Pelajaran Berharga dari Membunuh Kucing

Oleh Daruz Armedian

Kucing tidak genap kakinya, tidak terawat matanya, tidak bersih bulu-bulunya, dan tidak merdu suaranya itu pada mulanya terbungkus dalam karung yang teronggok di depan pintu rumahku. Itu adalah peristiwa terburuk yang kulihat pagi hari itu.

Untuk siapa kucing ini?

Sebelum tahu soal itu, aku adalah orang paling bahagia di dunia. Bangun pagi dan menyingkap tirai di jendela dan melihat matahari pagi dan bunga-bunga di samping rumah. Semuanya baik-baik saja. Aku ke kamar mandi. Berak sebentar. Aku bahagia karena berakku lancar. Aku ke dapur dan mengambil air putih dari galon. Aku minum dan merasakan di perutku sebuah kenyamanan yang tiada tara.

Setelah minum air, aku ke ruang tamu. Aku duduk sebentar di sofa. Tetapi karena ada suara dari luar rumah, sepertinya ada seseorang tengah memanggil-manggil, aku menuju pintu. Dan beginilah akibatnya. Ketika pintu itu terbuka, aku tidak menemukan siapa-siapa. Di depanku hanya ada karung lusuh dan dari situ terdengar suara kucing (suara itu buruk sekali, serius, seperti bunyi biola yang berkarat). Aku celingukan, mencari siapa yang telah menaruhnya di depan pintu. Kenapa ia bisa menaruhnya di depan pintu, padahal gerbang rumahku terkunci? Apa si pengirim memanjat gerbang dan tidak ada orang tahu sehingga ia tidak diteriaki ‘maling, maling, maling!’.

Karena tidak menemukan siapa-siapa, aku memutuskan menendangnya. Jijik rasanya. Padahal aku sudah pakai sendal. Ketika kutendang, kucing dalam karung itu bersuara lebih kencang dan tentu saja makin lebih buruk kedengarannya. Aku tendang lagi karung itu. Kali ini lebih kencang ketimbang sebelumnya. Kucing di dalamnya makin keras berteriak. Aku yakin ia kesakitan. Maka, karena itulah aku membukanya. Aku mengambil gunting dan menggunting talinya tanpa menyentuh karung, tanpa menyentuhnya sedikit pun. Ingat, sedikit pun. Sebab, jika aku menyentuh karung itu, tanganku akan kotor dan itu akan merusak gaya hidup sehatku.

Jangan Lewatkan Baca Juga: Katakan yang Benar Walau…

Setelah karungnya terbuka, kucing itu keluar dengan perlahan. Dan… kau tahu kabarnya? Ia seperti kucing yang salah menjadi kucing. Maksudku, hampir tidak menyerupai kucing. Kucing itu tidak genap kakinya dan tidak terawat matanya dan tidak bersih bulu-bulunya dan tidak merdu suaranya.

Dengan matanya yang belekan dan terlihat menyedihkan, makhluk hidup itu memandangku. Wajahnya kusut, seperti menanggung beban penderitaan. Mungkin ia belum makan selama beberapa hari. Mungkin ia telah kehilangan ibunya. Mungkin ia adalah korban penyiksaan. Mungkin ia sedang mencari kitab suci dan tidak menemukannya sampai saat ini. Tetapi, mungkin juga tidak seperti itu.

Dan, tunggu dulu. Untuk siapa kucing ini? Apakah untukku? Lalu kalau benar, siapa pengirimnya? Untuk apa si pengirim itu mengirimkan kucing untukku?

Beberapa pertanyaan memenuhi kepalaku hingga membuatku memikirkannya sampai berjam-jam kemudian. Bahkan, aku masih memikirkannya ketika kucing itu sudah mati. Aku membunuhnya karena terlalu khawatir jika ia hidup lebih lama maka lebih lama pula penderitaannya. Aku membunuhnya dengan cara paling mudah. Yaitu mengambil batu lumayan besar dan menggencetnya dari atas. Darah yang keluar dari kucing itu tidak terlalu banyak. Ya, aku tahu, kucing yang tidak sehat selalu kekurangan darah. Setelah kematiannya, aku membuat liang berukuran mini. Kira-kira 15 cm persegi. Aku masukkan bangkainya dan menimbunnya dengan tanah.

Ternyata, setelah peristiwa itu, hidupku rasanya makin tidak normal saja. Ada sesuatu yang mengganggu kepalaku setiap waktu.

Misalnya pada suatu malam aku bermimpi diterkam kucing raksasa. Ia punya gigi yang runcing menyerupai drakula. Anehnya, meski diterkam, tubuhku tidak terluka, tidak ada sayatan dan tentu saja tidak ada darah menggenang. Aku hanya didera ketakutan.

Jangan Lewatkan Baca Juga: Rekomendasi untuk Para Santri

Ya, hari-hariku dipenuhi ketakutan demi ketakutan. Jika sedang makan, aku ingat kucing itu. Aku ingat perlakuanku. Aku ingat kucing yang menyedihkan itu. Aku ingat kekejamanku. Aku ingat kucing belekan itu. Aku ingat perlakuan kejamku yang menggencet kucing dengan batu. Aku ingat kucing yang tidak genap kakinya dan tidak terawat matanya dan tidak bersih bulu-bulunya dan tidak merdu suaranya itu. Aku ingat mimpi-mimpiku yang menyeramkan. Aku ingat karung lusuh dan suara-suara yang memanggilku. Ingat ketukan pada pintu. Ingat segalanya tentang bagaimana kucing itu kubunuh. Aku takut. Aku ingat. Aku takut sekali. Aku ingat kekejamanku berulang kali. Dan inilah masalahnya: ketakutan itu membuat kata-kataku menjadi berantakan.

Beberapa malam aku lalui dengan mimpi buruk. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya di sini. Terlalu banyak mimpi-mimpi buruk dalam tidurku. Sehingga, hal itu membuatku terus bertanya-tanya: untuk siapa kiriman berupa kucing itu?

Dan aku membenarkan: itu memang untukku. Untuk membuat hidupku jadi berantakan. Untuk membuat alur hidupku menjadi tidak kusukai lagi.

Kadang-kadang aku juga berpikir, siapa yang telah mengirimiku kucing yang menyebalkan ini? Atas alasan apa ia melakukan hal bodoh? Astaga. Dunia memang dipenuhi hal-hal yang aneh dan menyebalkan.

**

Tepat dua bulan setelah kematian kucing itu, aku melihat kiriman yang sama. Berupa karung lusuh dan di dalamnya terdapat kucing. Itu kutahu karena ada suaranya dari situ. Suara kucing yang sama dengan kucing sebelumnya. Hanya saja, sekarang kucingnya lebih banyak. Itu kutahu ketika kubuka karungnya dengan cara yang sama seperti dua bulan yang lalu. Kucing lagi, kucing lagi, pikirku. Sumpah, ujian macam apa lagi yang semesta timpakan padaku? Aku tidak habis pikir, dosa apa yang aku lakukan sebelum hal-hal buruk ini terjadi?

Jangan Lewatkan Baca Juga: Anugerah

Karung kutali lagi. Kuseret ia ke pekarangan belakang rumahku. Aku tidak lagi mengepruk kepala kucing-kucing itu seperti di dua bulan yang lalu. Aku langsung menggali tanah dan karung itu kumasukkan ke sana tanpa berpikir panjang. Terlalu cepat menurutku perlakuan jahatku itu, dan, ya, aku sudah mulai tidak menyesalinya. Meskipun, tentu saja, setelah membunuh kucing-kucing itu, malam-malamku tetap dipenuhi mimpi buruk dan bangun dari tidur aku selalu punya pikiran yang kacau.

**

Dua bulan kemudian, aku mendapati kiriman kucing-kucing lagi, di dalam karung yang lusuh lagi. Jumlah karungnya lebih banyak dan tentu saja isinya kucing-kucing yang lebih banyak lagi. Ini adalah kiriman yang ketiga kali dan aku mulai terbiasa menghadapi itu. Aku segera menyeret karung-karung itu ke pekarangan belakang rumah. Menggali tanah seperti biasanya dan mengubur kucing-kucing itu tanpa mengepruknya satu demi satu terlebih dahulu.

Setiap dua bulan sekali, kiriman berupa kucing-kucing tak terawat itu semakin bertambah dan karenanya aku semakin kewalahan. Aku memanggil orang lain untuk bekerja di rumahku. Ia kupanggil setiap dua bulan hanya untuk mengubur hidup-hidup kucing-kucing itu. Ia kubayar mahal (sangat mahal malahan, kira-kira dua kalilipat UMR kota ini) dengan syarat tidak perlu menanyakan kenapa kucing-kucing itu perlu dimusnahkan.

Hal ini kulakukan dengan sengaja karena aku menyadari setelah membunuh kucing-kucing kiriman yang entah dari siapa itu kekayaanku semakin bertambah saja. Uang-uang berdatangan entah lewat proyek-proyek atau dalam bentuk hadiah dari orang. Meski, ya, kuulangi lagi, setelah membunuh kucing-kucing itu tidurku dipenuhi mimpi buruk dan ketika terjaga, pikiranku kacau, dan perasaanku berantakan, seperti ada sesuatu yang mengganggu.    Tapi, ya, sudahlah. Kubuat santai saja.

Pernah Baca Sajak ini? Sajak-sajak Muhmmad  Ali Fakih

Pada akhirnya, ‘untuk siapa kucing ini?’ Ah, maksudku, ‘untuk siapa kucing-kucing ini?’ tidak pernah lagi kuucapkan, bahkan tidak pernah lagi kupikirkan. Aku hanya perlu membiasakan tidurku dengan mimpi-mimpi buruk, pikiran yang kacau, dan perasaan yang berantakan. Hal itu akan kusimpan sendiri dan tidak ada satu pun orang kuberi tahu. Aku hanya perlu menjalankan pola hidup yang sehat, minum air yang cukup, makan makanan yang disarankan oleh dokter. Aku hanya perlu memasang wajah bahagia di hadapan orang lain, mengatur diri supaya terlihat berwibawa dan terhormat. Aku hanya perlu orang lain tahu kalau aku baik-baik saja dengan seluruh harta kekayaanku. Aku hanya perlu orang lain menghargai pekerjaanku sebagai pejabat ini. Aku hanya perlu menyembunyikan tangan kotorku. Aku hanya perlu …

2018-2019

 

profi daruz armedian ejogja idDaruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya pernah di koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, Detik.com, Basabasi.co, dll. Buku kumpulan cerpennya yang kedua, bakal terbit tahun ini. Email: armediandaruz@gmail.com.

ejogja

Pusat Info Pendidikan

4 komentar pada “Pelajaran Berharga dari Membunuh Kucing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Visitors Today

006287