا”

With language, man has become a creative being

 

Manusia diciptakan Tuhan berpasang-pasang (laki-laki dan perempuan), lalu berkembang biak menjelma dalam ragam suku bangsa (QS.al-Ḥujurāt: 13). Keragaman suku dan bangsa manusia dilengkapi pula dengan keragaman bahasa (alsinah) dan warna kulit (alwān) (QS.Ar-ūm: 22). Tuhan pun menyampaikan bahwa keragaman suku-bangsa manusia dimaksudkan agar saling mengenali (ta’āruf), sedangkan keragaman bahasa dan warna kulit dijadikan sebagai tanda atau bukti kekuasaan Allah.

Baca Juga: Manusia, Bahasa dan Budaya

Jika demikian, maka keragaman jenis kelamin manusia, suku dan bangsa adalah sunnatullah. Komentar dan penjelasan para agamawan terhadap pernyataan Tuhan di atas umumnya terpatri dalam kotak teologis: Bukti kekuasaan dan kehendak Allah. Bagi para filosof, antropolog dan sosiolog, Barat khususnya, realitas keragaman manusia dan bahasa merupakan obyek seksi yang menggoda dan merangsang rasa keingintahuan mereka. Max Müller (1823-19.00), berkebangsaan Jerman, pakar perbandingan bahasa, agama dan mitologi, misalnya, telah berhasil merumuskan teori klasifikasi rumpun bahasa berdasarkan keragaman etnik atau suku bangsa. Müller mengklasifikasikan rumpun bahasa ke dalam tiga kelompok besar yang di dalamnya terdapat sub-sub masing-masing: Indo-Eropa, rumpun Semiti-Hemitik dan rumpun Turani, tentu disertai analisis karakter, ciri dan distingsinya.

Dalam pandangan Wilhelm von Humboldt (1767-1835), filosof besar dari Jerman, bahasa sesungguhnya menyimpan banyak dimensi yang dapat digali sekaligus sebagai penanda peradaban penuturnya. Sebab, bahasa adalah rekam jejak peradaban yang paling otentik. Lebih dari itu, kata Humboldt, yang paling asasi bahwa bahasa adalah cerminan pandangan dunia (weltanschauung, worldview) sebuah bangsa. Teori-teori kebahasaan yang terekspresi pada sistem fonetik, fonemik dan struktur suatu bahasa, dipengaruhi oleh dan cermin dari perspektif hidup, visi, prinsip-prinsip, sistem nilai, cita-cita atau ideologi para penuturnya.

Tata bahasa atau gramatika tradisional (traditional grammar) yang berakar dari Yunani, boleh jadi membenarkan teori Humboldt tersebut. Pertama, memandang bahasa bukan sekedar media berkomunikasi, tetapi pernyataan pikiran manusia dan mekanisme kognitif. Kedua, bahasa yang menjadi sumber kajian ialah bahasa tulis atau bahasa yang ada dalam dialog, diskusi, berdebat dan pidato (retorika).Ketiga, tujuan utama tata bahasa ialah untuk mencari dan menemukan makna (semantik).Keempat, metode yang digunakan bersifat preskritif (menilai benar dan salah).

Jangan Lewatkan: Apa Itu Asbab al-Nuzul? #3

Dalam perspektif Humboldt, karakter gramatika seperti ini adalah refleksi dari weltanschauung bangsa Yunani yang berparadigma falsafi dalam menatap setiap realitas, termasuk realitas bahasa. Filsafat telah mendorong dan menggerakkan bangsa ini untuk selalu berpikir, bersikap dan bertindak dalam tatanan yang sistematis dan teratur. Maka lahirlah teori-teori untuk mengukur keteraturan dan kebenaran melalui gramatika. Pertama, membuat definisi. Kedua, membangun postulat dan proposisi. Ketiga, mengujinya dengan melalui silogisme dan analogi.

Transformasi pengetahuan yang melalui dialog, diskusi, berdebat maupun pidato, kebenarannya akan diuji melalui ketepatan penyusunan argumentasi atau proposisinya: logis atau tidak logis. Juga melalui penalaran deduktif dan induktif meskipun yang menjadi asas utama ialah struktur gramatikanya.

Paradigma gramatika tradisional atau ada yang menyebut pula gramatika sekolah (school grammar) bertahan dan bahkan digunakan hingga hari ini sebagai pengajaran bahasa. Namun, ia tak lagi menikmati privillegenya. Era pencerahan atau (Enlightenment, Aufklärung) tahun 1760-1850, yang ditandai dengan revolusi di berbagai bidang: Industri, sains dan ilmu pengetahuan lainnya melahirkan peradaban dengan paradigma yang baru. Adalah Charles Robert Darwin (1809-1882) naturalis dari Inggris yang terkenal teori evolusinya (al-Nusyū’ wa al-irtiqā) dan seleksi alam (survival of the fittest/al-Baqā’ li al-Aqwā) telah mengubah paradigma pengetahuan yang lain. Pandangan terhadap bahasa tidak lagi sebatas pernyataan pikiran dan mekanisme kognitif yang fokusnya pada pencarian makna. Tetapi bahasa dipandang sebagai gejala alam di mana tumbuh dan berkembang, kuat dan tidak kuat, serta mati dan hidupnya mengikuti hukum survival of the fittest. Pengaruh teori Darwin ini melahirkan teori dan pendekatan historis dan komparasi dalam studi bahasa.

Jangan Lewatkan: Dibuka Beasiswa Santri  BAZNAS 2022

Namun titik balik yang benar-benar menandai perubahan paradigma kajian bahasa ialah gagasan dan cetusan pikiran Ferdinand de Saussure (1857–1913.Ia mengkritik pandangan Yunani tentang bahasa yang logic dan metafisik maupun pendekatan historis dan komparatif yang naturalis. Menurutnya, bahasa adalah gejala sosial. Bahasa harus diurai dan dijelaskan dengan prinsip dan paradigma ilmu sosial yang deskriptif, bukan preskriptif seperti dalam logika, atau sisi historis dan komparasi yang berparadigma seleksi alam.

De Saussure tampaknya sangat terkesan oleh teori-teori sosial David Émile Durkheim (1858-1917) atau Gus Dur dari Prancis, bapak sosiologi modern, yang hidup sezaman dengannya. Struktur bahasa, menurut de Saussure tak ubahnya seperti struktur masyarakat. Sama-sama terdiri dan terbentuk dari unit-unit terkecil. Struktur masyarakat terbentuk dari individu-individu lalu terkumpul menjadi sebuah kelompok. Bahasa pun demikian, ia adalah kumpulan unit-unit kecil seperti fonem dan morfem yang lalu menjadi frase dan kalimat. Oleh karena itu, obyek yang menjadi sumber kajian bahasa ialah bahasa yang digunakan oleh masyarakat (langue) yang sinkronis, bukan bahasa yang menjadi keunikan individu-individu (parole). Teori de Saussure inilah yang kini dikenal sebagai teori struktural dengan paradigma deskriptif, sebuah antitesis terhadap teori gramatika tradisional yang preskriptif.

Meskipun de Saussure sangat terkesan dengan teori-teori sosial dalam kajian linguistik, namun pada akhirnya dia menyeru agar kajian bahasa bersifat otonom atau independen, tidak melibatkan pengetahuan yang lain: The true and unique object of linguistics is language studied in and for itself. Mungkinkah? Yang jelas, bahasa adalah cermin, darinya sebuah peradaban dan cara pandang dunia (worldview) sebuah bangsa terpantulkan.

Wallāhu A’lamu bi al-Shawāb

 

Dr. Zamzam Afandi, Dosen Bahasa dan Sastra Arab FADIB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *