Memahami Tradisi Islam dan Kearifan Lokal di Bulan Ramadan

Muhammad Adam Fikri

Ramadan  merupakan bulan yang suci, bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di dunia. Bagaimana tidak, pada bulan ini banyak sekali keutamaan-keutamaan yang tidak ditemukan di bulan-bulan lainnya. Pintu rahmat dan ampunan dibuka selebar-lebarnya. Segala amal ibadah dan amal shalih akan menjadi penghapus dosa-dosa yang telah berlalu, dan pahalanya juga akan dilipat gandakan. Hal inilah yang  menjadikan bulan Ramadan  memiliki motivasi tersendiri untuk mengacu lebih semangat dan lebih giat untuk melakukan ibadah-ibadah dan amal shalih.

Pada bulan Ramadan, setidaknya terdapat rutinitas amal ibadah yang dilakukan oleh masyarakat muslim. Uniknya, rutinitas ini hanya ada dan boleh dilakukan hanya dalam kesempatan di bulan ini. Adapun rutinitas ibadah tersebut di antaranya:

Pertama, berpuasa. Sebagaimana yang diketahui bahwa Ramadan  merupakan syahru al-shiyam, yakni hanya di bulan ini umat muslim di seluruh dunia diwajibkan atas berpuasa. Melatih diri tidak hanya dalam menahan makan dan minum, tetapi juga menahan hawa nafsu dan merasakan empati sosial.

Jangan Lewatkan Baca Juga: Dampak Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi

Kedua, zakat fitrah. Sebenarnya zakat fitrah ini diwajibkan ketika malam takbiran sampai sebelum melaksanakan salat Idul Fitri. Namun, dalam praktiknya, boleh dilakukan dengan dimulai ketika telah masuk pada bulan Ramadan. Zakat fitrah ini bertujuan tidak hanya menjalin silaturahmi dengan tetangga, tetapi juga momen untuk menunjukkan kepekaan sosial dengan saling berbagi antar sesama.

Ketiga, salat tarawih. Salat tarawih juga bukanlah sebuah kewajiban di bulan puasa, tetapi ritual religius ini hanya ada di bulan suci ini. Salat tarawih hanya sebatas anjuran yang ditekankan. Namun, karena banyaknya keutamaan-keutamaan yang ada di dalamnya menjadikan salat tarawih seakan-akan sebuah keharusan, atau lebih tepatnya sebagai sebuah kebutuhan umat muslim untuk menjalannya. Dalam tradisi di Indonesia, salat tarawih ini biasa dilakukan secara berjamaah di musala, masjid, ataupun surau-surau perkampungan.

Di Indonesia, selain rutinitas-rutinitas di atas terdapat rutinitas-rutinitas yang sudah menjadi sebuah tradisi yang cenderung dilakukan atau bahkan hanya dilakukan pada bulan Ramadan . Tradisi ini, yang entah siapa yang mencetuskannya, masih samar-samar penjelasannya, khususnya dalam sejarah dimulainya. Namun, yang pasti, tradisi ini dilatarbelakangi oleh keinginan masyarakat untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan. Keinginan tersebut tentu dibenarkan oleh agama Islam. Adapun tradisi lainnya yang menjadikannya sebagai kearifan lokal (local wisdom) di Indonesia di antaranya ngabuburit, berbagi takjil, bukber dan membangunkan sahur.

Ngabuburit

Ngabuburit merupakan istilah dari sebuah kegiatan yang dilakukan dalam rangka menunggu datangnya waktu berbuka puasa (biasanya mulai 3-1 jam menjelang azan Maghrib tiba). Kegiatan ini bisa dilakukan dengan hanya berjalan-jalan keliling wilayah sekitar, berkumpul bersama teman, berburu takjil, dan beberapa kegiatan yang lainnya.

Berbagi Takjil

Kata takjil merupakan resapan dari bahasa arab yang bermakna menyegerakan. Di Indonesia, banyak sekali ditemukan masyarakat yang berbagi takjil. Pembagian takjil ini dilakukan pada sore hari menjelang Maghrib berupa minuman (seperti air mineral, teh hangat, dan seterusnya), makanan (seperti kurma, jajan snack lainnya, dan sebagian juga nasi kotak). Tidak ada ketentuan dalam pembagian takjil ini, karena tujuan pembagian takjil ini selain bersedekah, juga agar orang yang sedang berpuasa bisa berbuka dengan segera. Hal ini sesuai dengan makna dari takjil itu sendiri. Pembagian takjil ini banyak ditemukan di masjid-masjid, musala, pasar, jalanan, dan lainnya.

Buka Bersama (Bukber)

Buka bersama (bukber) yaitu mengajak satu orang atau lebih untuk berbuka puasa dalam suatu tempat yang telah ditentukan. Biasanya bukber ini dilakukan sebagai momen yang pas untuk reuni dengan teman, sahabat atau lainnya yang jarang bertemu atau bahkan telah lama tidak bertemu. Hal ini dikarenakan banyaknya rutinitas mereka yang susah ditinggalkan (seperti pekerjaan, sekolah dan lainnya), sehingga susah untuk berkumpul bersama. Salah satu alasan tersebut, momen bukber ini sebagai ajang untuk mempertemukan kembali orang-orang terdekat untuk hanya sekedar bernostalgia, mengeratkan tali silaturahmi, atau semacamnya.

Membangunkan Sahur

Sebelum melakukan puasa Ramadan pada siang hari, umat muslim dianjurkan untuk melakukan sahur terlebih dahulu. Kegiatan sahur ini dilakukan pada malam hari menjelang subuh tiba. Karena sahur dilakukan pada malam hari, maka timbullah gagasan dari kelompok masyarakat membangunkan warganya untuk melakukan sahur. Di berbagai wilayah di Indonesia, cara untuk membangunkan sahur ini bermacam-macam. Ada berbentuk individu dengan membangunkan sahur melalui toa di musala atau masjid kampus, ada pula yang berbentuk kelompok. Biasanya yang berkelompok ini membangunkan sahur dengan berkeliling kampung menggunakan media drumband, ada yang menggunakan alat-alat musik seadanya seperti ember, botol, kayu dan sebagainya, dan ada juga yang memakai kentongan (menggunakan bambu yang telah dilubangi). Walaupun cara berkelompok ini mulai berkurang yang melakukannya, namun tradisi ini masih melekat dan dilestarikan di berbagai daerah di Indonesia.

Perhatikan! Nasehat Ramadan 2022 Gus Mus

Tradisi di atas merupakan beberapa aktivitas yang hanya ada dan dilakukan pada bulan Ramadan. Tradisi tersebut bisa bersifat positif jika dilakukan dengan cara yang positif. Namun, tradisi itu juga bisa bernilai negatif, hanya karena dilakukan dengan cara atau tujuan yang negatif. Salah satu contoh membangunkan sahur dengan cara membuat keonaran dan kegaduhan. Hal ini bukan membantu warga, malah justru meresahkan warga.

Ikuti Juga: Tahsin Bacaan Alquran Metodologi Yambu’a Kiai Abdul Haris

Menurut hemat penulis, tradisi-tradisi yang baik di atas harus terus dijaga dan dilestarikan. Sebagaimana dalam ushul Fiqh, “Almuhafadzatu ‘ala al qadimi as shalih, wa al akhdzu bi al jadidi al ashlah”. Teruslah merawat hal-hal baik yang sejak dulu telah dilakukan sebagai bagian kearifan lokal dan inovasikan dengan hal-hal baru yang lebih baik demi kepentingan dan kemaslahatan bersama. Maka dari itu, jangan sampai tradisi-tradisi yang baik tersebut dicampuri oleh hal yang buruk yang bisa mengurangi keberkahan Ramadan. Bulan Ramadan adalah bulan istimewa nan suci, maka sudah sepatutnya diisi dengan sesuatu yang mulia nan suci pula. Semoga Ramadan tahun ini, kita semua diberikan limpahan berkah-manfaat, sehingga menjadikan kita sebagai insan kamil yang diharapkan Tuhan dalam firman-Nya. Amin.

 

Muhammad Adam Fikri, Mahasiswa Prodi PAI Fakultas Tarbiyah IIQ An Nur Yogyakarta.

ejogja

Pusat Info Pendidikan

One thought on “Memahami Tradisi Islam dan Kearifan Lokal di Bulan Ramadan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

005039