Bagaimana Wahyu Tiba?

Cara Santai Belajar ‘Ulumul Qur’an #7

Aldi Hidayat

Wahyu yang dimaksud di sini tertentu pada wahyu untuk rasul dan nabi. Sebelum mengulas bagaimana wahyu turun pada dua sosok ini, penulis akan memulainya dengan wahyu yang tiba pada malaikat. Dari malaikat, ada delegasi yang bertugas menjadi mediator antara Tuhan dan rasul & nabi, yaitu Jibril as. Bagaimana peran Jibril as dalam menyampaikan firman Tuhan kepada rasul dan nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW? Berikut ulasannya.

Pertama, Jibril as menyimak dan menghafal lafal al-Qur’an secara langsung dari Allah SWT. Apakah lafal ini adalah firman-Nya? Bukan, karena pada esai sebelumnya, ditegaskan bahwa firman Tuhan itu transendental (di luar jangkauan makhluk, sehingga pasti bukan berupa lafal). Lalu apa status lafal yang dihafalkan Jibril as dari Allah SWT tersebut? Statusnya adalah terjemahan immanental (dapat dijangkau makhluk) oleh Allah SWT sendiri atas firman-Nya yang transendental (di luar jangkauan makhluk). Seirama dengan ini, syekh Bad’iuzzaman Sa’id al-Nursi, ulama besar Turki, mendefinisikan al-Qur’an sebagai terjemahan azali Tuhan atas semua yang ada.

Jangan Lewatkan: Wahyu Terus Tiba, Sekalipun Rasul dan Nabi Sudah Tiada

Kedua, Jibril as menghafal lafal al-Qur’an di Lauh Mahfuzh. Ketiga, Jibril as hanya menerima al-Qur’an secara maknawi lalu dia sendiri yang merancangnya menjadi susunan redaksi seperti yang kita baca sekarang di Mushaf ‘Utsmani. Pendapat ketiga ini terpecah dua; ada yang bilang Jibril sebagai penerjemah makna al-Qur’an, ada lagi yang bilang Nabi SAW lah yang menerjemahkannya. Jadi, menurut pendapat ketiga ini, Jibril as atau Nabi SAW tak ubahnya Hermes dalam mitologi Yunani, yaitu sang penerjemah pesan langit menggunakan bahasa bumi. Dari tiga pendapat di atas, mana pendapat yang sekiranya lebih tepat? Mari kita berselancar secara skriptural dan rasional!

Secara skriptural, ayat-ayat berikut menerangkan:

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيْدٌ. فِيْ لَوْحٍ مَحْفُوْظٍ.

Bahkan (yang didustakan itu) adalah al-Qur’an yang mulia. Yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga. (QS. Al-Buruj [85]: 21-22).

قُلْ نَزَّلَهُ رُوْحُ الْقُدُسِ مِنْ رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَهُدًى وَّبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ.

Katakanlah, “Roh al-Kudus menurunkan al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Al-Nahl [16]: 102).

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيْلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِيْنَ.

Katakanlah (Muhammad), “Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Baqarah [2]: 97).

Jangan Lewatkan: Beasiswa BRILiaN Scholarship

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هذَا أَوْ بَدِّلْهُ. قُلْ مَا يَكُوْنُ لِيْ أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِيْ. إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوْحَى إِلَيَّ. إِنِّيْ أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّيْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ.

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami Kami dengan jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, “Datangkanlah selain al-Qur’an ini atau gantilah!” Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah pantas bagiku menggantinya atas kemauanku sendiri. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Aku benar-benar takut akan azab hari yang besar (kiamat), jika mendurhakai Tuhanku”. (QS. Yunus [10]: 15).

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوْحَى.

Dan tidaklah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. Al-Najm [53]: 3-4).

أَمْ يَقُوْلُوْنَ تَقَوَّلَهُ بَلْ لَا يُؤْمِنُوْنَ. فَلْيَأْتُوْا بِحَدِيْثٍ مِّثْلِهِ إِنْ كَانُوْا صَادِقِيْنَ.

Ataukah mereka mengatakan, “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur’an itu, jika mereka orang-orang yang benar. (QS. Al-Thur [52]: 33-34).

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيْلِ. لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِيْنِ. ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِيْنَ.

Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami. Pasti kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. (QS. Al-Haqqah [69]: 44-46).

Jangan Lewatkan: Beasiswa BRILiaN Scholarship

Ayat pertama menegaskan al-Qur’an ada di Lauh Mahfuzh. Dari sini, dituai pandangan bahwa Jibril as menghafal al-Qur’an dulu di Lauh Mahfuzh lalu menyampaikannya kepada Nabi SAW. Sekarang kita bandingkan dengan keterangan Nabi SAW sendiri mengenai tata cara Allah SWT mewahyukan firman-Nya kepada malaikat. Al-Thabrabi meriwayatkan hadits dari al-Nawwas bin Sam’an.

Disebutkan bahwa jikalau Allah bermaksud mewahyukan sesuatu, maka seluruh isi langit gemetar ketakutan akan dahsyatnya firman. Dalam pada itu, pihak yang pertama kali mendengar langsung firman adalah Jibril as. Setelah menghafalnya, Jibril as turun ke bumi. Dalam perjalanan turun, setiap malaikat di masing-masing langit menanyakan firman-Nya kepada Jibril as. Dari hadits ini, jelas bahwa tata cara Jibril as mendapatkan firman pada umumnya dan al-Qur’an pada khususnya bukan dengan menghafalnya di Lauh Mahfuzh, melainkan menghafalnya langsung dari Allah SWT. Lalu apa yang ada di Lauh Mahfuzh? Tidak lain kecuali takdir mengenai seluk-beluk al-Qur’an, seperti ditakdirkan turun kepada Nabi SAW melalui Jibril as dan lain seterusnya.

Ayat kedua dan ketiga menegaskan bahwa Jibril as berperan sebagai mediator antara Allah SWT dan Nabi SAW dalam hal penyampaian al-Qur’an. Ayat-ayat berikutnya menegaskan tentang tiadanya peran Nabi SAW dalam pelafalan al-Qur’an. Ayat 15 surat Yunus melansir tantangan orang kafir agar Nabi SAW mengganti lafal al-Qur’an yang dibacanya. Di ayat itu pula, ditegaskan betapa Nabi SAW tidak bisa menggantinya. Beliau hanya menuruti apa adanya wahyu yang turun padanya. Ayat 3-4 surat al-Najm meneguhkan bahwa lafal al-Qur’an yang Nabi SAW sampaikan bukan atas dasar keinginannya.

Jangan Lewatkan: Bimbel-Privat Untuk SD-SMP Bantul Yogyakarta

Barangkali ada bantahan bahwa memang Nabi SAW tidak membuat lafal al-Qur’an atas dasar keinginannya. Pasalnya, lafal selalu ikut makna. Jadi, Nabi SAW tidak membuat lafal al-Qur’an atas dasar makna kreasinya sendiri, melainkan makna yang datang dari Ilahi. Jadi, sekalipun Nabi SAW tidak “ingin” melafalkan makna kreasinya sendiri bukan berarti beliau tidak “bisa” melafalkan makna dari Ilahi. Artinya, tetap saja lafal al-Qur’an itu kreasi Nabi SAW dengan catatan tetap mengacu pada makna Tuhan. Bantahan demikian sudah dijawab oleh surat 33-34 surat al-Thur. Ayat keempatnya seperti tertera di atas berisi tantangan kepada orang kafir pada khususnya dan siapa saja pada umumnya untuk membuat redaksi layaknya redaksi al-Qur’an.

Tantangan itu menyiratkan bahwa pesan Tuhan seandainya bisa diwakili oleh redaksi yang manusia susun sendiri, maka tentu redaksi lain yang sebanding dengan al-Qur’an bisa diwujudkan. Nyatanya redaksi semacam itu tidak ada dan takkan pernah ada. Tak heran, ayat lain menegaskan:

فَإِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِيْنَ.

Jika kamu tidak mampu membuat (tandingan al-Qur’an) dan (pasti) tidak akan pernah mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah [2]: 24).

Ambil Saja: Loker Tentor Lia Edukasi

Apalagi di surat al-Haqqah tersebut berisi ancaman bahwa seandainya Nabi SAW benar-benar menambahkan satu kata saja atas al-Qur’an, maka pembuluh jantungnya bakal diputus. Nyatanya, sejarah menunjukkan ancaman itu tidak terjadi. Itu artinya setiap ayat al-Qur’an adalah murni dari Tuhan tanpa intervensi Nabi SAW. Selain itu, ayat tersebut hanya memakai redaksi taqawwala (mengada-ada). Secara motif, mengada-ada terbagi dua; karena ingin atau karena bisa. Bila tidak ada satu kata pun yang mengacu pada salah satu dari 2 kategori tadi, berarti taqawwala dalam surat al-Haqqah itu mencakup dua kategori sekaligus. Artinya, Nabi SAW tidak “ingin” sekaligus tidak “bisa” melafalkan sendiri makna al-Qur’an. Sebaliknya, lafal itu tidak lain dan tidak bukan kecuali asli dari Allah SWT. Demikian. Wallahu A’lam.

 

Aldi Hidayat, Esais Muda Kutub Yogyakarta

Author:

Pusat Info Pendidikan

1 comment

Leave a comment