Gempur Stagnan dengan Budaya Tandingan

Seputar Pendidikan #40

Aldi Hidayat

Ketika mendapati keadaan yang mengidap kelainan menurut perspektif agama dan budaya, maka biasanya ada dua sikap pilihan; lawan atau biarkan. Lawan memang efektif bagi perubahan. Sayangnya, lawan kerapkali berupa tindakan anarkis dan sewenang-wenang. Atas nama pesan agama dan budaya, maka tak apalah mendiskreditkan pihak yang menyimpang. Di pihak lain, ada yang mengambil sikap, “Biarkan!” atas nama toleransi dan kemanusiaan. Mirisnya, sikap ini bukan mengubah keadaan, namun memperparah persoalan. Lalu adakah jalan tengah yang bisa melawan sekaligus membiarkan? Ada. Apa gerangan?

Sikap moderat tersebut ialah menciptakan budaya tandingan. Budaya tandingan setidaknya terbagi dua. Pertama, menyusupkan pesan-pesan ideal dalam zona populer. Zona populer adalah sesuatu yang banyak digandrungi. Kedua, mencontohkan sesuatu yang kontras dengan yang lumrah, namun sebenarnya lebih baik. Bagaimana lebih jelasnya? Penulis akan membahasnya secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jangan Lewatkan Baca Juga: Edisi Pamungkas Seputar Pendidikan

Pertama, menyusupkan pesan ideal dalam zona populer. Ini misalnya berupa musik. Beberapa waktu silam, sempat viral eks suatu band mengharamkan musik. Cara demikian adalah sikap melawan. Sayangnya, perlawanan itu bersikap radikal, yakni sekali hantam. Sikap demikian tidak akan mengundang simpati, melainkan benci. Cara yang efektif bukan mengharamkan musik, tapi menandingi musik-musik asmara dan asmaragama dengan musik motivasi, inspirasi dan aspirasi yang menggugah jiwa.

Pada saat yang sama, beberapa orang berambisi menerapkan Islam secara kaffah (total). Karena berambisi total, akibatnya dia mudah mengharamkan dan membid’ahkan. Persoalannya, Islam telah menegaskan bahwa ia bukan agama yang menjajah. Dalam situasi di mana si tak bermutu merata, layakkah kita serta-merta menilainya haram? Misal, hukum potong tangan bagi pencuri. Dalam keadaan di mana Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) masih merajalela, patutkah kita terapkan potong tangan sebagai hukum pidana? Tidakkah tindak pencurian dalam keadaan ini setengah terpaksa, bukan sepenuhnya mau dan sengaja? Jika Islam bukan agama penjajah, maka tentu cara menyikapi keadaan demikian bukan hantam seketika, melainkan perlahan, namun niscaya.

Baca Juga: Loker Tentor Freelance LBB BRITS Indonesia

Kedua, mencontohkan sesuatu yang kontras dengan yang lumrah. Contoh, membaca buku di tengah teman-teman yang lagi asyik-masyuk main game. Berdiskusi di pariwisata, tempat rata-rata bercanda ria dan pamer mesra. Berdebat secara argumentatif di tengah orang yang lagi yang asik bercengkrama. Tentu masih lagi contohnya.

Sayangnya, kategori kedua ini seringkali mendapat cibiran, “Nggak usah sok suci!” Mendapati cibiran ini, jawaban sederhana yang mengena ialah, “Justru karena saya belum suci, maka saya harus menyucikan hati, bukan malah berdiam diri!” Cibiran demikian kerap kali merobohkan semangat seseorang. Berkenaan cibiran tersebut, ada dua poin yang akan penulis bicarakan.

Ambil: Beasiswa Kedokteran di 6 Kampus Ternama

Pertama, Ibn al-Muqaffa’ berpesan:

إذا قل المعروف، صار منكرا، وإذا كثر المنكر، صار معروفا.

Apabila kebaikan mulai jarang, maka dia akan dianggap keburukan. Sebaliknya, jika keburukan kian merajalela, maka dia akan dianggap kebaikan.

Contoh sederhananya ialah seksualitas. Dulu, seksualitas adalah perkara tabu. Akan tetapi, mengapa sekarang begitu menyebar, tidak hanya di dunia virtual, bahkan ceramah keagamaan pun kadang dibumbui oleh guyonan tentang seksualitas. Tentu ada banyak alasan, misal sebagai pendidikan seks. Akan tetapi, akarnya bukan demikian. Akarnya adalah menjamurnya seksualitas di masa kini, sehingga benak kita lantas terdoktrin bahwa seksualitas itu perkara yang biasa. Jadi, tidak perlu terlalu anti atasnya. Kalau perlu, anggap saja itu bisa mendatangkan pahala!

Baca Juga: Ngaji Bahasa Bersama Zamzam Afandi

Penulis tidak bermaksud menilai seksualitas sebagai dosa sepenuhnya. Titik tekan penulis bukan apakah itu dosa atau tidak, melainkan apakah itu bermutu atau tidak. Memamerkan kemolekan tubuh perempuan justru bertentangan dengan semangat kesetaraan. Pasalnya, hal itu justru membuat perempuan sebagai ladang segar para pebisnis kapitalis. Akhirnya, harga diri perempuan ditentukan oleh kecantikan. Gegaranya, perempuan tidak diangkat sebagai objek cinta dan kasih sayang, tetapi objek berahi dan seksual.

Membudayakan literasi di dunia yang serba sensasi tentu dianggap langka. Tak ayal, cibiran pun mengemuka. Hanya saja, bukan berarti keadaan stagnan ini kita biarkan lalu mengatasnamakan, “Tidak usah buat budaya tandingan! Hargai temanmu! Ini toleransi tohh…” Toleransi itu bukan membiarkan keadaan yang stagnan. Alih-alih mau toleransi, justru hal ini akan menjadi bibit benci. Pasalnya, kondisi stagnan akan mengerdilkan kepekaan spiritual, ketajaman intelektual dan kedewasaan emosional. Pada gilirannya, setiap orang hidup sendiri-sendiri. Ketika hal ini kian parah terjadi, maka simpati dan empati tinggal ilusi tak bertepi. Lalu bersikap antipati terhadap kemelaratan orang lain pun menjadi-jadi. Al-Qur’an menyinggungnya dalam ayat:

.اَلْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِيْنَ.

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya adalah musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Zukhruf [43]: 67).

Jangan Lewatkan Baca Juga: Kemendikbudristek Adakan Jurusan EBT

Beberapa tafsir mengartikan, “Hari itu” sebagai hari kiamat. Artinya, terjadinya permusuhan masih kelak. Sebenarnya tidak hanya itu. Permusuhan itu bisa terjadi kini dan di sini. Bukti konkretnya ialah ketimpangan ekonomi global. Dampaknya, tidak sedikit negara berkembang yang memusuhi negara maju atau pura-pura menjadi teman, kendati hakikatnya benci dan dendam. Mengapa bisa demikian? Karena individualisme terus bergema. Akhirnya, yang tertanam, “Suka-suka gue lah…”. Nasib orang melarat pun tidak menggubris kesadarannya.

Ibn ‘Atha’illah berpesan:

.لا تصحب من لا ينهضك حاله ولا يدلك إلى الله مقاله

Jangan berteman orang yang tidak membangkitkanmu dan kata-katanya tidak menunjukkanmu pada Allah!

Baca Juga: Pola Pikir Dekonstruktif

Dalam prakteknya, beberapa orang pilih-pilih teman. Efek sampingnya, preman dan bajingan tidak kebagian pesan kehidupan. Mereka pun menjadi semakin nakal dan berandal. Petuah beliau tidak pantas diterapkan dalam bentuk pilih-pilih teman, namun dalam bentuk membatasi porsi kebersamaan. Sebagian besar habis dengan orang yang suka pengembangan diri dan pengabdian. Sisanya dihabiskan bersama pecandu game, bahkan preman dan bajingan. Islam tidak mengajarkan permusuhan terhadap orang, tetapi permusuhan terhadap buruknya tindakan. Caranya bukan dengan memusuhi orangnya, namun memusuhi tindakannya. Memusuhi tindakannya adalah dengan mendekatinya lalu memberikan sentuhan progresif secara perlahan untuknya.

Syekh Badi’uzzaman Sa’id al-Nursi, ulama dan pahlawan Turki melansirnya menjadi ungkapan, “Satu-satunya yang pantas yang dicintai adalah cinta itu sendiri. Satu-satunya yang pantas dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri.” Memusuhi permusuhan ialah memusuhi kejahatan, bukan pelakunya. Mencintai cinta ialah mencintai ketuhanan dan kemanusiaan melebihi cinta akan kekasih, orang tua, anak, bahkan diri sendiri. Demikian. Wallahu A’lam.

 

Aldi Hidayat, Santri Kutub Yogyakarta

ejogja

Pusat Info Pendidikan

2 komentar pada “Gempur Stagnan dengan Budaya Tandingan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

005042