Memasuki Api Cinta

Kuswaidi Syafi’ie

Kemahaesaan Allah Ta’ala sedemikian sempurna. Tak sepenuhnya bisa tertampung dan terbayangkan oleh akal pikiran manusia yang paling dahsyat sekali pun. Orang-orang yang beriman dan cerdas secara lahir dan batin hanya bisa merasakan dan terngungun-ngungun di hadapan kemahaesaan hadiratNya itu.

Segala sesuatu digenggam oleh kemahaanNya. Tidak ada apa pun yang meleset dari kehendakNya. Apa saja yang diinginkan pasti terjadi. Tidak mungkin tidak. Dia sama sekali tidak membutuhkan kausalitas, apalagi sampai bergantung kepadanya. Hayhata, hayhata. Sangat jauh, sangat jauh.

Jangan Lewatkan Baca Juga: Menyingkirkan Debu Hasrat

Akan tetapi dengan penuh kasih sayang dan sikap yang sangat santun, Allah Ta’ala rupanya sengaja “menurunkan” tensi absolusitasNya pada tataran umat manusia yang terbatas agar bisa dijangkau dan dipahami oleh mereka. Agar terjadi dialog, agar terjadi mukalamah dalam bingkai pemahamannya yang sangat luas dan dalam.

Ketika hijrah ke Madinah bersama kawan setianya, Abu Bakar ash-Shiddiq, Nabi Muhammad Saw dikejar-kejar oleh orang-orang kafir yang dipenuhi oleh dengus dendam dan kebencian. Mereka bersembunyi di sebuah gua yang diberkati, Gua Tsur. Di mulut gua itu ada seekor laba-laba yang lengkap dengan sarangnya. Sementara di atasnya ada seekor burung dara yang sedang mengerami telurnya.

Baca Juga: Wafat Penuh Keajaiban

Ya Allah, jika mau, bukankah sesungguhnya Engkau sanggup menutupi kedua kekasihMu itu dengan tidak menggunakan sarana sama sekali, dengan tanpa laba-laba dan burung dara? Karena sebenarnya kehendakMu itu tidak mesti, bahkan mustahil, bergantung kepada apa pun yang lain.

Ketika Nabi Musa as dan segelintir sahabatnya dikejar-kejar oleh Firaun dan bala tentaranya yang sangat tangguh hingga akhirnya mencapai bibir pantai di Laut Merah, Kau perintahkan putra ‘Imran itu untuk memukulkan tongkat saktinya ke lautan dengan tanpa memberitahukan terlebih dahulu untuk apa tongkat itu mesti dipukulkan. Lalu laut terbelah. Dan masing-masing dari belahan laut menjulang seperti gunung. Nabi Musa as dan sahabat-sahabatnya melintas di situ. Sementara Firaun dengan bala tentaranya tenggelam.

Cermati Juga: Makjleb Jawaban Dr Fahruddin Faiz Menangkal Neo-Ateisme

Ya Allah, sesungguhnya Engkau kuasa untuk membelah lautan dengan tanpa tongkat. Juga sanggup memenangkan “kawan dialogMu” itu melawan Firaun dengan tanpa menggunakan senjata apa pun. Ya Allah, sebenarnya untuk apakah tongkat itu? Untuk apa pula kemuliaan nabiMu itu ditahbiskan di atas kekalahan Firaun?

Ya Allah, jauh-jauh hari sebelum terjadinya banjir bandang terbesar dalam sejarah kehidupan umat manusia yang konon sampai menggenangi bumi, Kau perintahkan Nabi Nuh as untuk membuat perahu yang cukup besar. Nabi yang umurnya melampaui generasi demi generasi itu, yang diutus oleh Allah Ta’ala untuk menyampaikan risalah kepada umatnya selama sembilan ratus lima puluh tahun, melaksanakan titahMu dengan penuh kesungguhan dan ketulusan tanpa harus mengetahui terlebih dahulu untuk apa dia diperintahkan membikin perahu.

Nikmati Juga: I’tikaf, Cara dan Keutamaan

Ya Allah, sesungguhnya seluruh banjir bandang sebesar apapun terlampau sepele di hadapanMu. Kau sama sekali tidak membutuhkan perahu untuk menyelamatkan orang terkasihMu. Jika Kau kehendaki, Nabi Nuh as itu bisa selamat tanpa menggunakan perahu atau wujud sarana apa pun yang lain.

Ya Allah, Kau mengabarkan sendiri dalam kitab suciMu Qur’an bahwa kaum ‘Ad yang begitu arogan dan menantang risalah yang disampaikan salah satu utusanMu, Nabi Hud, Kau hantam dengan badai yang paling gila selama delapan hari tujuh malam secara terus-menerus. Mereka tewas dengan sangat mengerikan di ujung hari-hari yang naas itu.

Cek Pusat Info Pendidikan

Ya Allah, jika Kau berkehendak, sungguh sama sekali tidak ada kesulitan bagiMu untuk menjadikan mereka meregang nyawa dan musnah dengan tanpa menggunakan badai sebagai sarananya.

Ya Allah, seluruh sarana dan perantara berasal-usul dari Engkau. Kau berhak untuk menggunakan atau tidak menggunakannya. Secara hakiki di hadapanMu, keberadaannya sama persis dengan ketiadaannya. Karena secara mutlak ia bergantung kepadaMu.

Ambil Saja: Beasiswa S2 dari Kominfo

Ya Allah, kelemahan yang seringkali mengganduli kami adalah ketertarikan dan ketertegunan kami terhadap fasilitas dan sarana-sarana. Ampun ya Allah. Tolong mudahkanlah kami untuk menyeberangi dan menerobos kelamnya hutan sarana-sarana. Tolong jadikanlah kami semakin tertarik hanya pada wajahMu, hanya pada wajahMu semata. Amin amin amin.

 

Kuswaidi Syafi’ie, Penyair sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi Yogyakarta.

ejogja

Pusat Info Pendidikan

6 komentar pada “Memasuki Api Cinta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

006288