Pendidikan Madilog Episode Dua

Seputar Pendidikan #17

Aldi Hidayat

Esai sebelumnya telah mengulas secara ringkas tentang materialisme, selaku spirit dalam buku Madilog. Spirit kedua ialah dialektika. Apa itu dialektika? Dialektika adalah gagasan Gottfried Wielhelm Friedrich (G.W.F.) Von Hegel, salah seorang filsuf Jerman paling berpengaruh. Dialektika mengandaikan bahwa kehidupan ini berjalan atas tiga kerangka hubungan universal, yakni tesis, antitesis dan sintesis. Tesis gampangnya ialah suatu gagasan. Muncullah kemudian gagasan tanggapan atasnya yang disebut antitesis. Tesis dan antitesis kemudian bergabung menjadi sintesis. Bagaimana contoh konkretnya dalam dunia pendidikan?

Kurikulum pesantren, selaku lembaga perdana Nusantara adalah ilmu-ilmu keagamaan dengan metode mengajar sorogan dan bandongan. Tatkala penjajah Belanda masuk, mereka menerapkan kurikulum berupa materi umum dengan sistem pengajaran klasikal. Pesantren tempo silam adalah tesis, sedangkan pendidikan dari Belanda adalah antitesis, di mana ia menghadirkan hal baru dalam dunia pendidikan. Keduanya kemudian digabungkan menjadi pesantren semi modern dan pesantren modern. Gampangnya, dua pesantren ini menggabungkan dua sistem pendidikan yang sama sekali berbeda. Materi keagamaan diajarkan, sedangkan materi umum pun juga dimasukkan. Sorogan dan bandongan masih diterapkan, namun pola pengajaran klasikal juga dilaksanakan. Itulah contoh sederhana dari dialektika dalam dunia pendidikan. Apa hal tersirat yang bisa kita gali dari fakta sejarah ini dalam kaitannya dengan dialektika?

Jangan Lewatkan Baca Juga: Pendidikan Madilog Episode Satu

Pertama, tanggap-menanggapi tidak sebatas keharusan, tapi memang sudah menjadi kodrat alam. Secara spesifik, ini berarti kelanjutan dari esai jauh-jauh hari sebelumnya yang menegaskan bahwa kritik itu tidak sepatutnya dinilai tabu. Ia bagi kehidupan sudah menyatu. Akan tetapi, lantaran ulasan tentang keniscayaan kritik sudah berlalu, maka apa lagi hal baru yang bisa kita temu? Mungkin kita bisa mempertanyakan, “Atas dasar apa tanggap-menanggapi disebut kodrat?” Taruhlah misal yang sederhana. Si C setiap hari main Hp. Apakah sama antara dia main Hp sekarang dengan dia main Hp kemarin? Sama sekaligus berbeda. Sama-sama main Hp, tapi rincian aktivitasnya tidak sama. Kemarin dia main Hp untuk game, Tik Tok dll, sekarang dia main Hp untuk WA, Instagram dll. Artinya, berbeda itu adalah niscaya. Pun juga, sama adalah kepastian yang tidak bisa disangkal adanya. Jika berbeda adalah pasti, mengapa seringkali mudah terjadi pertikaian antarmanusia? Apakah pertikaian itu ditengarai oleh perbedaan atau ditengarai oleh hasrat berkuasa? Jika memang ditengarai oleh perbedaan, mengapa kritik terhadap sebaya tidak kita takuti? Sebaliknya, saat kita mengkritik penguasa, entah negara atau agama, kita gemetar seolah bahaya pasti tiba? Ini berarti pemicu pertikaian ialah adanya hasrat untuk berkuasa dari suatu pihak atas pihak lainnya. Kalau memang murni ditengarai oleh perbedaan, tentu kritik terhadap penguasa tidak perlu dicemaskan. Kalau memang disebabkan oleh perbedaan, maka kita merasa sangat gentar–sama dengan menghadapi penguasa–saat mengkritik orang yang sebaya. Nyatanya, tidak demikian. Jadi, jelas perbedaan bukan penyebab pertikaian, namun karena adanya kehendak akan kekuasaan, sehingga yang berbeda kemudian diancam. Lalu kekuasaan harus dimusnahkan? Tidak perlu ada negara atau agama? Inilah gerbang menuju poin kedua tulisan ini.

Kedua, sintesis adalah nama lain dari kepastian akan adanya kesamaan. Adil menurut si A tidak sama menurut si B. Cinta bagi si C tidak sama bagi si D. Akan tetapi, baik A maupun B sama-sama mendambakan keadilan. Pun juga, si C dan si D sama-sama merasakan cinta. Lalu apa hubungannya dengan kehendak akan kuasa? Kehendak akan kuasa menjadi berbahaya saat satu perkara tertentu menguasai perkara lain yang jelas berbeda. Akan tetapi, kuasa akan sangat dibutuhkan, tatkala yang berkuasa ialah kebutuhan bersama. Sintesis ialah mencari kesamaan universal dari sekian banyak perbedaan, bahkan pertentangan. Masalahnya, acapkali yang berkuasa itu kepentingan mayoritas atas kepentingan minoritas. Dalam istilah Jeremy Bentham, ini disebut Ethic of Care (Etika Kepedulian). Artinya, keadilan itu diukur dari seberapa banyak orang yang mendapatkan gampangnya perlakuan baik. Sayangnya, ini menjadi ancaman bagi kalangan minoritas. Pasalnya, yang dianggap adil adalah saat kebutuhan mayoritas terpenuhi, sementara minoritas harus manut-manut saja, walau haknya dicuri. Mungkin argumen yang beredar, “Minoritas harus patuh sama mayoritas, sebab mayoritas menjamin kelangsungan hidup mereka. Artinya, minoritas hanya numpang hidup sama mayoritas.” Persoalannya, apa harga diri manusia didasarkan pada pro-tidaknya terhadap kepentingan mayoritas atau ditentukan semata oleh kekhasan dirinya? Sahkah disebut merdeka, di kala seseorang harus ikut kepentingan rata-rata, padahal batinnya merongrong tidak terima? Paragraf berikut akan menjadi pamungkas isi tulisan ini sekaligus menyandingkan beberapa hal yang berseberangan tadi.

Tonton Puisi Ibu D Zawawi Imron

Dialektika dalam Madilog sebenarnya tidak sebatas gagasan Hegel. Lebih dari itu, dialektika adalah kodrat alam. Kehidupan manusia selalu berupa dilema antara das sollen (yang seharusnya) dan das sein (yang senyatanya). Jikalau kita terlalu ke yang seharusnya, maka kita bisa menjajah manusia, karena dipaksa lepas dari realita, sementara mereka adalah makhluk realita, bukan makhluk fantasi dalam sukma. Kalau kita terlalu konsen pada yang senyatanya, maka manusia akan terlepas dari yang seharusnya. Yang seharusnya sebenarnya adalah nama lain dari kebutuhan bersama. Artinya, terlalu fokus pada yang senyatanya membuat manusia surplus hidup sendiri, defisit kesadaran akan kebutuhan bersama. Kan faktanya manusia cenderung hidup sendiri-sendiri? Si A berbuat baik pada si B, tidak murni karena ingin berbakti. Akan tetapi, karena si B bakal memberikan umpan balik keuntungan bagi si A. Jika begitu, lalu bagaimana dengan si C yang katakanlah terlahir tanpa ada yang bisa ditawarkan? Haruskah ia ditelantarkan lalu mati dalam kesendirian, hanya karena belum terungkap apa kelebihannya? Apa manusia hanya diukur berdasarkan fungsi bagi yang lain atau lebih dalam lagi, yakni utuh sebagai manusia? Jika kita meyakini manusia itu setara, maka kesetaraan itu takkan terwujud, selama masih menobatkan fungsi bagi yang lain sebagai prioritas satu-satunya, apalagi fungsi bagi kepentingan mayoritas. Manusia dihargai, lantaran dia adalah manusia. Kalau status sebagai manusia yang menjadi kriteria utama, maka bagaimana menerapkan dialektika dalam membaca perbedaan dan hasrat akan kekuasaan?

Berpikir dialektis berarti jangan sampai persamaan membuat kita takut untuk beda. Pun juga, jangan sampai perbedaan membuat kita enggan untuk sama. Berpikir dialektis berarti siap berbeda, bahkan bertentangan dalam rangka mencari persamaan yang merata, bukan sama menurut rata-rata. Berpikir dialektis berarti sadar bahwa untuk mencapai persamaan yang merata, harus terlebih dahulu ada perbedaan sedemikian tajamnya. Berpikir dialektis berarti memberi akses bersuara yang sama bagi yang berkuasa dan bagi rakyat jelata. Berpikir dialektis berarti menjadikan pertentangan sebagai bahan bakar menuju persamaan, bukan untuk memperparah api dendam. Berpikir dialektis adalah berbeda untuk sama sekaligus sama untuk berbeda. Demikian. Wallahu A’lam.

 

Aldi Hidayat, Santri Kutub Yogyakarta

ejogja

Pusat Info Pendidikan

One thought on “Pendidikan Madilog Episode Dua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

009147