Prestise atau Prestasi

Seputar Pendidikan #30

Aldi Hidayat

Esai sebelumnya telah mengulas tujuan viral. Setidaknya ada dua, yaitu prestise dan prestasi. Penulis juga mengulasnya secara singkat; bahwa prestise hanya mengundang kesan, namun minim, bahkan nyaris tidak ada kegunaan. Yang ada ialah kekaguman untuk kemudian sakralisasi atau mengeramatkan. Sebaliknya, prestasi adalah jasa dan karya. Ia membawa kegunaan yang jelas bagi ketuhanan, kemanusiaan dan lingkungan. Pada esai kali ini, penulis akan memperpanjangnya.

Bagaimana Nabi SAW memandang keduanya? Hadits riwayat Shahih al-Bukhari berbunyi:

.لا حسد إلا في اثنين: رجل آتاه الله مالا فسلط على هلكته في الحق ورجل آتاه الله حكمة فهو يقضي بها ويعلمها

Tidak boleh “iri kecuali pada dua pihak: Orang yang Allah anugerahi harta lalu dia membelajakannya dalam kebenaran dan orang yang Allah karuniai hikmah lalu dia menerapkan dan mengajarkannya.

Apa dan bagaimana maksud hadits ini? Penulis akan mengulasnya sebagai berikut. Pertama, Nabi SAW membolehkan iri pada salah satu dua pihak di atas atau keduanya sekaligus. Iri dalam hal apa? Tentu bukan iri dalam arti sebelumnya, melainkan iri yang bertanda petik alias mirip iri, tapi sebenarnya beda. Itulah ghibthah, yaitu rasa persaingan secara sportif. Selanjutnya, apa maksud dan mengapa mesti “iri” pada dua pihak tadi?

Kedua, berharta dan berguna. Disebut berguna, karena yang dimaksud Nabi SAW ialah membelajakan harta dalam  kebenaran. Memangnya bagaimana ini? Kata haqq dalam hadits di atas memiliki beberapa pengertian, seperti Maha Benar, selaku sifat Tuhan, kebenaran, kenyataan dan hak, seperti hak asasi manusia. Seperti apa rupa membelajakan kebenaran dalam kebenaran?

Selama ini, menyaingi orang kaya sudah lumrah. Sayangnya, kaya harus ditunjukkan dengan kemewahan dan kemegahan. Kaya itu mesti punya mobil mewah, rumah megah, perhiasan melimpah, perusahaan yang wah, sekolah di tempat bergengsi, gaji yang begitu tinggi, karir yang mendulang reputasi dan masih banyak lagi. Semua itu dan perkara lain yang seragam masih berkutat pada kepentingan diri dan keluarga atau paling banter kelompok sendiri. Gaya hidup semacam ini kini tidak hanya menjadi kebiasaan konglomerat, penguasa dan pengusaha, tetapi juga menjangkiti pemuka agama.

Tak heran, betapa banyak kiai, ustadz, penceramah hidup dalam dekapan kemewahan dan kemegahan. Apa yang terjadi tatkala pemuka agama memamerkan kemewahan? Orang awam akan menganggapnya sebagai sesuatu yang sah-sah saja menurut agama. Jika begitu, kapitalisme eksploitatif lambat laun bisa saja dibenarkan menurut agama. Pasalnya, agama tidak berbicara langsung pada penganutnya. Ia butuh juru bicara. Juru bicaranya adalah pemuka agama yang menampilkan agama dalam berbagai bentuknya, entah ucapan atau tindakan. Pemuka agama adalah juru bicara agama, sehingga lelaku dan gaya hidupnya rawan–jika segan disebut pasti–dianggap agama itu sendiri. Apakah kemewahan pemuka agama sesuai dengan spirit Islam?

Islam justru mengajarkan sewajarnya. Sayangnya, kemewahan kerap diidentifikasi sebagai kewajaran. Itu cukup maklum, mengingat kemewahan sekarang sudah menjamur sedemikian luas, sehingga yang berbahaya rawan dianggap biasa saja. Coba bandingkan dengan kehidupan Nabi SAW? Beliau pernah disidang oleh para istrinya, karena jatah belanja mereka di bawah rata-rata. Sayyidah Fatimah pernah memohon izin supaya dapat mengadopsi pembantu di rumah tangga kecilnya bersama Sayyidina Áli. Nabi SAW malah memberikan dzikir, bukan memberi izin. Ini artinya apa? Pemuka agama tidak pantas mendapuk diri sebagai pewaris Nabi, jika hidupnya masih mewah, megah dan jauh dari setara dengan kehidupan rakyat jelata. Apakah berarti pemuka agama tidak boleh kaya? Islam tidak mencela kaya, tapi mencela mewah dan megah.

Kekayaan semestinya diarahkan untuk menolong orang lain dari pengangguran, kemiskinan dan kelaparan. Ini tidak cukup dengan mengadakan sumbangan atau memberi uang. Semua problem itu butuh lapangan kerja. Jika demikian, maka apa harus menjadi kapitalis baru? Kapitalis melebarkan bisnisnya untuk menumpuk kekayaan. Kaya yang dimaksud hadits tadi bukan demikian. Secara vulgar, hadits di atas mesti berupa memberi bantuan modal pada orang lain, bukan melebarkan bisnis, lalu merekrut orang. Melebarkan bisnis rentan membuat orang lain kekurangan ruang kerja, bahkan ruang kebebasannya.

Pasalnya, orang lain akan selalu disetir oleh si pemilik bisnis tadi. Bahkan, kalau perlu penerapan hadits di atas berupa memberi bantuan modal secara cuma-cuma. Tidak perlu meminta pembayaran kembali. Kira-kira ada tidak orang kaya macam ini di zaman sekarang? Adakah di zaman kapitalis eksploitatif ini, orang kaya yang tulus membantu orang lain untuk bangkit secara ekonomis tanpa dirinya mendikte orang itu untuk memenuhi selera ekonomisnya? Ada, tapi langka. Kalau di Indonesia, ada pula, namun nanti sehari sebelum kiamat tiba. Itulah maksud orang kaya yang mesti menjadi objek “iri”, yaitu kaya yang dermawan. Dermawan bukan dalam arti suka bagi-bagi uang. Lebih dari itu, dia berbagi trik, strategi, modal dalam membantu orang lain berwirausaha. Dia membantu orang lain bukan saja untuk mendapatkan kerja, tapi membuatnya mencapai ekonomi yang merdeka. Ekonomi di mana orang lain tersebut bukan menjadi pekerja bagi si kaya, tapi memanfaatkan kreatifitasnya sendiri untuk sejahtera.

Kedua, berilmu yang berguna. Selama ini, tujuan orang berilmu itu apa? Kalau tidak profesi, ya prestise, seperti gelar, penghargaan, cenderamata dan lain semacam. Ini rancu. Peradaban tidak dibangun dari itu. Peradaban dimulai dari saling berbagi. Pada hadits itu, Nabi SAW bersabda berilmu yang menerapkan dan mengajar, bukan yang punya penghargaan dan bergelar. Itu artinya, berilmu yang diperlombakan bukan berilmu untuk cari pengakuan, pujian, sanjungan dalam berbagai bentuknya. Berilmu yang dipersaingkan ialah berilmu yang memberikan jasa dan karya. Jasa berupa ketekunan, kedisiplinan dan ketelatenan dalam mengajar, berdiskusi, orasi dan masih banyak lagi. Tidak penting apa itu gelar, apa itu pintar. Orang tidak butuh itu. Orang butuh memangnya Anda dapat membuktikan gelar dan pintar Anda.

Di mana pembuktiannya? Ya mengajar, diskusi, orasi dan lain sebagainya. Jika yang dicari gelar, terlalu banyak cara manipulatif untuk meraihnya. Bukankah gelar sekaliber guru besar pun bisa dibeli? Jadi, apa pentingnya meraih gelar, kalau masih bisa dimanipulasi? Apa pentingnya pamer gelar, kalau mengajar saja tidak disiplin, diskusi cenderung pakai sentimen, bukan argumen? Berilmu yang berguna dalam bentuk lainnya ialah produktifitas dan keseriusan dalam berkarya. Percuma mendulang banyak penghargaan, kalau tidak menulis.

Orang tidak butuh apa kau punya penghargaan atau tidak. Orang butuh apa kau bisa berbagi pengetahuan dan wawasan. Karya pun tidak sebatas karya. Karya dimaksud harus serius. Jika menulis sastra, maka tulislah sastra idealis, yakni sastra tentang sains, teknologi, perjuangan, filsafat, bukan sastra remeh-temeh, semisal asmara, motivasi keseharian yang sudah basi di telinga dan lain sejenisnya. Jika menulis ilmiah, maka setidaknya bisa membuktikannya dengan banyak data dan referensi, bukan buku ilmiah asal jadi. Ilmiah yang serius paling apes, referensinya 200 buku. Di bawah itu, tidak perlu mendapuk diri sebagai penulis. Itulah berilmu yang mesti dipersaingkan, yakni berilmu yang bisa membuktikan dengan data, inovasi dan referensi, bukan citra dan testimoni. Demikian. Wallahu A’lam.

 

Aldi Hidayat, Santri Kutub Yogyakarta

ejogja

Pusat Info Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

004935