Ekonomi Mudik

Edo Segara Gustanto

Tahun ini Pemerintah mengizinkan rakyatnya untuk melakukan mudik. Mudik merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat setelah dua tahun masa pandemi tidak diperbolehkan. Dalam filosofi mudik, mereka (umat Islam) berharap bisa bertemu dengan keluarga dan handai taulan.

Dalam sebuah postingan teman, entah dari Mazhab Islam yang mana mengatakan bahwa mudik merupakan hal yang tidak bermanfaat karena bermacet-macetan di jalan. Saya terpaksa mengoreksi pendapat ini, karena hal ini dirasa kurang tepat.

Baca juga: Sedang Haid Datang ke Tempat Salat Id?

Adakah ibadah yang mudah sekaligus membawa berkah? Jawabannya, silaturahim. Silaturahim ibadah yang mulia, mudah sekaligus membawa berkah. Belum lagi ayat terkait berbakti kepada orangtua dalam surat Lukman ayat 14: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya…”

Menumbuhkan Ekonomi

Aktivitas mudik juga bisa memacu pertumbuhan ekonomi. Ada transaksi ekonomi di saat para pemudik pulang. Dari sepanjang ia pergi ke tempat tujuan, pasti melakukan konsumsi makanan, membeli bensin, membeli oleh-oleh, dan seterusnya.

Halal bi halal, memang bukan tradisi Islam di Arab sana. Tapi apakah aktivitas yang mengandung kebaikan ini salah? Bertemu dengan teman, bertemu dengan guru, bertemu dengan orangtua. Apakah salah? Tentu tidak. Hanya orang-orang yang berfikiran sempit saja yang mengatakan aktivitas ini hal yang tidak bermanfaat.

Meski dalam mudik juga biasanya ada unsur flexing (pamer) kekayaan. Agar dianggap sukses, membeli mobil baru untuk dibawa saat pulang kampung. Hutang agar bisa memberi THR yang banyak kepada sanak saudara.

Jangan Lewatkan Baca Juga: Ketinggal Takbir, Datang Kok Imam sudah Membaca Al-Fatihah

Apakah flexing dan hutang salah? Tidak salah juga, asal punya perhitungan yang tepat untuk membayarnya. Untuk flexing mungkin harus dikoreksi, agar kita selalu rendah hati. Akan tetapi, lagi-lagi dalam pembelian mobil dan hutang ada transaksi ekonomi di situ.

Potensi Ekonomi Mudik

Diprediksi perputaran uang dari aktivitas mudik pada periode Lebaran 2022 tembus Rp8.000 triliun. Angkanya tercatat tumbuh 4,26 persen dibanding perputaran uang pada bulan-bulan biasanya, yakni Rp7.672,4 triliun berdasarkan data Bank Indonesia (BI).

Angka ini diperoleh dari perhitungan total pemudik Lebaran tahun ini yang disurvei Kementerian Perhubungan mencapai 80 juta orang, baik lewat perjalanan darat, udara, maupun laut.

Belum lagi tunjangan hari raya (THR) bagi PNS dan pekerja swasta wajib dibayar penuh setelah sempat tersendat pada tahun-tahun sebelumnya akibat tekanan ekonomi akibat pandemi. Tahun 2022 ini baik PNS dan Swasta bisa menikmati kembali fasilitas ini. Hal ini juga tentu akan memacu konsumsi.

Baca Juga: Memperbanyak Sedekah di Bulan Ramadan

Sebagai penutup, di dalam mudik banyak manfaatnya meski harus bermacet-macetan. Kemacetan ini barangkali yang harus diantisipasi oleh pihak terkait (Pemerintah aka. Menteri Perhubungan). Jangan sampai juga terjadi, seperti beberapa tahun yang lalu sampai ada korban yang meninggal karena terjebak di kemacetan. Tetapi saya berharap ini tidak terjadi. Selamat mudik, selamat bertemu dengan handai taulan.

 

Edo Segara Gustanto, Dosen FEBI IIQ An-Nur Yogyakarta

ejogja

Pusat Info Pendidikan

One thought on “Ekonomi Mudik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

009147