Bambu Berdarah

Oleh Arif Arbath

“Ah, sialan…” gumam Indu dengan sisa permen karet disudut bibirnya. Indu mengingat masa usia tanggungnya dulu, saat ia salah memilih bambu di tepi kali yang bukat. Mereka empat anak bocah yang ditemani sebentuk golok yang seakan-akan seperti hendak menetak apa saja yang ada dihadapannya, menuju ke sebuah rumah kosong terbengkalai yang mereka anggap taman bermain. Beralaskan kaki yang telanjang dan disambut senyum kecil mentari, Indu lantas mengagah-gagahkan diri selagi golok berada digenggamannya, bagaikan Jalal di kisah Jodha Akbar.

 

“Apa target kita hari ini?” tanya Enes dengan gaya yang biasa saja. Indu otomatis menoleh ke teman yang lain. “Bagaimana kalau kita mencari bambu?”

“Mau kita apakan bambu itu?” ucap Enes cepat sekali.

“Kita bakar nasi di dalam bambu, tampaknya enak,” potong seorang anak.

 

Mereka pun searah dengan rencana Indu untuk berburu bambu. Indu dan teman-temannya pun menuju ke warung kecil Mbok Minah untuk membeli seporsi nasi yang dibalut daun pisang sedikit menguning. Warung kecil yang hanya berjarak tiga kilometer dari tepi kali yang merupakan habitat dari segudang bambu.

 

“Mbok… simbok… tumbas,” kata Enes dengan suara keras.

“Sekejap le,” sahut Mbok Minah dengan nada suara yang sudah melemah.

 

Mengenakan ciput warna hijau kesukaannya yang melingkupi rambut berwarna putih dengan tubuh yang setengah membungkuk, Mbok Minah menghampiri Enes dengan sebuah pertanyaan.

 

“Mau beli apa?”

“Beli nasi sebungkus Mbokkk”

“Mau buat apa? Kalian berempat, kok cuma beli nasi sebungkus?” tanya Mbok Minah sembari membuka ceting yang ia tutup dengan daun pisang.

 

Enes tampak merasa bingung menjawab pertanyaan Mbok Minah sembari memutar badan sambil mengusap-usap kening.

 

“Anu… mbok, di-disuruh ibuk…. “ alasan Enes dengan tergagap-gagap.

“Oh, ya sudah, ini ambil saja tidak usah bayar, salam buat ibuk ya”.

“Baik Mbok, terima kasih banyak,” Enes lantas menghampiri teman-temannya dengan perasaan bersalah karena berbohong terhadap Mbok Minah.

 

Keempat Bocah itu lantas menarik langkah menuju ke tepi kali dengan perasaan senang bukan kepalang, sebab segala peralatan berburu bambu sudah siap ditangan. Selepas berlanglang selama lima menit, terdengar suara tarian jejeran bambu yang gemulai seakan-akan menyambut datangnya keempat bocah itu. Sesampainya mereka dihadapan bambu yang sangat padat, pandangan Indu langsung tertuju ke sebuah bambu yang sudah sangat tua berada di paling ujung tepi kali.

Tanpa berpikir lama. Anak-anak itu langsung menghampiri bambu yang seakan-akan memanggil.

 

“Sudah, kalian jangan dekat-dekat. Kejatuhan bambu pasti susah bangkitnya,” ucap Indu disusul tawa lebarnya.

 

Indu bergegas mengambil golok dibalik baju bola kebanggaannya.

Crakkk! bunyi bambu itu terbelah dua.

 

“Tenagamu kuat sekali Indu,” kata Enes.

“Gimana gak kuat, dia udah gak sabar melahap nasi bakar,” potong seorang anak yang disusul tawa yang lain.

“Ta-tapi kenapa air bambu ini keluarnya warna merah layaknya darah?” sahut Indu dengan nada gemetar.

 

Air berwarna merah itu terus mengucur dengan deras bagaikan darah segar yang keluar dari kulit yang disobek. Warna kental kemerahan dan bau amis yang menyengat sangat tidak menggambarkan air bambu melainkan seperti darah. Badan Indu bergetar sangat kencang, Indu sangat cemas, dan pandangannya begitu kosong. Kicau burung seketika sorak sorai tak ada habisnya.

Cahaya putih secara kilat tiba-tiba menghantam Indu, hantaman yang begitu keras layaknya seperti hantaman yang murka. Indu pun tergeletak tak sadarkan diri.

Melihat itu, Enes langsung bergegas lari meminta pertolongan kepada Mbok Minah ditemani dua bocah lainnya.

 

“Mbok, Mbok… Indu..” ucap Enes dengan gemetar seakan-akan memohon pertolongan.

“Kenapa? Kenapa Indu?”

“Indu tak sadarkan diri Mbok di tepi kali”

“Aduh Gusti….”, jawab Mbok Minah dengan perasaan cemas.

 

Mbok Minah lantas berlari begitu kencang hingga melupakan pembeli di warungnya. Sepasang kaki yang beralaskan bakiak kuno seperti memberikan tenaga lebih kepada tulang kakinya yang sepuh. Tak lama, Mbok Minah yang diuntit tiga bocah dengan perasaan takut, tiba di tepi kali dengan suasana yang gamang. Indu dengan tatapannya yang tajam, seketika ia berteriak hingga kebagian atas paru-parunya. Menjatuhkan golok dan memegang jemarinya dengan sangat gemulai layaknya perempuan berparas cantik. Cahaya putih tadi tampaknya bukan hanya menghantam Indu, namun juga merasukinya.

 

“Mengapa rumahku kalian rusak?” ucap Indu yang berubah suaranya menjadi suara perempuan.

Mendengar suara itu, Mbok Minah tersentak sembari berkata, “Dia kembali!”

 

Mbok Minah lantas mengeluarkan secarik kertas putih kuno bertuliskan lafadz arab gundul dari saku kebaya berbahan tipis dengan corak bunga-bunga yang biasa ia kenakan. Mbok Minah membaca lafadz itu dengan bibir yang hampir tak terbuka, suaranya pun begitu lirih layaknya pendosa yang sedang berdoa. Mereka bergelut. Enes dan dua bocah lainnya disuguhkan tontonan pergelutan batin yang ketat. Burung-burung serentak bergerombol beterbangan di udara, seakan-akan mengintimidasi siapapun yang melihatnya.

 

“Pergi! carilah bambu-bambu lain yang kau anggap rumah itu ke tempat lain! atau kau akan kubuat sakit yang sangat amat perih,” teriak amarah Mbok Minah.

 

Indu pun berteriak dan memberontak sejadi-jadinya. Disusul suara tangis yang mulai mengaung dengan keras seperti menusuk indra pendengaran bagi yang mendengarnya. Diikuti cahaya putih yang keluar dan berlarian tak karuan dari tubuh Indu . Keadaan yang mengerikan seperti mimpi buruk menggambarkan kejadian itu. Indu lagi-lagi tergeletak, tubuhnya yang kecil tak kuasa menerima kekuatan energi yang sangat dahsyat dari cahaya yang merasukinya.

Tak lama lantas Indu pun tersadar, tak ada lagi sisa-sisa teriakan dan erangan seperti tadi. Hanya saja bahu yang masih gemetar, dan debu-debu yang menempel di baju bola yang tersisa di tubuh Indu.

 

“Siapa tadi yang masuk keragaku Mbok?” tanya Indu. Seorang bocah yang tak tahu seperti apa kejadian tadi.

“Tidak, bukan siapa-siapa le,” ucap Mbok Minah seraya membetulkan ciputnya yang sedikit miring.

“Kenapa Mbok Minah jadi irit sekali berbicara,” potong seorang anak sambil berbisik.

“Entah, Mbok Minah terlihat lelah sekali,” ujar Enes.

“Sudah, lain kali kalau datang ke tempat yang baru, kita harus sopan dan jangan berbuat sembarangan ya le. Cepat kemasi barang kalian! lihat, awan sudah lindap, nanti keburu turun hujan,” ucap Mbok Minah dengan sehelai rambut putihnya yang keluar dari ciput diterpa angin.

 

Mbok Minah dengan empat bocah itu lantas menarik langkah mereka untuk segera berbalik pulang. Bibir Mbok Minah terangkat dengan senyum tipis, lega karena pertarungan tadi berakhir dan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.

Kejadian itu, mustahil terabai diingatan Indu. “Ah, Bajingan… setiap kali melihat bambu, kejadian tak menyenangkan itu pasti teringat. Tapi tak apa, setidaknya tubuhku pernah bersetubuh dengan wanita cantik”.

 

Arif Arbath, lahir di Sleman, Yogyakarta. Kini Mahasiswa aktif di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

ejogja

Pusat Info Pendidikan Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *