Wahyu Terus Tiba, Sekalipun Rasul dan Nabi Sudah Tiada

Cara Santai Belajar ‘Ulumul Qur’an #6

Aldi Hidayat

Berbicara ‘Ulumul Qur’an, bahasan seputar wahyu masuk dalam barisan perdana. Apa itu wahyu? Selama ini, wahyu dipahami sebagai informasi Tuhan untuk nabi dan rasul-Nya. Apa hanya sebatas itu makna wahyu? Tulisan ini akan menerangkannya dengan terlebih dahulu ditunda oleh sponsor. Apa sponsor tersebut?

Beberapa orang mengingkari wahyu, lantaran tidak bisa diobservasi. Pengingkaran ini bertolak dari paradigma materialis, yaitu anggapan bahwa kriteria ada adalah bisa diamati atau lebih jelasnya, bisa ditangkap oleh indra. Paradigma ini telah dibantah oleh Karl R. Popper. Gampangnya, tidak semua kebenaran bisa diuji lewat pengamatan. Jika tidak bisa lewat pengamatan, lalu apa uji coba kebenaran alternatif. Ia menawarkan falsifikasi, yaitu gampangnya seberapa masuk akal. Lalu bagaimana dengan wahyu?

Manna’ al-Qaththan mencontohkan hipnotis. Hipnotis adalah momen di mana seseorang mengendalikan kejiwaan orang lain. Dari situ, al-Qaththan menarik kesimpulan bahwa jika manusia saja bisa mengendalikan jiwa manusia lainnya, masak Sang Eksisten yang jauh melampaui manusia tidak bisa melakukannya, contohnya melalui wahyu? Argumen ini masih bernuansa teologis (serba Tuhan). Kira-kira adakah argumen lain yang sekalipun temanya sekarang seputar ketuhanan, namun bisa melegitimasi wahyu tanpa harus melibatkan Tuhan?

Jangan Lewatkan: Apa Itu ‘Ulumul Al-Qur’an?

Mari kita contohkan hal sederhana. Apakah pengakuan orang buta bahwa cahaya itu tidak ada bisa dibenarkan? Tentu tidak, mengapa? Karena orang buta tidak memiliki alat untuk menangkap cahaya, yaitu mata. Hanya karena tidak punya mata, bukan berarti cahaya tidak ada. Demikian pula, hanya karena wahyu tidak bisa diamati, bukan berarti wahyu tidak ada. Mengapa? Karena orang yang ngotot menilai wahyu secara materialis tak ubahnya orang yang mau menangkap cahaya dengan memakai telinga. Alhasil, ya tidak akan bisa, karena telinga adalah alat menangkap suara, bukan cahaya. Tidakkah sekalipun manusia punya indra, manusia juga punya logika dan rasa, dua hal yang sebenarnya jauh lebih nyata ketimbang indera. Gampangnya, mana lebih nyata sakit hati dibanding melihat batu? Tentu lebih nyata sakit hati. Kok bisa? Kan rasa bukanlah indra? Ini secuil bukti betapa realita tidak bisa dipangkas pada urusan indra, karena toh buktinya, rasa acapkali, bahkan selalu saja menghadirkan sesuatu yang lebih nyata ketimbang apa yang dicerna indra. Demikian argumen sederhana mengenai validitas adanya wahyu. Kini kita masuk pada uraian tentang wahyu.

Wahyu secara etimologis mengandung tiga unsur, yaitu informasi, cepat dan tersembunyi. Jadi, secara kebahasaan, wahyu adalah informasi yang disampaikan secara cepat dan tersembunyi. Bila demikian definisi wahyu, lalu apa saja hal-hal yang masuk kategori wahyu? Berikut jabarannya.

Jangan Lewatkan: Loker Guru Bahasa Inggris Freelance

Pertama, ilham. Ilham berarti pengetahuan yang tiba-tiba muncul dalam diri di mana pengetahuan itu bersifat motivatif. Artinya, pengetahuan itu–meminjam definisi Muhammad ‘Abduh–membuat manusia yang mendapatinya tidak sangsi lagi atasnya, sehingga tidak perlu mempertanyakan apa, bagaimana dan dari mana ia, melainkan langsung terdorong untuk melaksanakannya. Wahyu semacam ini bisa disebut inspirasi, namun lebih tepatnya firasat. Contoh wahyu macam ini ialah firasat ibu nabi Musa as sebagaimana tertera dalam al-Qur’an:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوْسَى أَنْ أَرْضِعِيْهِ. فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيْهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ. إِنَّا رَادُّوْهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ.

Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya, maka hanyutkanlah ia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul”. (QS. Al-Qashash [28]: 7).

Kedua, insting binatang. Insting adalah kata lain dari naluri, yaitu dorongan alamiah dalam diri. Selain binatang, manusia juga punya naluri. Contoh versi al-Qur’an mengenai wahyu kategori ini adalah sebagai berikut.

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَ.

Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang dari gunung-gunung di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang manusia buat”. (QS. Al-Nahl [16]: 68).

Jangan Lewatkan: Cara Santai Belajar ‘Ulumul Qur’an #4

Ketiga, isyarat cepat dengan memakai simbol. Dalam al-Qur’an, ini seperti tatkala nabi Zakariya as memberi isyarat kepada kaumnya. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا.

Maka dia (nabi Zakariya as) keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka, “Bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang!” (QS. Maryam [19]: 11).

Keempat, bisikan setan ke dalam diri manusia. Ayat tentang hal tersebut adalah sebagai berikut.

وَلَا تَأْكُلُوْا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ. وَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوْكُمْ. وَإِنْ أَطَعْتُمُوْهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُوْنَ.

Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah. Perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu. Dan jika kamu menuruti mereka, tentu kamu telah menjadi orang musyrik. (QS. Al-An’am [6]: 121).

Kelima, perintah Tuhan kepada para malaikat. Ini tersurat dalam ayat:

إِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ آمَنُوْا. سَأُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ.

(Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka!” (QS. Al-Anfal [8]: 12).

Jangan Lewatkan: Dosa dan Ampunan

Keenam, wahyu Tuhan untuk para rasul dan nabi. Wahyu kepada rasul berupa syariat baru. Secara sederhana, syariat berarti ajaran praktis, walaupun tidak sesederhana itu. Ini sekadar pengantar. Wahyu bagi nabi adalah pencerahan, yakni semacam prinsip dalam menjalani kehidupan.

Kategori pertama sampai kelima dari wahyu bersifat longgar. Karena, lima kategori tersebut tidak tertentu pada rasul dan nabi. Jika demikian, maka sebenarnya wahyu terus ada, sekalipun para rasul dan nabi telah tiada. Karena, memang firasat (wahyu kategori pertama) nyaris dialami oleh semua manusia. Wahyu kategori kedua, yaitu naluri dimiliki oleh manusia dan binatang. Kategori ketiga (memberi isyarat) adalah kebiasaan manusia. Wahyu kategori keempat (bisikan setan) akan terus berlanjut saban zaman, lantaran setan merupakan musuh abadi umat manusia. Wahyu kategori kelima (perintah Tuhan) tetap terus berlangsung, karena memang malaikat mendapat mandat ketuhanan sampai penghujung zaman. Kategori keenamlah yang sudah usai, karena hanya tertentu kepada para rasul dan nabi. Jadi, jika ada yang bilang, “Saya menerima wahyu”, maka sah-sah saja, karena boleh jadi yang demikian adalah salah satu dari lima kategori wahyu di muka.

Berkenaan wahyu, terutama yang tertuju kepada rasul dan nabi, ada secuil kekeliruan pemakaian istilah. Kekeliruan itu dalam jurnalisme disebut malapropisme, yakni secara gampang, menggunakan istilah A untuk menunjuk B. Ini terjadi, lantaran kurang jeli dalam memetakan mana yang A dan mana yang B. Hal tersebut ditengarai oleh kedekatan A dan B, sehingga seakan keduanya menyatu, padahal tidak. Lalu apa malapropisme mengenai wahyu?

Jangan Lewatkan: Goodlooking is Everything

Contoh, selama ini al-Qur’an diyakini sebagai wahyu. Keyakinan ini tidak tepat sasaran. Wahyu mengandung tiga unsur, yaitu informasi, cepat dan tersembunyi. Al-Qur’an adalah informasi. Lantas di mana unsur cepat dan tersembunyinya? Tidak ada. Justru cepat dan tersembunyi terletak pada proses penurunan al-Qur’an. Jadi, wahyu bukan sebatas informasinya. Lebih tepatnya, wahyu adalah proses pengiriman informasi secara cepat dan tersembunyi. Ibarat pesan WA. Apakah sama pesan WA dan pengirimannya? Tidak. Pesan WA disebut message, sedangkan proses pengirimannya disebut sending. Jadi, sekali lagi penulis tegaskan, wahyu adalah proses, sedangkan al-Qur’an adalah menjalani proses itu. Al-Qur’an adalah message, sedangkan wahyu adalah sending. Demikian ulasan seputar “apa itu” wahyu. Esai berikutnya akan mengungkap “bagaimana itu” wahyu. Akhir kata, Wallahu A’lam.

 

Aldi Hidayat, Esais Muda Kutub Yogyakarta

Author:

Pusat Info Pendidikan

Leave a comment