Penampilan Bukan Segalanya, Tapi Nyaris

Seputar Pendidikan #9

Aldi Hidayat

Mengapa terjadi pelecehan seksual? Apa itu ditengarai oleh penampilan? Demikian pertanyaan yang terselip di bagian akhir esai sebelumnya. Penampilan sepertinya bukan merupakan faktor satu-satunya, namun tidak bisa dipungkiri, ia merupakan salah satu faktor dominan. Dilansir dari Kompas, tertanggal 2 April 2021, ada 8 negara dengan kasus pemerkosaan tertinggi di dunia. Pertama, Afrika Selatan menorehkan 66.196 kasus per 100.000 orang penduduk. Kedua, Bangladesh mencatatkan 11.682 kasus pemerkosaan per 100.000 jiwa. Ketiga, India mencatatkan 22.172 kasus per 100.000. Keempat, Pakistan mengalami kenaikan kasus pelecehan anak dari sebelumnya 3.445 kasus menjadi 3.832 kasus. Kelima, Tionghoa atau Cina dengan 40 persen wanita di sana pernah mengalami kekerasan seksual. Keenam, Jepang mengabadikan 1.289 kasus per 100.000 warganya. Ketujuh, Amerika Serikat menampilkan 734.630 kasus pemerkosaan di mana 70 persen pelaku dikenal oleh korban alias keduanya sebelumnya pernah saling kenal. Kedelapan, Rusia mencetak 3,2 ribu pemerkosaan dan percobaan pemerkosaan.

Jangan Lewatkan Baca Juga: Make Up Kecantikan vs Make Up Kepribadian

Data di atas menunjukkan dua kata kunci pelecehan seksual, yaitu negara berkembang dan negara maju. Pertanyaannya, mengapa pelecehan banyak terjadi di negara berkembang? Sebelum menjawabnya, penting diketahui dulu apa itu negara berkembang. Secara umum, negara berkembang ditandai oleh rendahnya dua sektor, yakni pendidikan dan penghasilan. Dua sektor ini saling berkaitan. Rendahnya pendidikan memicu rendahnya penghasilan. Rendahnya penghasilan memicu rendahnya pendidikan. Memang ini tidak bisa dipukul rata, namun ini bisa dijadikan acuan rata-rata. Apa yang akan terjadi tatkala dua sektor ini rendah? Kejahatan akan mudah terjadi. Mengapa? Karena rendahnya pendidikan membuat seseorang krisis intelektual, emosional dan mental dalam menyikapi kehidupan.

Akhirnya, dia tidak bisa berpikir panjang guna mencari alternatif saat dihadapkan pada kesempatan berbuat kejahatan. Di sisi lain, rendahnya penghasilan akan mengaburkan dan membutakan seseorang akan perbedaan antara memenuhi kebutuhan dan bertindak kejahatan. Orang dengan penghasilan rendah akan menghadapi situasi dilema; antara bertahan dalam sekarat atau merampas hak orang demi kehidupan yang lebih layak. Seringkali manusia akan menjatuhkan pilihan pada yang kedua, yakni tidak peduli nasib orang lain. Yang penting kebutuhan diri ini tercukupi.

Cek Info Seminar dan Webinar Pendidikan Daerah Yogyakarta

Meski begitu, mengapa empat negara maju ini bisa mendaftarkan diri dalam list kelam tadi? Bukankah keempatnya adalah negara adidaya? Jepang adalah adidaya teknologi, Amerika adalah adidaya politik dunia, Cina adalah adidaya ekonomi dan Rusia adalah adidaya militer. Bukankah negara maju, apalagi empat negara ini, tentu menorehkan kualitas tinggi dalam hal pendidikan dan kuantitas mencukupi dalam hal penghasilan? Mengapa masih saja pelecehan, bahkan pemerkosaan di negara ini begitu tinggi? Apakah ada satu hal yang selama ini diabaikan, padahal itu adalah bumerang? Tentu saja ada. Apa itu gerangan? Itu tidak lain kecuali penampilan dan tindakan perempuan. Seksualitas di empat negara maju ini cukup liar. Kalau sudah liar, mengapa masih ada pelecehan? Tidakkah liar berarti seksualitas disemarakkan atas dasar suka sama suka, bukan karena ada yang menekan dan memaksa? Justru di sinilah titik masalahnya.

Pembebasan perempuan masih tumpang tindih dengan peliaran perempuan. Perempuan bebas berpenampilan seenaknya tanpa disadari bahwa yang dibutuhkan perempuan adalah kasih sayang, bukan dijadikan mangsa seksual. Status sebagai mangsa seksual semakin menancapkan cengkeraman, manakala perempuan digiring secara berjamaah untuk memperlombakan kecantikan. Dalam satu tarikan nafas dengan ini, Soe Hok Gie berkata, “Perempuan akan tetap di bawah laki-laki, jika yang dipikirkan masih pakaian dan kecantikan.”

Jangan Lewatkan Baca Juga: Cinta yang Irasional

Secara fisik, perempuan sudah kalah sama lelaki. Artinya, potensi fisik kurang menjamin mereka untuk melindungi, kecuali dalam sebagian kasus menguasai bela diri. Akan tetapi, rata-rata perempuan bukan ahli bela diri, malah lebih suka berdandan dan memperindah badan. Jika demikian, lalu apa yang bisa diakses perempuan guna meminimalisir pelecehan pada khususnya dan monopoli lelaki pada umumnya. Tentu tidak lain dan tidak bukan selain berlomba-lomba mempercantik kecerdasan dan kepribadian sambil lalu mengesampingkan kontestasi kecantikan. Bukan berarti industri make up harus dibubarkan. Akan tetapi, perempuan harus tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga mengisi lini-lini publik secara kritis. Jadi, masih seirama dengan esai-esai sebelumnya, tujuan pendidikan bagi perempuan ialah menciptakan keseimbangan tatanan kehidupan antara mereka dan kaum Adam.

Jangan Lewatkan Ikuti: Info Lomba Terlengkap

Lalu apa yang terjadi tatkala perempuan digiring untuk memperlombakan kecerdasan dan kepribadian? Mereka secara perlahan akan berpenampilan anggun dan wibawa, bukan merayu dan menggoda. Itu karena penampilan menggoda akan mengundang predator seksual, sedangkan yang mereka butuhkan bukan menjadi mangsa seksual, namun menjadi objek cinta dan kasih sayang. Ketika sudah terancam secara seksual, maka psikisnya akan guncang, sehingga menjadi kekurangan konsentrasi pada yang namanya kecerdasan dan kepribadian. Tak heran, susah ditemukan perempuan berpendidikan berpenampilan menggoda, namun malah sebaliknya, anggun dan wibawa.

Memang, penampilan bukan satu-satunya faktor pelecehan. Akan tetapi, tidakkah kekompakan perempuan untuk berpenampilan wibawa tinimbang menggoda akan sangat membantu meminimalisir pelecehan itu sendiri? Mengapa Indonesia yang tidak apa-apanya dibanding empat negara maju tadi tidak masuk dalam daftar negara dengan tingkat pemerkosaan tertinggi? Itu karena Indonesia masih cukup kuat memegang kombinasi agama dan kearifan lokal dalam menjalani hidup yang hedonis ini. Patriarki, rendahnya pendidikan dan rendahnya penghasilan adalah penyebab utama pelecehan. Di samping perlu bantuan dari lelaki, perempuan juga harus berbenah diri. Kecerdasan dan kepribadian akan merobohkan tiga penyebab tadi. Dengan begitu, kesetaraan dan kasih sayang akan berada dalam genggaman. Waktu masih panjang, tapi harus dimulai dari sekarang. Demikian: penampilan bukan segalanya, tapi nyaris. Wallahu A’lam.

 

Aldi Hidayat, Santri Kutub Yogyakarta

ejogja

Pusat Info Pendidikan

One thought on “Penampilan Bukan Segalanya, Tapi Nyaris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

006286