Masa Kian Maju, Rasa Kian Layu

Seputar Pendidikan #43

Aldi Hidayat

Dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) TVOne, Sujiwo Tejo, dalang dan budayawan, menyampaikan kritiknya terhadap tindak-tanduk pemuda masa sekarang. Saat naik taksi misalnya, pemuda masa kini langsung masuk. Sampai di tujuan, mereka langsung keluar. Sebaliknya, generasi masa Tejo tidaklah demikian. Mereka menunggu aba-aba dari sopir. Jika sopir menghendaki mereka duduk di belakang, maka duduklah mereka di belakang. Sesampainya di tujuan, mereka tidak langsung pergi. Mereka menunggu sang sopir berangkat kembali baru mereka kemudian pergi. Apa arti semua ini?

Itulah pendidikan tatakrama atau lebih dalam lagi, yakni pendidikan rasa. Bukannya penumpang sudah membayar? Kenapa masih repot-repot menunggu si sopir? Tejo menegaskan bahwa uang hanya mengganti tenaga dan pikiran si sopir, bukan perasaannya. Uang hanya bisa mengganti tenaga atau selebihnya pikiran. Akan tetapi, perasaan tidaklah semurah itu. Tak heran, Blaise Pascal pernah bilang, “Hati memiliki akal yang tidak bisa dipahami oleh akal otak”.

Kutipan di atas adalah pengantar bahwa masa kian maju, rasa kian layu. Mengapa? Karena kemajuan identik dengan inovasi dan akselerasi. Semua harus serba cepat, harus serba baharu, padahal kebutuhan utama manusia bukan berubah. Kebutuhan utama mereka ialah tenang. Tenang tanpa jeda hanyalah ilusi belaka. Jadi, harus ada jeda dalam hidup ini guna merilekskan pikiran dan perasaan.

Jangan Lewatkan Baca Juga: Episode 2 Gibah yang Islami

Di samping harus serba baharu, semua digiring untuk memperhitungkan angka. Inilah efek dari kapitalisme dan industrialisasi. Keduanya memandang manusia berdasarkan angka. Jauh beda dengan agama dan budaya yang memandang manusia berdasarkan nilai dan rasa. Dalam industri, jasa orang tak ubahnya komoditas. Cukup uang yang bisa merebutnya. Tatakrama tidak perlu. Kalaupun perlu, ia sekadar sampingan atau kalau perlu pula, silakan buang ke selokan. Dalam agama dan budaya, jasa manusia dibalas dengan jasa. Tak heran, orang tempo dulu, bahkan beberapa orang masa sekarang, seperti yang hidup di pedesaan kadang merasa tidak nyaman, apabila kebaikannya dibalas dengan uang. Mengapa? Karena kebaikan terlalu mahal untuk ditukar dengan uang. Lebih dari itu, kebaikan adalah ekspresi rasa, bukan semata ekspresi tenaga. Memangnya seberapa mahal rasa, sehingga terkesan anti terhadap uang? Mari kita alihkan pembicaraan pada misal lainnya!

Salah satu satir ternama mengenai relasi pria-wanita adalah, “Yang berjuang akan kalah sama yang ber-uang“. Tidak bisa dipungkiri betapa kebutuhan ekonomi memengaruhi hampir semua lini, bahkan agama pun tidak lepas dari ancaman sektor yang satu ini. Demikian petuah Karl Marx untuk generasi. Kendati demikian, apakah ketercukupan ekonomi menjamin si perempuan bahagia? Tentu tidak, karena banyak pasangan yang bergelimang harta harus berujung perceraian. 

Baca Juga: Episode 1 Ghibah yang Islami

Dalam satu tarikan nafas dengan ini, cobalah tanya, mengapa perempuan enggan menjadi PSK? Kalau memang uang adalah tujuan utama, mengapa mereka enggan berprofesi demikian? Karena mereka adalah manusia, bukan benda. Rasa sebagai manusia selamanya bertahta. Pada saat yang sama, harta dan tahta tidak bisa menggantikannya. Lalu jika uang bukan jaminan bagi bahagia, itu artinya apa?

Perasaan manusia sebenarnya lebih mahal dari alat tukar berupa uang. Tak heran, mengapa para pahlawan rela meregang nyawa, hidup miskin dan papa, diintai kelaparan dari mana saja, padahal menjadi penjilat penjajah justru bisa membuat mereka kaya. Mengapa mereka rela demikian? Karena mereka memiliki perasaan. Perasaan mereka tidak bisa tertukar gemerlap kehidupan.

Tidak jarang murid masa kini menilai lelaku tidak sopan pada guru sebagai tindakan yang benar. Dalihnya ialah, “Orang tua saya membayar Anda.” Satu sisi, ini mungkin benar adanya. Anda ngajar, saya bayar. Akan tetapi, betapa pun gemilaunya bayaran, tetap saja itu tidak bisa setara dengan adiluhungnya perasaan. Manusia bukan barang yang dengan seenaknya bisa diperjualbelikan. Dalih di atas tetap tidak akan berkenan di hati orang. Mengapa? Karena dalih itu telah mendegradasikan harga diri sebagai orang menjadi sejajar dengan barang.

Ambil Beasiswa: Mengenal TOEFL secara Akurat dan Selamat

Jikalau mau jujur, seharusnya mahalnya bayaran untuk guru melampaui gaji pengusaha. Mengapa? Karena di balik tegaknya kejayaan bangsa, ada ilmu yang disebarkan oleh para guru. Meski begitu, guru tidak berhak semena-mena pada muridnya. Oleh sebab guru harus digugu dan ditiru, maka si guru merasa absah merayu muridnya yang ayu. Jika enggan, maka bersiaplah nilai si murid anjlok dan layu. Betapa pun tingginya pangkat guru, bukan berarti dia layak memperlakukan murid sesuka dan sesuai apa yang dia mau.

Dewasa ini, ilmu medis memang maju. Berbagai obat dan alat telah bermunculan. Siap-siaga atas penyakit sudah berada di genggaman. Walau begini, penyakit baru muncul di masa kini. Itulah stress dan depresi. Sebenarnya ada banyak lagi. Semuanya berpayung di bawah tajuk penyakit mental. Saat zaman kian maju, justru internal diri manusia terancam layu. Lewat gawai, semua orang bersatu, sekaligus berpencar. Mereka berkumpul pada tataran raga, tapi jiwa mereka melanglang-buana, karena sekali klik, maka Aku Ada.

Kompilaasi Quotes Pendidikan yang Paling Menggetarkan Jiwa

Pada gilirannya, manusia menjadi timpang dalam memenuhi kebutuhan. Mereka surplus sensasi, defisit dedikasi. Terlalu banyak mencicipi kenikmatan hingga lupa akan manisnya perjuangan. Tanpa membiasakan diri dengan perjuangan, maka mental generasi menjadi rapuh. Sekali ujian menghantam, mereka mudah untuk goyah lalu karam. Demikian. Wallahu A’lam.

 

Aldi Hidayat, Santri Kutub Yogyakarta

ejogja

Pusat Info Pendidikan

One thought on “Masa Kian Maju, Rasa Kian Layu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

009147