Urgensi Melestarikan Bahasa Jawa Krama

Muh Koyim

Indonesia sangat terkenal akan keanekaragaman budaya dan bahasa. Bahasa daerah merupakan ciri khas tersendiri bagi suatu daerah. Yang akan kita bahas saat ini adalah bahasa Jawa karena bahasa ini sangat populer yang mayoritas banyak digunakan di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Bahasa Jawa merupakan alat pengantar komunikasi bagi masyarakat Jawa pada umumnya. Bahasa Jawa memiliki tingkatan kosa kata baik digunakan untuk berbicara dengan sebaya dan orang yang lebih tua.

Menurut Sudiatmanto (2016), salah satu mata pelajaran penting yang sangat berguna untuk melestarikan kebudayaan daerah ialah Bahasa Jawa. Mata pelajaran ini dikembangkan agar ciri khas masyarakat suku jawa agar dapat lestari dan berguna untuk menopang kebudayaan nasional yang beraneka ragam. Hal itu disebabkan adanya kebudayaan daerah merupakan akar dari kebudayaan nasional. Sedangkan menurut Puspitoningruma (2018), fungsi bahasa jawa adalah sebagai pesan untuk menyampaikan pesan atau isi informasi oleh anggota masyarakat yang saling berinteraksi dan bekerja sama dalam tataran pergaulan masyarakat, lingkungan kebudayaan, dan peradaban jawa.

Baca Juga: Menghargai dan Dihargai oleh Waktu

Dalam hal berbicara (khususnya secara formal), mungkin akan lebih sopan dengan bahasa Nasional, akan tetapi bagi masyarakat Jawa agar bahasa Jawa tetap lestari, perlu atau akan lebih baik generasi muda diajarkan untuk bisa berbicara dengan bahasa Jawa Krama (tingkatan bahasa Jawa yang halus) agar dapat menghormati orang yang lebih tua dan menunjang budaya sopan santun (baca: unggah-ungguh).

Di Yogyakarta dan sekitarnya, masyarakat selalu menggunakan sikap unggah-ungguh tersebut. Unggah-ungguh sendiri adalah tingkatan bahasa berdasarkan penggunanya. Jadi, penggunaan bahasa jawa tersebut disesuaikan dengan siapa lawan bicara kita. Dalam bahasa Jawa ada empat tingkatan atau jenis bahasa Jawa, di antaranya:

Bahasa Ngoko Lugu

Bahasa ini merupakan bahasa tingkatan pertama dan paling dasar. Ini hanya diterapkan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih muda atau sejajar dengan kita. Jika bahasa ini digunakan dengan orang yang lebih tua, maka orang yang menggunakan itu dianggap kurang sopan.

Bahasa Ngoko Alus

Bahasa ini setingkat lebih tinggi dari ngoko lugu. Ini sering digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang sejajar atau sudah akrab tetapi masih menjunjung tinggi kesopanan dan rasa saling menghormati.

Bahasa Krama Lugu

Bahasa ini tingkatannya lebih tinggi dari ngoko. Ini bahasa Krama dibagi menjadi dua, yaitu Krama Lugu dan Krama Inggil. Ini sering digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, atau orang yang lebih tinggi kedudukannya serta sesama teman yang belum dekat dan akrab.

Bahasa Krama Inggil

Bahasa ini merupakan tingkatan tertinggi dalam bahasa Jawa. Ini digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tinggi baik usia maupun kedudukannya. Yang membedakan antara Krama Inggil dan Krama Lugu terletak pada tingkatan dan beberapa kosakatanya saja.

Di masa sekarang ini, sudah jarang kita temui anak-anak maupun masyarakat memakai bahasa krama halus. Mereka lebih suka menggunakan bahasa ngoko atau bahasa Indonesia, karena dirasa lebih simpel dan mudah . Menurut Sumarsono dan Partama (2002), pergeseran bahasa berarti suatu masyarakat atau komunitas tertentu meninggalkan suatu bahasa sepenuhnya untuk memakai bahasa lain. Tidak dapat dipungkiri, dalam bidang pendidikanpun lebih diutamakan bahasa Inggris sebagai penguatan bahasa internasional, bukan penguatan kearifan lokal.

Hilangnya (atau lebih tepatnya memudarnya) penggunaan bahasa krama dalam masyarakat tentu dipengaruhi banyak faktor. Faktor mendasar hal itu adalah bagaimana orang tua mengajari anak-anaknya dalam berbahasa setiap hari di lingkungan keluarga. Ditambah lagi, adanya perkembangan teknologi yang semakin canggih, ilmu pengetahuan yang semakin maju dan sosial budaya yang semakin beragam (yang dipengaruhi oleh budaya Barat) mungkin itulah yang menjadi sebab perubahan-perubahan bahasa itu terjadi. Bahkan dengan adanya penggunaan gadget oleh masyarakat yang dalam gadget itu sendiri tentu jarang ada bahasa jawa Krama.

Menurut Nababan (1984), setidaknya ada empat fungsi bahasa, yaitu fungsi kebudayaan meliputi pelestarian kebudayaan, pengembangan kebudayaan, dan inventarisasi ciri-ciri kebudayaan. Fungsi kemasyarakatan meliputi ruang lingkup dan bidang pemakaian. Guna perorangan meliputi fungsi instrumental, kepribadian, pemecahan masalah, khayalan dan informatif. Fungsi Pendidikan meliputi fungsi integratif, instrumental, kultural dan penalaran.

Baca Juga: Pendaftaran LCC Sejarah Tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2022

Melihat fungsi bahasa yang sangat penting dalam pendidikan. Pelajaran Bahasa Jawa Krama yang halus harus diajarkan dari sejak dini yaitu dimulai dari pendidikan dalam keluarga kemudian dilanjutkan ke pendidikan sekolah mulai dari SD, SMP,SMA bahkan kalau perlu sampai jenjang perguruan tinggi. Dalam bangku sekolah, pelajaran bahasa Jawa ini tidak hanya diajarkan di dalam kelas saja ketika jam pelajaran itu akan tetapi diimplementasikan dalam kehidupan di lingkungan sekolah secara nyata.

Mungkin perlu juga mata pelajaran itu menjadi muatan lokal yang wajib dan juga ditambah dalam jam pelajarannya. Misalnya dalam suatu sekolah terdapat pelajaran bahasa jawa yang hanya 1 jam pelajaran, maka perlu ditambah menjadi 2 jam pelajaran dalam seminggu. Kemudian ditambah lagi membuat suatu program di mana dalam sekolah itu mengharuskan  1 atau 2 hari dalam seminggu seluruh warga sekolah tersebut berbahasa Jawa krama alus. Dengan tujuan agar warga sekolah terutama siswa terbiasa dalam berbahasa Jawa demi melestarikan budaya. Bagaimanapun, melestarikan kearifan lokal dengan tanpa mengesampingkan kearifan nasional-internasional adalah kekuatan peradaban bangsa di dunia.

 

Muh Koyim, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IIQ An Nur Yogyakarta

ejogja

Pusat Info Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

004938