Emansipasi yang Masih Ilusi

Seputar Pendidikan #6

Aldi Hidayat

Pendidikan Islam selama ini cenderung memposisikan perempuan sebagai pelaku domestik, dengan jargonnya; sumur, kasur dan dapur. Sementara itu, zaman kian menantang, sehingga tidak cukup lelaki saja yang berperan. Tanpa keseimbangan peran antara lelaki dan perempuan, baik pada wilayah domestik maupun pada wilayah publik, maka akan terjadi ketimpangan. Yang satu mengendalikan, yang lain terkucilkan. Yang satu mendulang keuntungan, yang lainnya menjadi korban.

Salah satu isu terkini relasi lelaki-perempuan ialah emansipasi; kedua belah pihak harus setara. Tentu saja, kesetaraan takkan tercapai, kalau keduanya tidak sama-sama matang, entah secara intelektual atau secara mental. Keseimbangan itu hanya bisa dicapai melalui pendidikan. Karenanya, apabila pendidikan masih patriarki (lelaki masih dianggap superior dari perempuan), maka kesetaraan mustahil diwujudkan. Sayangnya, meskipun emansipasi ini sudah menggaung sedemikian kerasnya, penindasan terhadap perempuan masih ada. Bagaimana itu? Penulis akan mengulasnya sebagai berikut. 

Cek Info: Kursus Daerah Jogja

Jika ditanya, “Siapa yang paling rugi sepanjang sejarah?”, jawabannya tentu perempuan. Nun jauh sebelum kedatangan Islam, perempuan diposisikan layaknya barang. Parahnya lagi, ada yang menganggap perempuan sebagai tentara setan. Karena itu, mereka diharuskan memakai jimat penangkal bahaya dirinya supaya tidak menyentuh lelaki. Jimat itu dipakai di tangan, leher, jari-jemari, telinga dan kaki. Jimat itu tetap lestari hingga sekarang, namun sudah berubah status dari predikat sebagai jimat kepada predikat sebagai aksesoris.

Bagaimana dengan sekarang? Memang gerakan feminis cukup menyebar dan mendulang perhatian, bahkan cukup sukses pada beberapa agendanya. Kendati demikian, masih ada satu krisis akut yang menjangkiti feminisme itu sendiri. Selama ini, feminisme mencita-citakan pembebasan perempuan dari jaring-jaring tradisi dan budaya yang mengekang. Cita-cita ini luhur, mengingat perempuan juga memiliki potensi yang tak kalah berharga tinimbang lelaki. Dengan begini, kehidupan bisa lebih berwarna dan tentunya lebih baik, karena masing-masing pihak berhak mengekspresikan dirinya.

Hanya saja, pembebasan perempuan diam-diam menggiring mereka secara berjamaah pada kontestasi keindahan tubuh. Industri make up berlomba-lomba menjajakan alat dan bahan kosmetik guna mempercantik perempuan. Perempuan yang secara kodrati butuh perhatian, tidak bisa menolak promosi-promosi manis itu. Di pihak lain, lelaki cenderung memprioritaskan perempuan cantik dibanding perempuan pintar. Dua faktor ini (butuh perhatian dan prioritas paras oleh lelaki) menyeret perempuan pada perlombaan memperindah badan. Akibatnya, perempuan lebih suka dinilai cantik daripada dinilai pintar. Terbukti, cukup sulit menemukan konten-konten di media sosial di mana perempuan mengekspresikan pengetahuan dan wawasannya. Kebanyakan suka memamerkan keindahan dan kemolekan badan. Meskipun ada beberapa yang berbagi pengetahuan, namun perempuan dimaksud pasti tidak akan lepas dari berpenampilan eksotis. Hanya saja, seberapa banyak perempuan yang berbagi pengetahuan dibanding perempuan yang menjajakan keindahan? Tanpa bermaksud menafikan, jarang ditemukan cendekiawan dari kalangan perempuan.

Cari Lowongan Kerja Daerah Yogyakarta? Ini Info Lengkap Loker Jogja

Dalam hal ini, muncul pertanyaan dalam benak penulis, “Apakah kontestasi keindahan yang dipertontonkan perempuan adalah dorongan watak butuh perhatian atau dorongan budaya hedonis kekinian?” Jika dijawab dorongan butuh perhatian, pertanyaan berikutnya, “Bukankah perhatian tidak harus didapat melalui kecantikan?” Seandainya lelaki bersepakat menganggap perempuan cantik adalah yang berpenampilan sederhana, natural dan paras tidak harus rupawan, tetapi berbakat dan punya jiwa pengabdian, maka tentu perempuan akan berlomba-lomba mempercantik kepribadian daripada mempercantik badan.

Dengan demikian, faktor yang dominan atas kontestasi kecantikan perempuan bukan wataknya yang butuh perhatian, melainkan karena budaya masa kini menomorsatukan kecantikan ketimbang kepribadian. Apalagi Elizabeth B. Hurlock, psikolog perempuan menuturkan bahwa kaum hawa lebih mudah ikut trend dibanding kaum adam. Trend masa kini ialah materialis-hedonis, yakni menjadikan materi sebagai target utama lalu menghabiskannya untuk bersenang-senang dan foya-foya.

Lebih lanjut, trend tersebut membuat perempuan lebih bangga menjadi cantik ketimbang pintar dan salehah. Kalaupun salehah seringkali dikumandangkan supaya perempuan tidak larut memodifikasi badan, lelaki diam-diam tetap menomorsatukan kecantikan. Guna mengetesnya, coba ajukan pertanyaan pada kaum adam, “Pilih mana antara perempuan cantik, tapi nakal atau perempuan jelek, tapi salehah?” Penulis tidak bisa memastikan apa jawaban mayoritas lelaki, tetapi penulis hendak menerka bahwa kebanyakan mereka akan menjawab, “Perempuan cantik, tapi nakal.” Alasannya, nakal masih bisa dididik dan didoakan, tapi jelek nyaris tidak bisa diubah, walaupun dengan kosmetik dari kahyangan.

Jangan Lewatkan Baca Juga cerpen Ciamik: Kristal Kehidupan

Menghadapi hal di atas, penulis sangat prihatin melihat perempuan yang kesusahan cari pekerjaan, bahkan cari pasangan, hanya karena alasan yang sederhana, yakni karena parasnya di bawah rata-rata. Sebaliknya, perempuan yang berparas menawan tidak hanya mudah dapat pekerjaan, tetapi mudah dapat, bahkan gonta-ganti pasangan. Atas dasar ini, perempuan sungguh sangat teraniaya, karena persaingan mereka tertuju pada ranah yang tak bisa diusahakan, tetapi semata bonus dari Tuhan, yaitu kecantikan.

Eka Kurniawan bilang, “Cantik itu luka”. Bagi penulis, jelek itu lebih menyayat jiwa. Pasalnya, perempuan cantik masih bisa menerima perhatian, meskipun kadang dikecewakan. Akan tetapi, perempuan jelek–mohon maaf–nyaris tidak bisa diperhatikan. Yang ada malah selalu dikecewakan. Tulisan ini tidak untuk memojokkan perempuan, tetapi sebagai aspirasi bahwa feminisme sebenarnya masih gagal, karena selama ini perempuan masih digiring untuk mempertontonkan kecantikan, sesuatu yang tidak bisa diusahakan, tetapi bonus kebetulan dari Tuhan.

Menurut penulis, tugas utama feminisme yang barangkali terlupakan bukan bagaimana membangun kesetaraan antara lelaki dan perempuan, tetapi bagaimana menyetarakan antara perempuan berparas jelita dan perempuan berparas di bawah rata-rata. Pasalnya, selama ini, harga diri perempuan ditentukan oleh kecantikannya, bukan oleh kepribadian dan prestasinya. Gampangnya, mana lebih sejahtera dan lebih dihargai antara perempuan cantik yang biasa saja dan perempuan jelek yang punya bakat istimewa? Kebutuhan utama perempuan bukan mendapatkan pekerjaan mapan, tetapi keibuan. Keibuan tidak akan sempurna tersalurkan, jika perempuan tidak memiliki pasangan. Nyatanya, perempuan yang berbakat istimewa, namun tidak pada parasnya kesulitan mendapatkan pasangan dan perhatian, sehingga ia tidak bisa memenuhi dua kebutuhan utamanya sekaligus, yakni perhatian dan keibuan.  Masih banyak kegelisahan terkait perempuan. Penulis cukupkan di sini. Kita lanjutkan di episode nanti. Demikian. Wallahu A’lam

 

Aldi Hidayat, Santri Kutub Yogyakarta

ejogja

Pusat Info Pendidikan

2 komentar pada “Emansipasi yang Masih Ilusi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

009147