Dampak Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi

(Analisis Teori Konstruktivisme)

Durrotul Iqomatin Ni’mah, Khusnun Failatun Najah dan Muhammad Nur Aziz Saputra

Merebaknya Pandemi Covid-19 di seluruh dunia telah mengubah tatanan pendidikan, termasuk di Indonesia. Di sektor pendidikan, pemerintah menerapkan kebijakan pelaksanaan pendidikan di rumah dengan sistem daring (dalam jaringan). Namun dalam pelaksanaannya, pembelajaran daring masih membutuhkan penyesuaian dari semua pihak pendidikan. Sekolah yang tidak terbiasa belajar jarak jauh mengalami banyak kesulitan sebagai dampak pembelajaran daring pada masa pandemi, di antaranya: minimnya partisipasi peserta didik dengan guru, kurangnya pengetahuan dalam pengoperasian aplikasi daring, dan orangtua susah mengimbangi materi pelajaran sekolah.

Untuk menganalisis problematika pendidikan di atas, maka peneliti menggunakan pisau analisis kontruktivisme pendidikan guna mencari titik terang keaktifan dan kreativitas saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung. Teori kontruktivisme merupakan teori yang sifatnya membangun dari segi kemampuan dan pemahaman dalam proses pembelajaran. Dengan keunggulan teori ini, maka diharapkan bisa lebih mudah menemukan watak cerdas dan potensi siswa yang terpendam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan dampak pembelajaran daring di SMAN di Kabupaten Bantul di tengah ganasnya penyebaran Covid-19.

Latar Dampak Pembelajaran Daring

Ganasnya wabah virus corona yang merebak di dunia termasuk Indonesia memberikan dampak besar pada banyak sektor, baik dari segi perekonomian, industri, maupun pendidikan. Semua hal yang melibatkan kegiatan berkelompok banyak dihentikan sementara, untuk mencegah potensi penyebaran virus corona. Sejak sebulan dari dilaporkannya kasus pertama pasien virus corona di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020, tertulis telah ada 1.528 pasien positif virus corona (Kompas.com, 31/30/2020). Cepatnya penularan virus corona menjadikan pemerintah membuat beberapa kebijakan baru yaitu, gerakan social distancing, pembelajaran jarak jauh dengan sistem daring (dalam jaringan), dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Salah satu sektor penting yang terdampak pandemi Covid-19 adalah sektor pendidikan. Kebijakan pelaksanaan pendidikan jarak jauh dengan sistem daring oleh tatanan pendidikan di Indonesia merupakan salah satu upaya untuk menanggapi pandemi Covid-19 (Wijoyo, dkk, 2021: 17).

Pandemi Covid-19 mengharuskan perubah tatanan atau sistem pendidikan yang lebih efektif agar tersampai tujuan dan maksud pendidikan. Untuk itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengeluarkan Surat Edaran Mendikbud RI Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Corona Virus Disease (Covid-19) pada Satuan Pendidikan. Mendikbud juga menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Corona Virus Disease (Covid-19). Salah satu inti dalam edaran ini adalah keputusan pembatalan Ujian Nasional tahun 2020. Ujian Sekolah tetap dilaksanakan dengan mekanisme tes yang diselenggarakan tidak dengan tatap muka, kecuali sekolah yang menyelenggarakan sebelum terbitnya surat edaran ini. Ujian Sekolah tetap dilakukan dalam bentuk nilai rapor dan prestasi yang diperoleh sebelumnya, tes daring, penugasan, atau penilaian jarak jauh lainnya. Kegiatan pembelajaran di sekolah lainnya juga dihentikan sementara dan digantikan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Sejak tanggal 16 Maret 2020 seluruh peserta didik diharuskan Belajar Dari Rumah (BDR).

Jangan Lewatkan Ambil: Satu Paket Beasiswa Internasional, Bisa Kuliah di 3 Negara

UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menyebutkan, bahwa pandemi Covid-19 mengancam 577.305.660 pelajar dari pendidikan prasekolah dasar hingga menengah atas dan 86.034.287 pelajar dari pendidikan tinggi di seluruh dunia (Kedaulatan Rakyat, 3/07/2020). Dampak pembelajaran daring di masa pandemi luar biasa. Terkait dengan kondisi dan tatanan pendidikan di Indonesia, penerapan pembelajaran daring memerlukan banyak hal yang harus dipersiapkan. Sekolah yang tidak terbiasa dengan pembelajaran jarak jauh secara daring tentu menimbulkan dampak yang cukup serius. Hal ini disebabkan karena terbatasnya jarak antara guru dan siswa akibat dari meluasnya penyebaran covid-19. Pelaksanan pembelajaran jarak jauh menimbulkan beberapa kendala, di antaranya masih terfokusnya pendidikan dalam penuntasan kurikulum dan kesulitannya guru dalam mengelola pembelajaran jarak jauh. Orang tua di rumah pun tidak semuanya mampu mendampingi dan mengawasi anak-anaknya belajar dengan optimal.

Penerapan pembelajaran jarak jauh di masa pandemi menuntut pendidik untuk dapat memilah media, materi, dan teknik, sehingga materi yang disampaikan mudah dimengerti dan mudah dipahami oleh peserta didik. Pendidik juga harus mengikuti perkembangan teknologi sehingga bisa memanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran daring. Variasi dalam penyampaian materi kepada peserta didik akan menjadi daya tarik tersendiri dalam pembelajaran. Penerapan pembelajaran daring di masa pandemi menimbulkan efek yang membutuhkan peningkatkan keaktifan belajar siswa. Pemerintah juga menyediakan platform pembelajaran online yang siap diakses oleh siswa untuk membantu siswa saat mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Pembelajaran daring sendiri menuntut guru untuk semakin kreatif dan inovatif dalam menggunakan media pembelajaran. Namun, pembelajaran daring yang sudah berlangsung cukup lama telah menjadikan sebagian besar peserta didik jenuh. Peserta didik tidak semua aktif dalam mengikuti pembelajaran daring dan tidak semua mengerjakan tugas sesuai dengan waktu yang ditentukan. Ketika kondisi mental siswa tidak siap ditambah dengan pola pembelajaran yang tidak seperti biasanya akan menjadi beban bertumpuk bagi siswa.

Jangan Lewatkan Ikuti: Lomba-lomba Nasional

Hasil survey UNICEF (United Nations International Childern’s Emergency Fund), sebuah lembaga perlindungan anak international menyebutkan bahwa sebanyak 66% dari 60 juta siswa di berbagai jenjang pendidikan di 34 Propinsi mengaku tidak nyaman belajar dari rumah selama melakukan pembelajaran daring. Dari jumlah itu sebanyak 87% siswa berharap segera kembali belajar di sekolah. Sebanyak 88% siap mengenakan masker di sekolah dan sebanyak 90% menyatakan pentingnya menjaga jarak fisik jika belajar di sekolah yang bersedia mentaati protokol kesehatan (Kompas.com, 24/06/2020). Dunia pendidikan saat ini tetap bisa menjalankan fungsinya dengan segala keterbatasan yang ada. Pembalajaran daring mengikuti kemajuan teknologi, sehingga pengembangan infrasruktur sangat diperlukan

Pelaksanaan pembelajaran daring memerlukan perbaikan infstruktur untuk memperbaiki dan membenahi dunia pendidikan. Maka, dari dampak pembelajaran daring diperlukan teori konstruktivisme dalam pembelajaran untuk mengedepankan pengetahuan pada siswa. Pemilihan pendekatan dengan teori ini pada pembelajaran daring, untuk membuat peserta didik antusias terhadap permasalahan yang ada, sehingga peserta didik mau mencoba memecahkan permasalahan. Teori konstruktivisme menganggap peserta didik sebagai subjek pendidikan. Peserta didik  akan aktif dalam mengembangkan kemampuan diri dalam memahami apa yang dilihat dan dipelajari sebelumnya yang didapatkan dari pengetahuannya sendiri serta dari berbagai pengalamannya. Keaktifan peserta didik sangat diperlukan di masa pandemi dalam menangani kegiatan pembelajaran menuju tahap normal.

Fokus Bahasan

Berdasarkan dari latar belakang dampak pembelajaran daring di atas, peneliti merumuskan permasalahan pada tiga poin utama. Pertama, proses pembelajaran daring di masa pandemic. Kedau, Dampak dari pembelajaran daring di masa pandemi. Ketiga, proses pembelajaran daring dalam prespektif konstruktivisme.

Kerangka Konseptual Pembelajaran Daring

Pembelajaran jarak jauh secara daring adalah pembelajaran yang memanfaatkan jaringan internet sebagai fasilitas interaksi, metode penyampaian, serta didukung oleh berbagai layanan belajar lainnya (Nurdyansyah, 2016; 119). Penggunaan media pada pembelajaran ini, sangat menentukan hasil belajar. Penerapan pembelajaran daring ini menjadikan pendidik mencari kecocokan metode pembelajaran yang akan digunakan. Pembelajaran sistem daring ini juga menuntut kegiatan belajar tanpa mengurangi kualitas materi dan target pencapaian belajar peserta didik. Agar mudah diterima dan dipahami oleh peserta didik, pendidik harus menyampaikan materi dengan baik meskipun tidak bertatap muka secara langsung. Karena ketidaksiapan pihak-pihak yang bersangkutan dalam elemen pendidikan akan menjadi faktor masalah utama dan hambatan dalam menerapkan pembelajaran daring.

Pengajaran yang diterapkan secara daring ditandai dengan bagaimana pemikiran dalam mendesain pendidikan yang interaktif, responsif dan peluang mendistribusikan informasi valid kepada peserta didik dan bagaimana pengajaran itu diselenggarakan dalam waktu, tempat, yang sesuai dan menyenangkan (Nurdyansyah, 2016: 120).  Pembelajaran daring mengharuskan semua yang terlibat dalam pembelajaran untuk bisa mengusai teknologi, dan dituntut untuk aktif, baik guru, siswa maupun orang tua. Orang tua diharuskan mendampingi belajar dan meluangkan waktu lebih banyak dengan peserta didik. Orang tua perlu melakukan pengawasan terhadap anaknya untuk menghindari hal-hal yang tidak baik pada penggunaan teknologi. Jalinan komunikasi sangat dibutuhkan antara guru, siswa, orang tua untuk selalu sejalan membimbing dalam kegiatan belajar siswa di rumah.

Jangan Lewatkan Baca Juga: Vaksinasi Massal Anak Usia 6-11 Tahun di Kulon Progo

Media pembelajaran daring diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Pemilihan media pembelajaran teknologi berbasis internet dipertimbangkan dalam pembelajaran secara daring untuk menghindari ketidaktepatan yang akan berdampak negatif pada tujuan dan manfaat belajar. Pendidik harus dapat memahami faktor dan prinsip yang dapat mempengaruhi efektivitas teknologi di dalam proses pembelajaran daring. Pembelajaran jarak jauh menggunakan platform antara lain, WhatsApp group, aplikasi zoom, google meet, google classroom, edlink, TVRI, portal belajar Kemendikbud Rumah Belajar yang dapat diakses secara gratis, dan lain sebagainya (Wijoyo, 2021: 23).

Menurut pakar Kebijakan Publik UGM Agustinus Subarsono, di Yogyakarta berdasarkan survei terhadap 1.304 responden melalui media survei Google from sejak tanggal 25 Juni sampai dengan 1 Juli 2020, kendala yang dihadapi pembelajaran jarak jauh secara daring antara lain:

  1. Jaringan internet yang tidak lancar. Hal ini dikeluhkan oleh guru, siswa, maupun orang tua yang merupakan pengguna utama jaringan internet dalam pembelajaran jarak jauh.
  2. Keterbatasan pembiayaan untuk mengakses internet.
  3. Kesulitan orang tua mendampingi anak saat belajar di rumah, karena terbatasnya waktu yang dimiliki.
  4. Ada beberapa guru yang tidak terbiasa dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga memiliki kendala dalam memanfaatkan fasilitas pembelajaran jarak jauh.
  5. Banyak siswa yang merasa materi atau bahan ajar dan kegiatan pembelajaran daring lebih sukar dari pada pembelajaran seperti biasanya.
  6. Banyak siswa merasa bosan dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan sistem daring dan lebih senang melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Pisau Analisi

Dalam penerapan pembelajaran ini, diperlukan langkah-langkah strategis dan inovatif yang berkaitan pelaksanaan pembelajaran di masa pandemi. Untuk meminimalisir siswa dalam mengalami kemalasan belajar perlunya penggunaan teori kontruktivisme yang sejalan dengan keadaan di Indonesia yang sedang kebingungan dalam masa pandemi khususnya dalam menerapkan tatanan praktis pembelajaran. Ditinjau dari ilmu filsafat pendidikan, kontruktivisme adalah upaya untuk membangun susunan hidup yang berbudaya modern (Cahyo, 2013:33). Dari keterangan tersebut, teori kontruktivisme merupakan teori yang sifatnya membangun dari segi pemahaman dan kemampuan dalam proses pembelajaran. Karena dengan mempunyai sifat membangun diharapkan keaktifan siswa dapat meningkatkan kecerdasannya.

Pencetus teori kontruktuvisme adalah Lev Semenovich Vygotsky  adalah tokoh cedekia asal Rusia, yang ahli dalam bidang sastra, filsafat, dan psikologi. Vygotsky memandang manusia berbeda dengan hewan yang hanya berinteraksi dengan alam. Manusia dapat mengubah keadaan sekitarnya sesuai dengan keperluannya (Schunk, 2012:338). Vygotsky juga mengemukakan pentingnya faktor sosial dalam belajar. Selama kegiatan belajar saling berkaitan dan saling berpengaruh satu sama lain antara tindakan sosial dan bahasa sehingga dapat berkombinasi dalam interaksi sosial (Dian, 2021: 4).

Baca Juga: Loker Tendik Al Fattah Pereng Prambanan Sleman Yogyakarta

Menurut Von Glasersfed, bahwa kontruktivisme sebagai “teori pengetahuan akar dalam filosofi, psikologi, dan cybernetics”,  dan menurut bebera para ahli lain seperti Karli menyatakan teori konstruktivisme merupakan salah satu pandangan tentang pembelajaran yang diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif hanya dapat diatasi melalui akhir proses belajar dan pengetahuan diri, kemudian pengetahuan akan dibangun oleh anak melalui pengalaman dari hasil interaksi dengan lingkungan dan sekitarnya (Von Glasersfeld, 1987: 204). Teori kontruktivisme menekankan, (1) pembelajar aktif dengan mengontruksikan pengetahuannya, (2) interaksi sosial, kontruktivisme mempunyai dua ide utama yaitu: pendidik aktif dalam mengotruksikan pengetahuannya, dan mengonstruk bahwa interaksi sosial juga penting.

Kontruktivisme sebagai strategi dan pendekatan pembelajaran yang sangat berpengaruh di bidang pendidikan, juga menciptakan beragam metode dan strategi pembelajaran baru. Kontruktivisme berakar pada asumsi bahwa pengetahuan itu didapat berdasarkan pegalamannya sendiri yang bersifat objektif. Menurut pandangan Kontruktivisme kebenaran itu sangat relatif. Berbagai pendekatan kontruktivisme di bidang pendidikan yang berkaitan dengan permasalahan kurang siapnya tatanan pendidikan dalam menghadapi pandemi maka teori pendekatan ini digunakan sebagai solusi untuk bisa mengembangkan tatanan pendidikan agar lebih kondusif lagi.

1.1 Prinsip-Prinsip Kontruktivisme

Teori kontruktivisme memiliki prinsip-prinsip yang bisa menjadi acuan dalam penerapannya. Prinsip-prinsipnya yaitu pertama, Belajar merupakan sebuah proses aktif mengkontruksikan belajarnya dari berbagi sumber yang diterimanya. Pendidik dan siswa perlu bersikap aktif untuk dapat belajar secara efektif. Cara seperti ini, melatih siswa untuk mendapatkan yang benar tanpa benar-benar memahami konsepnya. Kedua, peserta didik bisa menyelesaikan berbagai permasalahan dengan berbagai konsep dan ide melalui pengalaman.

Ketiga, kontruktivisme belajar merupakan pencarian makna. Siswa  juga secara aktif harus berusaha mengkontruksikan makna. Dengan demikian, guru lebih mudah mengkontruksikan berbagai kegiatan belajar eksplorasi dan seputar ide-ide yang mendukung pembelajaran. Keempat, kontruksi pengetahuan secara sosial melalui interaksi lingkungan sekitar. Kelima, elemen yang berdasarkan fakta pembelajaran secara kolektif dan individual mengontruksikan agar pembelajaran bisa efektif.  Pendidik harus mempunyai pengetahuan tentang teori belajar dan perkembangan anak, agar lebih akurat dalam menilai peserta didik. Keenam, belajar secara mendalam dengan mengontruksikan pengetahuan secara menyeluruh dan mengulas kembali pelajaran yang sudah dipelajari. Ketujuh, mengajar sebagai pemberdayaan pembelajaran agar bisa menemukan refleksi dari pengalaman-pengalaman realistis untuk menghasilkan pemahaman yang lebih dalam (Supardan, 2016:4).

1.2 Asumsi-Asumsi Teori kontruktivisme 

Teori kontruktivisme mempunyai asumsi hampir sama dengan teori kognitif sosial. Hal ini mengarahkan bahwa orang, perilaku, dan lingkungan berinteraksi secara timbal balik. Asumsi teori ini yang pertama adalah siswa aktif merupakan manusia yang dapat mengembangkan pengetahuan sendiri. Siswa dapat lebih leluasa dalam mengembangkan ilmu yang sudah didapatkan, baik dengan eksperimen, latihan, maupun berdiskusi dengan siswa lainya. Dengan demikian, ilmu-ilmu yang mereka peroleh akan semakin bertambah dan berkembang.

Asumsi kedua, guru tidak mengajar dalam arti penyampaian materi pelajarannya dilakukan dengan cara tradisional kepada siswa. Guru sebaiknya membangun suasana yang sedemikian rupa agar siswa juga terlibat secara aktif pada pembelajaran melalui pengolahan materi dan interaksi sosial (Schunk, 2012: 324). Seseorang pendidik diharuskan untuk lebih menarik dan aktif dalam menjelaskan, dan pendidik harus menerapakan media di dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya menerapkan metode lama, seperti ceramah, dan mencatat, tetapi juga mengajar dengan cara yang dapat membuat siswa aktif dan masuk pada proses pembelajaran tersebut.

Kelebihan teori konstruktivisme

Kelebihan teori kontruktivisme yaitu pertama, pendidik bukan hanya satu-satunya menjadi sumber belajar. Pendidik disini sebagai pemberi ilmu dalam proses pembelajaran. Pada proses pembelajaran dari segi latihan, bertanya, praktik, siswa dituntut lebih aktif. Kedua, siswa lebih kreatif dan aktif. Siswa dituntut untuk dapat memahami pembelajaran baik didapat di dalam dan di luar sekolah untuk dapat mengaitkan pengetahuan siswa dengan baik dan benar. Ketiga, pembelajaran menjadi lebih bermakna (Cahyo, 2013: 69). Artinya siswa tidak hanya mendengarkan penyampaian materi dari guru, tetapi juga diharuskan dapat mengaitkan pengalaman pribadinya dengan informasi yang  didapatkan.

Dasar dari kontruktivisme adalah suatu pandangan yang disandarkan pada aktivitas siswa untuk menginterpretasikan pengetahuan dengan secara individual. Piaget mengatakan bahwa dari teori kontruktivisme itu melihat kondisi lingkungan sosial sebagai sistem perkembangan dalam menganalisis masalah yang sedang dihadapi. Para pendidik bisa mengambil solusi alternatif menghadapi masalah pembelajaran yang kurang kondusif dengan menerapkan teori kontruktivisme. Pendidik dapat mengambil prinsip pertama yang mana belajar merupakan sebuah proses aktif mengkontruksikan belajar dari berbagai sumber. Faktor yang penting adalah bagaimana respon siswa terhadap apa yang disampaikan oleh guru. Di sisi lain, tingkat semangat belajar dan keaktifan peserta didik juga akan memicu efektif atau tidaknya penerapan pembelajaran daring. Untuk itu sangat diperlukan teori konstruktivisme dalam penerapan pembelajaran secara daring.

Metode Analisis

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan studi pustaka, yang merupakan kajian teoritis, referensi, dan literatur tentang budaya dan nilai pada situasi sosial. Menjelaskan bahwa penelitian studi pustaka membatasi kegiatannya hanya pada telaah referensi kepustakaan bukan pada riset lapangan. Data penelitian ini adalah data sekunder yang relevan dengan topik pembahasan. Sumber data berasal dari surat kabar, baik cetak maupun online, dari buku, dan artikel hasil penelitian yang sudah dipublikasikan dalam jurnal nasional maupun internasional. Subjek penelitian ini diambil dari guru SMA Negeri di Kabupaten Bantul. Berdasarkan pengumpulan data tersebut maka data diolah, disaring dan dianalisis dengan teori konstruktivisme kemudian diterapkan  pada pembelajaran daring untuk meningkatkan keaktifan, kekreaktifan siswa dan meminimalisir siswa yang malas dalam belajar .

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan dampak pembelajaran daring di SMAN di Kabupaten Bantul di tengah antisipasi penyebaran Covid-19. Hal ini untuk memperoleh gambaran mengenai efek pandemi dalam pendidikan. Dari analisis penerapan  teori konstruktivisme dalam pembelajaran secara daring, maka peneliti menyarankan salah satu model pembelajaran flipped classroom  yang tepat sebagai alternatif pembelajaran di masa pandemi. Flipped classroom merupakan pembelajaran campuran dimana siswa yang belajar di rumah kemudian diperdalam pelajarannya di kelas dengan bimbingan guru. Dari pemahaman siswa kemudian di diskusikan dan di presentasikan di kelas.

Proses Pembelajaran Daring di Masa Pandemi

Pemerintah memberikan arahan khusus untuk memberlakukan pembelajaran jarak jauh. Hasil dari penelitian proses Pembelajaran di SMAN di Kabupaten Bantul di Tengah Antisipasi Penyebaran Covid-19 adalah sebagai berikut:

  • Pada proses pembelajaran yang dilihat dari perencanaan, pelaksaaan, dan penilaian guru memanfaatkan media berbasis teknologi.
  • Hambatan pembelajaran di era pandemi ini yaitu terdapat keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran daring, termasuk jaringan juga pada proses perencanaan dan pelaksanaan guru kekuangan waktu pembelajaran, serta siswa kurang disiplin dan mandiri dalam belajar serta kurangnya semangat pada proses pembelajaran.
  • Strategi guru yaitu dengan mengikuti pelatihan secara mandiri dari sekolah maupun dinas.

Berdasarkan hasil penelitian dari SMAN di Kabupaten Bantul, menunjukkan hasil paling banyak menggunakan Google Classroom untuk merancang aktivitas-aktivitas pembelajaran daring, kemudian membuat grub Whatsapp bersama peran tua dan siswa perkelas, membuat power point, mempersiapkan jadwal Zoom Meeting/ Google Meeting untuk melaksanakan kelas virtual, dan menyiapkan materi berupa rangkuman. Beberapa sekolah juga menggunakan soal-soal berbasis quizz, dan membuat video pembelajaran lalu dikirim di via Youtube. Pada proses pembelajaran daring sebagian besar guru juga membuat grup bersama orang tua siswa dengan tujuan memberikan informasi dari sekolah seperti adanya kegiatan sekolah, pekerjaan rumah siswa yang belum dikumpulkan, pembayaran uang sekolah, dan lain-lain. Dengan adanya komunikasi dengan orang tua, dapat membantu guru dalam memberikan informasi, orang tua siswa akan memperoleh informasi dengan cepat dan akurat.

Para pendidik bisa mengambil solusi alternatif untuk menghadapi masalah pembelajaran yang kurang kondusif di era pandemi ini dengan menerapkan teori kontruktivisme. Pendidik dapat mengambil prinsip pertama yang mana belajar merupakan sebuah proses aktif mengkontruksikan belajar dari berbagai sumber, dengan prinsip ini pendidik dapat membangun metode pembelajaran dengan mengambil dari berbagai sumber yang dapat menjadikan pembelajaran bisa lebih aktif tidak hanya terpaku pada satu sumber yang bisa menyebabkan kejenuhan pada anak didik. Dalam proses pembelajaran di masa pandemi solusi pertama menerapkan pembelajaran secara daring.

Dampak Pembelajaran Daring

Penerapan pembelajaran daring tentunya memberikan dampak yang sangat besar pada bidang pendidikan. Pengertian dampak sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah benturan, pengaruh, yang memunculkan akibat baik positif maupun negatif. Dampak yang muncul saat penerapan pembelajaran daring berkaitan dengan masalah proses dan dampak pembelajaran siswa. Contoh, mahalnya harga kuota internet, susah sinyal, kurangnya pengetahuan dalam pengoperasian aplikasi daring, hingga kurangnya partisipasi dan semangat  siswa ketika pembelajaran daring berlangsung.

Proses pembelajaran daring pada masa pandemi di tingkat SMA Negeri Bantul menuai ketidakoptimalan. Sebagian guru yang berada di posisi pegunungan maupun pelosok terhambat dengan kesulitan sinyal atau jaringan internet. Kemudian terdapat permasalahan pada siswa yang tidak mempunyai smartphone atau HP. Selain itu, ada juga hambatan pada siswa yang tidak paham atau kesulitan dengan penggunaan aplikasi pembelajaran daring, dan banyak siswa yang tidak hadir ketika pembelajaran daring karena terkendalanya hal-hal tersebut.

Dampak pembelajaran daring pada masa pandemi:

  • Guru harus merombak rancangan pembelajaran dan model pembelajaran yang cocok untuk diterapkan secara daring. Beberapa guru kebingungan dikarenakan tidak semua guru mengerti literasi digital dan dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
  • Kebutuhan ekonomi yang meningkat disebabkan oleh meningkatnya keperluan kuota yang membutuhkan biaya besar.
  • Kekurangan siswa pada proses penilaian. Kekurangan yang mendasar bagi para siswa adalah terjadinya penutupan sekolah. Banyak kegiatan ujian sekolah yang dibatakan pada awal pandemi Covid-19.

Sedangkan dampak positifnya, kondisi ini menuntut guru untuk mengikuti perkembangan anak dengan kemajuan teknologi. Guru harus bisa membuat pembelajaran di kelas menyenangkan dan tidak membosankan. Pembelajaran daring menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak pendidikan. Pembelajaran daring pada masa pandemi menuntut guru, siswa, dan orang tua untuk aktif, kreatif, dan inovatif dalam pembelajaran.

Konstruktivisme dalam Pembelajaran Daring

Teori pembelajaran konstruktivisme merupakan srategi terbaru yang bemjelaskan bahawa pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman yang dimiliki.

  • Prinsip Prinsip Konstruktivisme dalam Pembelajaran Daring

Pertama, belajar merupakan sebuah proses aktif mengkontruksikan belajarnya dari berbagi sumber yang diterimanya. Hakikat teori belajar konstruktivisme ini adalah mengembangkan keaktifan siswa dari pengetahuannya yang sudah dimiliki, sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya akan lebih memaknai pembelajaran dengan dihubungkan dari pengalaman lingkungan sehari-hari. Siswa perlu berpikir  aktif dan bisa mengembangkan kemampuannya agar dapat belajar secara efektif. Kemudian siswa dilatih untuk bisa benar-benar memahami konsep pembelajaran. Dalam pembelajaran daring diperlukan siswa yang aktif mengikuti pembelajaran untuk menghindari kebosanan dan kejenuhan siswa.

Kedua, siswa bisa menyelesaikan berbagai konflik dengan ide dan kosep melalui pengalamannya. Penemuan solusi dan cepatnya adaptasi pembelajaran daring dapat mengatasi kendala-kendala yang ada. Ketiga, guru lebih mudah mengkontruksikan berbagai kegiatan belajar seputar ide-ide dan eksplorasi yang mendukung pembelajaran. Hal ini terjadi karena keaktifan siswa di kelas sehingga guru hanya menjadi fasilitator. Kontruksi pengetahuan secara sosial melalui interaksi lingkungan sekitar dengan adanya pandemi Covid-19. Dari meningkatnya interaksi sosial dengan lingkungannya, siswa lebih mengetahui keadaan dan peka terhadap lingkungan.

Keempat, pembelajaran jarak jauh memerlukan pembelajaran secara individual dan kolektif mengontruksikan agar pembelajaran bisa efektif. Pendidik harus memiliki pengetahuan yang luas tentang perkembangan anak. Selain itu Pendidik harus menyesuaikan model pembelajaran yang bisa menyesuaikan dengan perkembangan siswa dan lebih akurat dalam menilai peserta didik. Kelima, perlu memastikan belajar secara mendalam terkait adaptasi kebiasaan baru dalam pembelajaran daring dan memikirkan kelanjutan pembelajaran kedepannya. Keenam, mengajar sebagai pemberdayaan pembelajaran dengan merefleksikan pembelajaran sebelumnya pada penerapan pembelajaran luring. Prinsip ini dapat membangun metode pembelajaran dengan mengambil dari berbagai sumber yang dapat menjadikan pembelajaran bisa lebih aktif tidak hanya terpaku pada satu sumber yang bisa menyebabkan kejenuhan pada anak didik.

  • Asumsi Konstruktivisme dalam Pembelajaran Daring

Asumsi teori konstruktivisme mempunyai anggapan, bahwa pengetahuan lebih kontekstual daripada absolut, bukan hanya satu prespektif. Namun, ia memungkinkan adanya penafsiran jamak. Pemahaman sendiri melalui interaksi dengan orang lain dan lingkungannya bisa jadi pengetahuan. Peranan siswa terhadap pemahaman, makna, dan proses belajar melalui kegiatan individu dan sosial. Teori ini mempunyai pemahaman yang lebih menekankan proses dari pada hasil.

Tonton Juga Puisi Mbah Mus: Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana

Menurut para penganutnya, orang yang berpikir secara aktif dapat menumbuhkan pengetahuan. Peserta didik dalam pembelajaran daring akan menyesuaikan pengalaman dengan informasi baru yang disampaikan oleh guru dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimilikinya melalui interaksi sosial untuk membangun pengetahuan baru. Siswa  mempunyai peran penting dalam belajar, sedangkan guru menempatkan diri secara fleksibel jika diperlukan siswa dalam proses memahami pembelajaran.  Guru memberi contoh dan model untuk siswa, dan juga membangun rasa ingin tahu siswa untuk mempelajari sesuatu baru dengan menyesuaikan keadaan. Maka dalam pembelajaran daring siswa juga dapat beradaptasi dengan cepat sesuai dengan arahan metode pembelajaran daring yang diberikan oleh guru.

Konklusi  

Pembelajaran daring pada masa pandemi mengharuskan semua yang terlibat dalam pembelajaran untuk bisa mengusai teknologi, dan dituntut untuk aktif, baik guru, siswa maupun orang tua. Media yang digunakan dalam pembelajaran daring diperlukan untuk meningkatkan kemajuan dalam pembelajaran. Pemilihan media pembelajaran teknologi berbasis internet dipertimbangkan dalam pembelajaran secara daring untuk menghindari ketidak tepatan yang akan berdampak buruk pada manfaat belajar. Bagi para pendidik bisa mengambil solusi alternatif untuk menghadapi masalah pembelajaran yang kurang kondusif di masa pandemi ini dengan menerapkan teori kontruktivisme. Pendidik dapat mengambil prinsip pertama yang mana belajar merupakan sebuah proses aktif mengkontruksikan belajar dari berbagai sumber, dengan prinsip ini pendidik dapat membangun metode pembelajaran dengan mengambil dari berbagai sumber yang dapat menjadikan pembelajaran bisa lebih aktif tidak hanya terpaku pada satu sumber yang bisa menyebabkan kejenuhan pada anak didik.

Pembelajaran daring pada masa pandemi di tingkat SMAN di Kabupaten Bantul menyebabkan ketidakoptimalan. Sebagian guru yang berada di posisi pegunungan maupun pelosok terhambat dengan kesulitan sinyal atau jaringan internet. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui proses dan dampaknya di SMAN di Kabupaten Bantul dalam situasi antisipasi penyebaran Covid-19 untuk dapat mengetahui dampak pandemi terhadap pendidikan, khususnya pengajaran saat ini sebagai akibat adanya pandemi Covid-19. Dari analisis penerapan teori konstruktivisme dalam pembelajaran secara daring, maka peneliti menyarankan salah satu model pembelajaran flipped classroom yang tepat sebagai alternatif pembelajaran di masa pandemi.

Baca Juga: Loker Dosen Tetap

Dari keseluruhan hasil penelitian, maka penulis memiliki beberapa saran sebagai alternatif pembelajaran daring pada masa pandemi sebagai berikut:

  1. Pembelajaran daring yang sedang diterapkan di SMAN Bantul dikembangkan lagi dengan menambah fasilitas media menggunakan google classroom.
  2. Mengatur dan mengelola waktu belajar yang baik, dibiasakan untuk mengerjakan tugas dengan segera. Pengajar juga bisa berperan dengan memberikan tenggangan waktu terhadap pengumpulan tugas agar siswa juga belajar tanggung jawab dan disiplin waktu.
  3. Menyarankan salah satu model pembelajaran flipped classroom merupakan pembelajaran campuran dimana siswa yang belajar di rumah kemudian diperdalam pelajarannya di kelas dengan bimbingan guru. Dari pemahaman siswa kemudian di diskusikan dan di presentasikan di kelas.
Penulis

Durrotul Iqomatin Ni’mah, lahir Malang, 17 Februari 2002. Ia tengah mengenyam pendidikan di Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah IIQ An Nur Yogyakarta. Selain sebagai mahasiswa, ia juga menjabat Koordinator Devisi Kajian DEMA Fakultas Tarbiyah dan anggota Korps Dakwah Mahasiswa.

Khusnun Failatun Najah, lahir di Demak, 07 Juni 2001. Sekarang, ia menempuh pendidikan di Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah IIQ An Nur. Ia menjabat sebagai wakil DEMA Fakultas Tarbiyah dan anggota Korps Dakwah Mahasiswa.

Muhammad Nur Aziz Saputra, Laki-laki ini lahir di Baturaja, 4 Oktober 2001. Kini, ia kuliah di Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah IIQ An Nur Yogyakarta. Selain itu, ia juga menjadi anggota Korps Dakwah Mahasiswa.

Daftar Bacaan

Cahyo, Agus N, 2013, Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual           Dan Terpopuler, Yogyakarta, Divapress.

Nurdyansyah, & Wahyuni, E 2016, Inovasi Model Pembelajaran Sesuai  Kurikulum 2013, Sidoarjo, Nizamia Learning Center.

Schunk, 2012, Learning Theories An Educational Perspective, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suharno, & Retnoningsih, A 2006, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Semarang: Widya Karya.

Supardan, Dadang, 2016, ‘Teori dan Praktik Pendekatan Konstruktivisme dalam       Pembelajaran’, Jurnal Edunomic, vol.4, no. 1, hh 1-12

Putri, R, Suyadi, & Siregar, V, 2021, ‘Implementasi Pembelajaran Tematik di   Sekolah Dasar Pada Masa Pandemi Covid-19 Ditinjau dari Teori        Konstruktivisme’, Journal of Integrated Elementary Education, vol.1,   no.1, hh. 1-17

Von Glassersfeld, E, 1987, The Construction of Knowledge: Contributions to    Conceptual Semantics, Seaside, CA, Intersystems Publications.

Wijoyo, H. 2021, Efektivitas Proses Pembelajaran di Masa Pandemi, Sumatera  Barat, Insan Cendekia Mandiri.

Makarim, Nadiem, Kemendikbud.go.id, Mendikbud Terbitkan SE tentang          Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Covid-19,         https://www.kemdikbud.go.id. Diakses pada 1 Oktober 2021.

Kasih, Ayunda Pininta, Kompas.com, Survei UNICEF: 66 Persen Siswa Mengaku Tak Nyaman Belajar di Rumah. https://edukasi.kompas.com. Diakses pada 7 Oktober 2021.

ejogja

Pusat Info Pendidikan

3 komentar pada “Dampak Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

005039